Kalbar Damai Tanpa Kekerasan

Dialog ini sendiri bertujuan dalam memotret keberagaman dalam rangka mengundang perdamaian secara realitas

Tayang:
Penulis: Dhita Mutiasari |
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Sejumlah tokoh etnik Kalimantan Barat melakukan dialog lintas  Etnis dengan tema penguatan peran lembaga dan tokoh etnik Kalimantan Barat dalam menciptakan perdamaian dan pembangunan yang berkualitas. Kegiatan ini digelar di Ruang Teater gedung  UPT STAIN Pontianak, Kamis (16/2/2012).

Acara tersebut dihadiri sejumlah tokoh etnik di antaranya Jumadi dari Majelis Adat Budaya Melayu (MABM), Andreas Acui Simanjaya dari  Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT), H Abdul Kadir Ubek selaku ketua umun DPW Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) di Kalbar.

Dalam acara yang merupakan kerjasama dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kalbar, Program Pasca Sarjana Stain  Pontianak, Yayasan Swadaya Dian Khatulistiwa, Caireu, MABT, dan Forum Peduli Ibu Pertiwi ini, selain dihadiri tokoh etnik, hadir pula beberapa perwakilan dari Kantor Wilayah (Kanwil) Depag Kalbar, Polda Kalbar, Walikota, serta instansi dan paguyuban etnis.

Dialog ini sendiri  bertujuan dalam memotret keberagaman dalam rangka mengundang perdamaian secara realitas, tanpa kekerasan, menggidentifikasi apa yang menjadi tantangan, halangan serta keberagaman tersebut mudah dimanfaatkan untuk kepentingan politis, serta apa yang dapat dilakukan untuk menyatukan potensi antar etnis.

Drs H Moh Haitami Salim, selaku Ketua FKUB mengatakan dalam sambutannya bahwa dialog ini merupakan wadah untuk menyampaikan pokok-pokok pikiran dari setiap lembaga dan tokoh yang  hadir. Sehingga nantinya dapat dicarikan solusi bersama-sama untuk mewujudkan pembangunan di Kalbar.

Pemecahan masalah  tidak hanya menjadi wacana, tetapi menjadi realitas yang diharapkan anak bangsa. Menurutnya keberagaman yang ada di kalbar baik etnis, bahasa serta dialeknya, serta adat istiadat adalah sesuatu kekayaan.

"Etnisitas bukan  hanya dijadikan sebagai realitas, tetapi sunatullah. Perbedaan  tersebut hendaknya dijadikan kekayaan untuk menjadikan Kalbar, sebagai provinsi yang damai, sejuk dan  berkualitas," kata dia.

Dikatakannya berdasarkan pendapat ahli, keberagaman sendiri dapat  menimbulkan dua hal di antaranya faktor penyatuan dan faktor perpecahan. Kalbar bukanlah diwariskan oleh etnis tertentu, tetapi, kalbar adalah milik bersama. Selanjutnya pihaknya juga mengadakan  pelatihan  mediasi konflik yang akan menyertakan FKUB kota/kabupaten se-Kalbar. (Tribun Pontianak cetak)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved