Style Blitz
Agnes Gemari Sup Daging Tupai
Awalnya saya tidak makan-makanan itu. Karena orangtua saya pun tidak suka, apalagi dengan ular, tupai, dan labi-labi
Wanita bernama Agnes inilah yang gemar berburu kuliner ekstrem. Ia sering penasaran dengan berbagai menu aneh dari berbagai daerah yang dikunjunginya. Dari tupai, ular, serta labi- labi. Semua dilahapnya!
Wanita berumur 20 tahun ini, mengaku terbiasa menyantap kuliner ekstrim semenjak menikah pada Tahun 2010. Kuliner ekstrim ini kerap disantapnya hingga tiga kali dalam sepekan.
"Awalnya saya tidak makan-makanan itu. Karena orangtua saya pun tidak suka, apalagi dengan ular, tupai, dan labi-labi," ujar wanita pemilik minimarket ini.
"Malahan dulu Papa bilang, kalau kamu mau makan itu jangan di bawa ke rumah. Jadi kalau saya mau makan, ya di rumah suami atau di rumah makan yang menyediakan ini," tutur wanita kelahiran 8 Juli 1993 ini.
Tak tangung-tanggung, sekali menyantap kuliner ekstrem ini, Agnes menghabiskan setidaknya ratusan ribu rupiah. Dari kesekian jenis menu ekstrem, ia lebih gemar sup daging tupai.
"Badan terasa lebih sehat kalau sudah habis makan ini. Badan terasa lebih hangat, aliran darah semakin lancar," tutur anak pertama dari dua bersaudara ini.
"Kadang juga, kalau di rumah suami, sering makan seperti itu. Kami kan ada lahan sawit, jadi mertua sering berburu di sana. Atau bahkan kadang pergi kehutan berburu. Kadang kalau dalam satu pekan aja tidak mengkonsumsinya, perasaan gimana gitu," pungkasnya.
Jenis Saksang
Presly, mahasiswa semester akhir Fakultas Kedoktoran Universitas Tanjungpura Pontianak, juga menggemari kuliner ekstrem. "Saya dalam sepekan, pasti tetap makan ini. Karena dari bumbunya pedas berkhasiat bagi tubuh saya," ujar mahasiswa jurusan Pendidikan Dokter ini.
Pemuda berdarah Batak ini mengaku terbiasa makan makanan ekstrem dari jenis Saksang, yaitu makanan khas batak. "Bumbunya terasa sekali kalau dimakan, tidak seperti sop. Yang pasti karena sudah terbiasa dari kecil," tutur pria kelahiran Ngabang 28 Oktober 1991 ini.
Ia mengaku sangat menggemari, kalong rica-rica, babi rica-rica, bahkan tupai rica-rica. Dalam sepekan ia bisa tiga kali datang ke RM Manado, di Jl Pak Kasih. Bahkan ia mengaku setelah menyantap makanan ekstrim, staminanya jadi prima.
"Rasanya setelah makan itu badan saya terasa lebih segar, apa lagi masakannya lebih dibuat pedas," ujar anak pertama dari dua bersaudara ini.
"Saya tidak hobi makanan seperti biawak ular, tapi untuk jenis yang tadi, itu menjadi makanan utama saya kalau sudah datang ke sini. Bahkan kalau tidak mengkonsumsinya, entah gimana bilang nya ya? Yang pasti ada yang kurang aja perasaan. Mungkin bumbu masakan dan khasiat yang saya rasakan yang buat lidah pengen makan ngulangi lagi," ceritanya.
Untuk sekali makan, biasanya Presly menghabiskan sekitar Rp 50-70 ribu perporsi dan untuk sendiri, terkadang, ratusan ribu juga habis saat makan bersama saudara dan kawan-kawannya. "Dari sekian banyak RM Makan Manado di Pontianak ini, ntah kenapa, lidah saya sudah cocok makan ini," jelasnya.