• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 1 Oktober 2014
Tribun Pontianak

Ribuan Umat Katolik Putussibau Hadiri Misa Perdana

Sabtu, 11 Mei 2013 17:18 WIB
Ribuan Umat Katolik Putussibau Hadiri Misa Perdana
Istimewa
Misa Perdana di Gereja Santa Perawan Maria Tak Bernoda Putussibau
Citizen Reporter 
Bambang Bider | Warga Kalbar 

AWAN hitam masih menggelayut di atas kubah bergaya gothic Gereja Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda (HSPMTB) Putussibau pada pagi 10 Mei 2013. Bahkan menjelang siang, hujan ringan masih terjadi dan dikhawatirkan hujan akan semakin deras.  

Banjir kiriman dari perhuluan sungai yang mulai terjadi sehari sebelumnya membuat masyarakat khawatir, jika hujan deras terjadi maka  sungai Kapuas akan meluap maka banjir akan semakin meluas.

Banjir bagi masyarakat di Ibu Kota Kabupaten Kapuas Hulu ini memang langganan dan bahkan difahami sebagai bagian dari siklus alam yang rutin di daerah tersebut, namun kali ini bagi Panitia Peresmian dan Pemberkatan Gereja Paroki HSPMTB Putussibau, kondisi alam tersebut sangat menghawatirkan.

Kekhawatiran terhadap banjir kali ini, memang sangat beralasan, mengingat pada hari itu akan dilakukan peresmian dan pemberkatan gereja baru tersebut oleh Gubernur Kalimantan Barat  Drs Cornelis MH dan Uskup Sintan Mgr Agustinus Agus Pr. Jika banjir yang menggenangi Kota Putussibau  semakin meluas maka dipastikan dapat menganggu kegiatan acara peresmian dan pemberkatan  gereja.

Sehari sebelumnya tempat kegiatan  acara peresmian yang berada di Jalan A Yani, Putussibau itu, sempat tergenang banjir,  terutama pada daerah gerbang masuk gereja. Bahkan air yang menggenangi tempat tersebut diperkirakan mencapai setengah meter. Namun, sejak pagi hingga menjelang acara peresmian dan pemberkatan yang dimulai pada pukul 14.00 WIB, kondisi cuaca sepertinya semakin bersahabat dengan semakin surutnya banjir,  terutama di tempat diselenggarakannya acara. 

Jantau, Ketua Panitia Peresmian dan Pemberkatan Gereja Paroki HSPMTB  Putussibau saat dihubungi melalui telepon mengungkapan kesiapan pelaksanaan acara peresmian dan pemberkatan gereja, 

"Walau pun Kota Putussibau sempat dilanda banjir, termasuk di kawasan Jalan A Yani tempat berdirinya gereja, kondisi cuaca semakin membaik, jadi kegiatan peresmian berjalan lancar," kata Jantau. 

Bahkan dalam pidato sambutannya pada saat peresmian, Uskup Sintang Mgr Agustinus  Agus Pr, mengungkapkan kekhawatiran para panitia penyelenggara atas kondisi cuaca yang kurang bersahabat tersebut, namun Uskup Agus yakin kondisi akan semakin membaik.

"Panitia khawatir, saya bilang, kalau hari ini ya hari ini, besok yang besok. Tuhan tidak akan memberikan sesuatu yang jelek pada orang yang baik, bahkan kepada orang yang tidak baik pun Tuhan memberikan sesuatu yang baik dan setelah saya bangun pagi pada hari pemberkatan, ternyata air sudah surut, jadi tidak perlu pawang, kita orang Katolik tidak perlu pakai pawang karena saya sudah meminta para suster, pastor, dan umat mendoakan agar cuaca semakin baik,"  ungkap Uskup Agus yang menegaskan agar dalam kegiatan-kegiatan tersebut jangan sampai dicampuri dengan hal yang justru bertentangan dengan Iman Katolik. 

Masyarakat Kabuapten Kapuas Hulu khususnya Putussibau sangat bangga dengan telah selesai dan diresmikannya pembangunan Gereja Paroki HSPMTB  Putussibau tersebut. Gereja Paroki HSPMTB Putussibau,  dapat dikatakan sebagai  sebuah ikon baru atau landmark di Bumi Uncak Kapuas, hal ini bisa dinilai sebagai sebuah indikator kebangunan rohani. 

Dalam sambutan peresmiannya Cornelis menyerukan perlunya meningkatkan sikap tolerensi antaragama. Cornelis juga mengharapkan dengan hadirnya gereja baru tersebut, umat semakin mampu membangun sikap toleransi dan memanfaatkan gereja tersebut sebagai sarana pengembangan umat Katolik di Kapuas Hulu secara umum.. 

Cornelis  menegaskan, "Gereja tersebut jangan hanya simbol semata, jadi harus dimanfaatkan sebaik mungkin baik sebagai sarana ibadah, dan kegiatan pengembangan umat Katolik di Putussibau umumnya," tegas Cornelis.

Pada aspek lain, diakui oleh Bupati Kapuas Hulu secara eksplisit bahwa bangunan gereja bergaya gothic tersebut sebagai sebuah khasanah dalam pengayaan budaya setempat. Bentuk bangunan dengan pilar-pilar  yang kokoh dan kesan agung membuat gereja baru tersebu, benar-benar menonjol.

Dalam sambutanya pada saat peresmian, Bupati Kapuas Hulu mengungkapkan, dimana selama proses pembangunan gereja, ia telah memberikan perhatian khusus dengan intensitas kunjungan yang konsisten dan menyadari betapa penting kehadiran gereja baru tersebut dalam aspek pembangunan rohani masyarakat Kabupaten Kapuas Hulu.

Ribuan umat Katolik Putussibau hadir dalam misa perdana
pada pagi Sabtu 11 Mei 2013, hari kedua masih dalam rangkaian peresmian dan pemberkatan gereja, langit di atas Kota Putussibau berwarna biru cerah walau sedikit berawan. 

Hadir ribuan Umat Katolik dari hampir seluruh paroki di Kabupaten Kapuas Hulu dalam acara misa perdana konselebrasi yang dipimpin oleh Uskup Sintang Mgr. Agustinus Agus, Pr.

Dalam misa tersebut Uskup Agus kembali mengatakan, "Gedung gereja yang megah ini harus benar-benar difungsikan, jangan hanya penuh seperti saat misa perdana ini saja, selanjutnya, gedung gereja yang megah ini lalu menjadi kosong,"  katanya.

Jantau, Ketua Panitia Pelaksana Pemberkatan dan Peresmian Gereja mengungkapkan sekitar 3.000 orang hadir pada misa perdana . Umat yang hadir tidak hanya dari Putussibau, tetapi banyak juga yang datang dari Pontianak, Jakarta dan daerah lainnya, mereka umumnya berasal dari Kapuas Hulu, namun telah berdomisili di tempat lain.

Dari pengamatan langsung pada saat misa berlangsung tanggal, 11 Mei, bagian selasar, balkon depan di bawah kubah dan bahkan dua tenda berkapasitas ratusan orang di halam gereja, penuh terisi.  

Paroki  HSPMTB Putussibau merupakan paroki yang terletak di Ibu Kota Kabupaten Kapuas Hulu yang didirikan pada tahun 1940 oleh para Missionaris Serikat Maria Monfortan (SMM) di Indonesia dan merupakan paroki pertama yang dibangun oleh Misionaris SMM di Kalimantan. 

Saat ini, jumlah Umat Paroki HSPMTB berjumlah kurang lebih 9.000 jiwa yang tersebar dalam 6 (enam) Kring/Lingkungan dalam Kota Putussibau dan 9 (Sembilan) Stasi yang tersebar di Kecamatan Putussibau Utara dan Putussibau Selatan. 

Sejak tahun 1956 Umat Katolik Paroki HSPMTB Putussibau memiliki gereja yang terletak di tengah kota Putussibau di atas lahan seluas kurang lebih 3 Ha. Usia gereja tersebut sudah lebih dari 57 Tahun, kondisi fisik bangunan sudah banyak yang rapuh, baik pada pondasi, rangka maupun atap bangunan. 

Selain sudah tua, bangunan gereja 20 x 40 m2 dengan daya tampung kurang lebih 700 orang dirasakan sudah tidak memadai  jika dibandingkan dengan perkembangan umat yang dari tahun ke tahun semakin meningkat. Kondisi ini sangat terasa khususnya pada hari - hari besar keagamaan umat Katolik di Putussibau.

Memperhatikan kondisi tersebut di atas, pada tahun 2008 Dewan Pastoral Paroki HSPMTB Putussibau memutuskan untuk membangun gedung gereja yang letaknya tidak jauh dari bangunan gereja lama. Luas bangunan gereja baru 25 x 50 m2. 

Pembangunan fisik yang ditandai dengan peletakan batu pertama dilakukan oleh Gubernur Kalimantan Barat Drs. Cornelis, MH., pada tanggal, 4 April 2009, hingga selesai pembangunan fisik  tahun 2013, gereja tersebut telah menelan biaya sekitar Rp 8 milliar.

Dana pembangunan gereja diperoleh selain dari upaya swadaya umat melalui paroki setempat, diperoleh pula dari donasi dan anggaran Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu dan Provinsi Kalimantan Barat
Penulis: Stefanus Akim
Editor: Jamadin
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
112974 articles 10 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas