Pentas Seni untuk Kemanusiaan, Alfia Bangga Bawakan Tari yang Digarap Sendiri
Prodi Pendidikan Seni Tari dan Musik Universitas Tanjungpura mengadakan acara pentas seni bertajuk Save Rohingya di
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Claudia Liberani
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Prodi Pendidikan Seni Tari dan Musik Universitas Tanjungpura mengadakan acara pentas seni bertajuk Save Rohingya di Auditorium Untan, Rabu (4/10/2017) malam.
Acara ini digagas sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap konflik kemanusiaan di Rohingya.
Dengan tiket masuk Rp 15.000 pentas seni ini dihadiri banyak kaum muda.
Acara ini menghadirkan duo Manjakani, Balaan Tumaan, Coffternoon, ikanmas dan Bujang's Project.
Pentas seni berlangsung meriah, dengan lighting yang sudah diatur apik.
Satu di antara pengisi acara adalah IKANMAS (Ikatan Mahasiswa Seni FKIP Untan) mereka tampil membawakan sebuah tarian yang berjudul Gerring.
Tarian ini dibawakan oleh 5 gadis, dengan tempo gerakan yang cepat.
(Baca: Save Rohingya Pentas Seni untuk Kemanusiaan Prodi Seni Musik dan Tari FKIP Untan )
"Gerring artinya gerhana bulan, saya bawa dari tradisi suku saya," terang Alfia Nur Wistaniah, koreogeafer tari Gerring.
Dia menjelaskan tarian Gerring yang berkisah tentang mitos ketika gerhana bulan para gadis harus mandi kembang dan wanita hamil dilarang keluar karena takut kulit anaknya jadi belang.

Gerakan-gerakan yang dia buat menjelaskan tentang mitos itu. Dia mengolaborasikan beberapa gerakan seperti gerakan dasar pada tari jepin dan gerak langkah.
Dia mengaku menggarap gerakan tarian itu sendiri, dibimbing oleh dosen-dosennya di kampus.
(Baca: Ekspor Karet Anjlok, Masyarakat Harus Tahu Ini Faktor Penyebabnya )
Gadis berkerudung yang duduk di semester 5 ini mengaku senang dan bangga bisa menampilkan tariannya di hadapan orang banyak malam ini, terlebih tariannya ditampilkan pada acara kemanusiaan.