• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 24 Oktober 2014
Tribun Pontianak

Belajar Ukur Kaca Hingga ke Jawa

Selasa, 1 Mei 2012 08:18 WIB
Belajar Ukur Kaca Hingga ke Jawa
TRIBUN PONTIANAK/ KEN ARNOLY
KACA UKIR - Abang Adi Dharma berdiri di depan rumahnya yang terpasang kaca ukir, Senin (30/4/2012)
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Abang Adi Dharma (38), bekerja sebagai wirausaha bergerak di bidang properti tertarik seni mengukir kaca sejak 1990. Saking penasaran Adi rela merantau ke Bandung dan Jakarta untuk mengetahui langsung di tempat pembuatannya.

"Karena pada tahun 1990-an di Pontianak belum ada seni kaca ukir," katanya.

Adi mengatakan, suatu nilai seni tidak bisa diukur dan dihargai. Namun karena kebutuhan yang mungkin menjadi latar belakang seseorang untuk menjual belikannya. "Tadi kalau kita bahas masalah harga untuk keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk pasang kaca berukir dengan bingkai jendela berbahan alumunium mengahabiskan sekitar Rp 40 jutaan," tuturnya.

"Karena yang ada di rumah rata-rata ini berjenis kaca treeple kuningan dibalut dengan kusen alumuniun. Per meternya dulu pada tahun 2008 sekitar Rp 2,8 juta, dan kaca yang berjenis treeple patri timah Rp 2,1 juta. Ditambah lagi bingkai kusen yang per meternya saya beli Rp 65 ribu," jelasnya.

Adi menambahkan, kadang kala melihat harga yang sangat tinggi, apalagi hanya sebuah kaca. Kebanyak orang menganggap ini suatu pemborosan. Namun kalau orang yang bisa menghargai sebuah nilai seni, pasti masalah harga tidak terlalu jadi masalah bagi pecinta seni.

"Karena seni ini bukan bahas masalah harga, melainkan kepuasan batin yang didapat saat kita bisa mewujudkannya," tandasnya.

Ditambahkan sekarang berbeda dengan dulu. Penggunaan kaca hias ini pun tak sebatas gedung-gedung tua tapi juga masuk ke rumah-rumah. Pengunaan kaca hias bahkan menjadi simbol prestise bagi pemilik rumah. Apalagi, seiring berkembangnya zaman, kaca kaca ukir tiga dimensi semakin variatif dan inovatif.

"Dalam bentuk lain ada yang berupa kaca ukir tiga dimensi dibalut dengan pewarna maupun tanpa warna. Sandblasting adalah bentuk ukir kaca tanpa dimensi,"imbuhnya.

"Makanya, bila dulu hanya terpasang di jendela dan pintu, kini kaca hias ini bisa dipasang sebagai pembatas ruangan, pembatas tangga bahkan kubah. Pemasangan kaca hias tak lagi mengenal bentuk bangunan dan kegiatan di dalamnya. Makanya, tak sedikit hotel, kafe, rumah sakit bahkan masjid juga ikut menggunakan kaca hias ini," kata Adi. (ken/Tribun Pontianak cetak)
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
15982 articles 10 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas