TribunPontianak/

Harga Beli Bulog Rendah, Warga Sebawi Ini Bandingkan Saat Jual ke Pengepul

Kalau harganya Rp 4.500 per kilonya, tentu kami akan sangat senang sekali menjual ke Bulog.

Harga Beli Bulog Rendah, Warga Sebawi Ini Bandingkan Saat Jual ke Pengepul
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/RAYMOND KARSUWADI
Ilustrasi. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Tito Ramadhani

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS - Petani padi dari Kecamatan Sebawi, Eli, berharap adanya zonasi Harga Pokok Pembelian (HPP) terhadap gabah.

Menurutnya, selama ini para petani enggan menjual gabah hasil pertanian mereka ke Bulog, karena HPP yang ditetapkan jauh dari harga yang layak.

"Harganya terlalu murah, sementara biaya produksi kami tinggi. Kalaupun dibawa kesana juga belum tentu dibeli dengan harga yang Rp 3700 itu. Kalau kualitasnya tidak sesuai harapan Bulog, maka harganya akan lebih murah lagi," ungkapnya, Jumat (10/11/2017).

(Baca: Kenapa Listrik di Desa Kapur Sering Padam? Harusnya Beri Pelayanan Terbaik untuk Masyarakat )

Untuk itu, Eli mendukung jika memang adanya zonasi HPP dari pemerintah.

Dengan harapan, Bulog bisa membeli gabah para petani dengan harga yang lebih pantas.

"Kalau harganya Rp 4.500 per kilonya, tentu kami akan sangat senang sekali menjual ke Bulog. Seumpama kualitasnya kurang memenuhikan bisa dibeli dengan harga yang tidak terlalu murahlah," harapnya.

(Baca: VIDEO - Kocak! Niat Membobol Pagar untuk Merampok, Pria Ini Langsung Kena Hukuman )

Lantaran murahnya harga beli Bulog, Eli dan petani lain akhirnya menjual gabah kepada para pengepul yang berani membeli dengan harga di atas HPP Bulog.

"Jadi jualnya ke pengepul, harganya sekitar Rp 4000, enaknya kami tidak perlu mengantar gabah, tapi mereka yang mengambilnya," katanya.

(Baca: Model Classic Spanyol hingga Modern Glamour di Gorden Rezeki, Harganya Kompetitif Lho )

"Kalau jual ke Bulog, kita yang mengantarkannya. Tetapi mereka tidak bisa membeli semuanya, karena terbatas juga, petani lainnya kan harus dibeli juga gabahnya oleh pengepul," sambungnya.

Penulis: Tito Ramadhani
Editor: Nasaruddin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help