Style Blitz

Hilman Trisnawan Mulai Baca Buku Dari Pengantar

Dia nyaris tak melewatkan bacaan tanpa lebih dahulu membaca kata pengantar dan pendahuluan buku.

Tayang:
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Menyiasati waktu lowong yang sempit untuk membaca, kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kalimantan Barat Hilman Tisnawan memiliki trik agar cepat menyelesaikan bacaan.

Dia nyaris tak melewatkan bacaan tanpa lebih dahulu membaca kata pengantar dan pendahuluan buku. Sebab, katanya, kata pengantar maupun pendahuluan merupakan kunci atau point of view dari isi buku.

"Dua puluh lima persen isi buku itu terepresentasi dari kata pengantar. Jadi saya tak perlu menghabiskan seluruh isi buku dengan speed reading. Karena boleh jadi saya akan lupa sama sekali isi buku, lantaran target mengkhatamkan satu buku. Selain itu kualitas sebuah buku ditentukan dari kata pengantar dan pendahuluan, "jelasnya.

Bagi Hilman, membaca buku ada seninya agar apa yang sudah dibaca tak hilang begitu saja. Namun, tidak membaca isi keseluruhan buku juga bukan patokan utama dalam membaca. Untuk sub-sub judul yang mengharuskan Hilman untuk detail membacanya, maka akan dia baca.

Apalagi bila isi buku itu menarik dan mengundang penasaran, maka Hilman akan terus menyelesaikannya. Bila berhenti, Hilman merasa ada yang janggal dan tidak plong lantaran meninggalkan bacaan yang merangsang keingintahuannya sesegera mungkin.

Tatkala sedang sibuk bekerja, Hilman memilih bacaan-bacaan ringan untuk mengisi kebutuhan membacanya. Bukan hanya membaca buku, Hilman juga memenuhi kebutuhan membaca melalui internet.

Kebutuhan untuk memperluas wawasan melalui membaca, juga disadari Wali Kota Pontianak, Sutarmidji yang masih menjadi dosen di Universitas Panca Bhakti. Di sana Sutarmidji mengajar hukum otonomi daerah, tehnik pembuatan undang-undang dan materi lain yang bercorak hukum.

"Kalau tidak intens membaca, bagaimana mungkin saya dapat mengajar. Maka untuk hal-hal yang kadang dan terus berubah, saya harus mengikuti perkembangan literatur itu," jelasnya.

Kendati background pendidikannya hukum, sebagai wali kota dia menuntut Sutarmidji mengetahui pengetahuan di luar hukum. Sebab, tugas sebagai walikota tidak cuma berkutat pada ranah hukum.

"Untuk hal-hal yang berkaitan dengan teknik, misal perihal beton, saya harus tahu agar dapat berkomunikasi baik dengan staf saya. Begitu juga saat saya harus berhadapan dengan anak-anak, saya harus menguasai literatur tentang psikologi anak," ungkapnya.(ful/Tribun Pontianak cetak)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved