Style Blitz
Gusti Arman Andalkan Sungkui
Dikalangan Keraton Surya Negara Sanggau, Sungkui merupakan menu wajib. Hampir setiap tamu keraton yang datang disajikan makanan menggugah selera ini
Penulis: Haryanto |
Setelah diolah jadi makanan, bentuknya tetap sederhana, lonjong, tipis, dan memanjang. Namun, di balik kesederhanaanya itu, makanan ini punya keistimewaan dengan bau harum yang khas. Dengan kekhasannya itulah, pemesannya bukan hanya dari kalangan biasa-biasa saja. Namun, menu Sungkui sudah menjadi langganan baik para pejabat maupun pengusaha saat perayaan hari raya atau perayaan lainnya.
Dikalangan Keraton Surya Negara Sanggau, Sungkui merupakan menu wajib. Hampir setiap tamu keraton yang datang disajikan makanan menggugah selera ini.
"Apalagi saat Idul Fitri atau Idul Adha, ini jadi menu wajib. Kalau belum ada ini, rasanya belum sah lebarannya," ujar Pangeran Ratu Surya Negara, Drs Gusti Arman.
Menurutnya, Sungkui bukan hanya makanan tradisional biasa. Namun ini menu andalan untuk disajikan pada tamu terhormat atau pun pejabat.
Aryadi (45), pengusaha katering makanan di Gg Silok, Jl Nenas Kelurahan, Tanjung Sekayam, mengatakan dirinya punya langganan tetap dari kalangan pejabat dan pengusaha untuk Sungkui ini.
Setiap hari raya, baik itu Natal maupun Imlek, dia selalu mendapatkan pesanan untuk menu open house. "Bahkan, kalau lebaran itu biasa saya menghabiskan lima karung besar yang 20 kg untuk membuat Sungkui ini. Dan itu biasanya pasti habis," ceritanya.
Tak hanya di Sanggau, Yadi juga biasanya mendapatkan pesanan dari Pontianak. Pesanan itu diterimanya, ketika ada acara pernikahan pejabat Sanggau, yang ingin menyajikan menu khas Sanggau di acara pernikahannya.
"Waktu itu acaranya di hotel, jadi kita sajikan menu lengkap Sungkui ini, sambil kita tulis di situ makanan khas Sanggau. Alhamdulillah, sambutannya cukup bagus, waktu itu menu kita habis dan sempat kita tanya karyawan hotel yang ikut merasakannya, mereka bilang enak," kenangnya yang kadang juga mendapatkan pemesanan untuk acara-acara
pernikahan, sunatan, syukuran dan lainnya ini.
Daun Kerikit
Ayadi menjelaskan bahan utama Sungkui sebenarnya sangat sederhana yakni, beras yang dibungkus dengan daun keririt (Sungkui). Sejenis dengan lontong, atau ketupat, daun keririt yang biasa di dapat di hutan rawa di Sanggau ini yang membuat Sungkui mempunyai bau yang harum dibanding dengan yang lainnya.
"Yang lebih hebat lagi, dia ini bisa tahan lebih dari tiga hari dan
tidak basi meskipun tidak dihangatkan. Saya juga tidak tahu kenapa, namun inilah ciri khas dari Sungkui ini," ujarnya.
Memasaknya, setelah dibungkus ke dalam daun keririt, ia diikat menjadi 10 bungkus dengan daun yang sama. Setelah itu, direbus sekitar empat jam dengan air bersih ke dalam dandang. Setiap dua jam sekali, posisinya ditukar, yang bagian sisi bawah menjadi ke atas begitupun sebaliknya.
Setelah jadi, nasi Sungkui ini dihidangkan bersamaan dengan lauk-pauk lainnya. Pilihannya, seperti serondeng, sambal nanas, opor ayam, gulai dan rendang sapi. Namun, untuk serondeng menjadi hidangan wajib untuk menghidangkan Sungkui.
"Mau sahnya lagi itu, ada lemang dan srikaya. Srikayanya ini kita buat sendiri dari bahan telur, gula dan santan yang disteam. Istilahnya sebagai pencuci mulut. Kalau sudah, sah rasanya menikmati Sungkui," ujarnya. (har/Tribun Pontianak cetak)