Style Blitz

Hobi Masak Manjakan Keluarga

Dia merasa puas dengan memasak sendiri, ketimbang membeli. Apalagi keluarganya sudah lama tidak memakai vetsin

Tayang:
Penulis: Dian Lestari |
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Urusan dapur seringkali diidentikkan dengan dunia perempuan. Tapi pada kenyataannya tidak selalu begitu. Laki-laki dengan hobi masak tidak mengenal istilah tersebut. Bagi mereka memasak adalah bagian dari gaya hidup mandiri, kegiatan asyik sekaligus seni menyenangkan orang-orang yang disayangi.

Endrian Hananto, General Manager Hotel Mercure Pontianak, bercerita bahwa kegemarannya memasak bermula dari tuntutan untuk hidup mandiri, karena kedua orangtuanya sibuk kerja hingga petang.

"Kalau menunggu orangtua pulang kantor, wah bisa kelaparan karena kami tak punya pembantu. Sejak SMP saya sudah bisa memasak. Lama kelamaan jadi kreatif mengolah menu dari bahan- bahan yang ada di kulkas,"  ujar Anto, panggilan akrabnya, saat ditemui beberapa waktu lalu.
Meski sang istri juga mahir memasak, ayah dua anak ini sengaja memanjakan keluarga dengan masakannya.

Momen kumpul bersama jadi makin terasa akrab ketika mereka menyantap bersama-sama olahan sendiri. Terutama ketika libur akhir pekan, pagi-pagi Anto memasak untuk keluarga.

Dia merasa puas dengan memasak sendiri, ketimbang membeli. Apalagi keluarganya sudah lama tidak memakai vetsin, jadi lebih enak jika memasak sendiri. Dia juga bisa menakar porsi makanan yang pas untuknya.

Spaghetti bolognise dan ampela balado adalah dua menu masakannya yang sangat digemari keluarganya. Khusus menu ampela balado adalah hasil eksperimen Anto. Dia melihat sudah sering daging atau telur dibuat balado, tapi masih jarang ampela diolah jadi balado. "Ciri khas balado adalah cabainya tidak benar-benar halus, warnanya merah segar, menggugah selera," ucap Anto.

Kegemaran memasak diperdalam Anto dengan menimba ilmu di bidang kuliner. Selama lima tahun dia bekerja di restoran.

Mengenai kegiatan memasak yang biasanya dilakoni kaum Hawa untuk keluarganya, Anto menilai sebenarnya bergantung pengaturan waktu ritme kerja suami istri. "Kebanyakan suami istri sibuk kerja, jadi membeli makanan di luar. Kalau saya memang hobi masak, sebisa mungkin masak sendiri," tuturnya.

Dia berpendapat memasak adalah satu bentuk kemandirian, tidak selalu mengandalkan istri untuk memenuhi kebutuhan terhadap pangan. "Dari kecil saya sudah bisa masak, walaupun dulu masak yang sederhana, tapi jadinya mandiri," ujar Anto.

Kegemaran masak bermula dari tuntutan untuk hidup mandiri juga dirasakan Firnadi Iqbal, Pemilik Washang Photographic. Semasa dia kuliah di Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) dari tahun 1996 hingga 2003, dia merasa tak mungkin mengandalkan rumah makan untuk memenuhi seleranya terhadap masakan Pontianak.

"Kepingin makan paceri nanas, mana ada yang jual di Bandung. Akhirnya saya coba-coba masak sendiri, telepon ibu minta diberi tahu bagaimana membuatnya," kata dia. Suami dari dr Devi Puspitasari

ini merasa senang ketika teman-temannya di kampus menyukai masakannya. Ada juga temannya yang merasa heran bagaimana bisa nanas yang biasanya disantap sebagai buah malah menjadi sayur.

Sewaktu Idul Adha, dia membuat roti cane, sebagai padanan kari kambing. Jadi teman-temannya bisa merasakan menu yang berbeda dari olahan daging kambing. "Rasanya puas kalau masak sendiri. Pas di lidah, sesuai dengan keinginan. Tidak susah kok membuatnya," tuturnya. (Tribun Pontianak cetak)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved