Style Blitz Tribun
Denia Senang Gaya Smart Casual
Baginya kepuasan memiliki baju-baju tersebut tidak bisa dinilai dengan uang.
Seperti Martina Beltra, mulai membeli busana buatan desainer sejak tahun 2002 saat itu anaknya, Ela Beltra (20) yang hobi modelling hendak mengikuti lomba. Tina, panggilan akrabnya, memilih
koleksi busana buatan desainer Napoleon Endang atau yang biasa disapa Leon, demi mendapatkan kepuasan yang di jauh berbeda dibanding pakaian siap pakai. Meskipun untuk satu baju, Tina harus merogoh kocek sekitar Rp 1 juta dan menunggu sekitar sepekan bahkan lebih.
Baginya kepuasan memiliki baju-baju tersebut tidak bisa dinilai dengan uang.
"Ada juga baju saya beli di butik, namun semuanya tetap harus dirombak habis. Kalau beli di butik, kadang bajunya kebesaran atau kekecilan," katanya, Kamis (5/4/2012). Koleksi pertama busana karya desainer yang dibelinya untuk dikenakan sendiri seharga Rp 3,5 juta.
Dia bangga ketika anaknya mendapat pujian dari para juri di Kalimantan Timur, ketika mengenakan baju buatan desainer. "Saat anak saya selesai menjawab pertanyaan, dan akan turun dari catwalk, juri langsung memanggil anak saya dan bilang baju kamu bagus, di mana belinya?" tutur Tina.
Dengan perancang terbaik yang ada di Kalbar, Tina mengatakan bahwa menggunakan baju rancangan Leon ini karena ingin anaknya yang terbaik dari segi fashion, sekalian bisa mempromosikan fashion khas Kalbar, juga memperoleh hasil yang sangat di inginkannya, "di mana mau mencari perancang yang lebih bagus lagi, yang bisa menyesuaikan dengan warna kulit, wajah, dan karakter anak," imbuhnya.
Penggemar fashion lainnya, Kurnia Abdussamad atau yang akrab disapa Denia, memilih busana karya desainer Kalbar, demi kepuasan hati. "Memakai busana yang dirancang desainer, memberi saya kepuasaan maksimal. Sebab terbuka waktu untuk fitting, agar pakaian terasa pas dan cocok saat dikenakan," ujarnya kepada Tribunpontianak.co.id, Jumat (6/4/2012).
Denia yang pernah menjadi Miss Indonesia perwakilan Kalimantan Barat 2006, memercayakan desain pakaian bertema smart casual pada kehebatan insting fashion sentuhan Uke Tugimin. Lewat imaji Uke, busana smart casual bertenun ikat Sintang yang dikombinasikan dengan bahan sentung dan kombinasi belt, membuat Denia lebih percaya diri saat mengenakannya.
"Corak atau motif daerah Kalbar itu warnanya alami. Melalui desainer Uke Tugimin, busana menguat kesan etnik namun sekaligus modern. Saya puas memakainya," papar dia.
Denia yang menjabat sebagai Direktur Utama PT Sekar Panutan di bidang Fashion Industry and Direct Sales Marketing Company, bangga dengan busana hasil rancangan desainer. Tiap acara formal dihadirinya dengan busana smart casual seperti blus, dress racikan langsung tangan desainer.
"Nilai plus memakai busana rancangan desainer adalah kesan uniknya. Sebab, tiap desainer mempunyai keunikan busana tersendiri. Selain itu, busana itu tentu tidak pasaran. Malah fashionable dan modernis," ujarnya.
Denia yang pernah menjadi Miss Tourism pada 2005 itu tak mudah goyah pada perubahan tren busana. Dia sebetulnya melakukan proses pencarian karakter dan style berbusana sesuai jiwanya.
"Saya tidak latah dan labil dengan perubahan fashion. Tatkala saya berbusana, saya mengenakan busana yang sesuai dengan karakter dan style saya," ungkapnya.
Denia mengaku menyukai corak busana yang cerah. Sebab, katanya, cocok dengan kulitnya yang putih. Bahan yang nyaman juga menjadi pertimbangannya dalam berbusana.
Rasa kecewa hampir tak pernah dialaminya selama memakai busana rancangan desainer. Hal itu lantaran kesempatan fitting atau pengepasan busana terbuka luas agar tiap detail busana, pas dan cocok. Berbeda dengan membeli busana jadi di pasar. Saat mencoba tampak pas, tak lama dipakai kadang timbul kerutan atau jahitan yang rusak.
"Dengan fitting, busana benar-benar pas di badan, tidak besar atau kekecilan dan potongan baju serta jahitannya bagus," tuturnya.