Cara Menggapai Prestasi Melalui Hobi
Minggu, 29 Januari 2012 12:18 WIB

TRIBUN PONTIANAK/LEO PRIMA
Anggota Klub Aero Sport Pontianak
Anggota Klub Aero Sport Pontianak
Berita Terkait
- Tim Aerosport Untan Tunggu Panggilan
- Aerosport Untan Latihan di Bandung
- Apkomindo : Internet Perkaya Kemampuan
- Juara Dunia Juga Akrabi Internet
- Internetan Bikin Awet Muda
- Situs Pendidikan Bola di Internet
- Hengki Terinspirasi Sosok Ronaldnho
- Klub dan Pemain Terkaya Dunia
- Jembatan Moton-Anjungan Nyaris Putus
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Anggota Klub Aero Sport yang satu ini, tidak hanya berpikir mengenai hobi semata. Namun mereka juga berpikir bagaimana mengembangkan hobi menjadi prestasi.
Tidak mengherankan bila mereka yang tergabung di klub aeromodelling ini, sebagaian besar merupakan orang yang serius dan bukan sekedar menganggapnya sekedar hobi.
"Kalau hobi, ada unsur bosannya, namun kalau sudah berpikir masalah prestasi, kita akan selalu terpacu untuk menjadi lebih baik lagi," ujar anggota Khatulistiwa Aero Sport Club (KASC), Fitriana, ketika ditemui Tribun di markas klub ini beberapa waktu lalu.
Pelatih sekaligus Ketua KAS, Irwan Dirgantara, mengatakan pihaknya sangat serius dalam mengembangkan olahraga dirgantara ini. Bahkan saat ini pihaknya sedang melakukan penyaringan untuk mengirimkan wakilnya dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) yang akan digelar di Riau beberapa bulan ke depan.
"Rencananya kami akan mengirimkan tiga wakil kami dalam iven itu. Satu pria dan dua atlet wanita. Saat ini kami masih coba seleksi," ungkap Iwan.
Dia menjelaskan, olahraga Aero modelling termasuk scientific sport yang kompleks. Selain mental, ternyata kekuatan atlet strategi dan teknologi berperan besar dalam mencapai prestasi dalam olahraga ini. "Olahraga ini termasuk kompleks, karena tidak hanya berhubungan dengan kekuatan saja, ada unsur sainsnya juga," terang dia.
Keunikan dari aero sport satu ini terletak pada pesawat yang dimiliki oleh para anggota. Ternyata, masing-masing anggota tidak memiliki desain spesifikasi yang sama. Uniknya, ternyata bentuk presisi pesawat tidak menjamin pesawat itu bisa terbang dengan baik.
Irwan bercerita, setiap pesawat yang dimiliki oleh masing-masing atlet berbeda. Pesawat yang diterbangkan oleh satu atlet sulit untuk diterbangkan oleh atlet yang lain. Karena masing-masing atlet memiliki karakter yang berbeda.
Perbedaan karakter ini kemudian disesuaikan dengan design pesawat yang digunakan. "Misalnya pesawat yang didesain dan digunakan oleh Fitriana, akan sangat sulit diterbangkan oleh Sandy. Hal ini berkaitan dengan kekuatan maupun taste yang berbeda dari masing-masing atlet," ujarnya.
Terkait dengan desain pesawat, Irwan kemudian memperlihatkan beberapa jenis pesawat tipe OHLG yang sekilas bentuknya mirip. Setelah diperhatikan, ternyata masing-masing pesawat memiliki perbedaan yang cukup mencolok. Khususnya pada desain sayap.
Satu di antara pesawat itu bahkan terlihat sedikit ekstrem pada bagian pesawatnya, karena ada patahan yang sengaja dibuat untuk sistem keseimbangannya. Kalau dilihat lagi, ternyata tidak ada unsur simetris dan presisi yang dimiliki pesawat itu.
Fitriana mengatakan, dirinya merasa senang ketika pesawat yang ia desain bisa terbang dengan baik dan dapat melayang sesuai dengan target waktu yang ditetapkan. Namun dirinya akan merasa sedih kalau pesawat yang telah diterbangkannya itu kemudian hilang, karena tidak ada unsur kendali dalam olahraga ini.
Menurutnya, untuk membangun satu pesawat, harganya tidak murah. Setidaknya akan menghabisakan ratusan ribu untuk satu pesawat.
Untuk mendesai pesawat ini cukup menarik. Selain harus mempelajari segi aerodinamika, setiap atlet harus mengerti berbagai aturan dalam perlombaan. Misalnya berkaitan dengan berat pesawat, lama terbang dalam lomba dan masih banyak lagi.
Saat ini, setiap sore anggota KAS berlatih dari pukul 16.00 hingga 18.00 WIB. Sebab, selain untuk persiapan PON di Riau, klub ini ingin mengikuti kejuaraan yang akan dilaksanakan di Yogyakarta, pada akhir Februari mendatang.
Tidak mengherankan bila mereka yang tergabung di klub aeromodelling ini, sebagaian besar merupakan orang yang serius dan bukan sekedar menganggapnya sekedar hobi.
"Kalau hobi, ada unsur bosannya, namun kalau sudah berpikir masalah prestasi, kita akan selalu terpacu untuk menjadi lebih baik lagi," ujar anggota Khatulistiwa Aero Sport Club (KASC), Fitriana, ketika ditemui Tribun di markas klub ini beberapa waktu lalu.
Pelatih sekaligus Ketua KAS, Irwan Dirgantara, mengatakan pihaknya sangat serius dalam mengembangkan olahraga dirgantara ini. Bahkan saat ini pihaknya sedang melakukan penyaringan untuk mengirimkan wakilnya dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) yang akan digelar di Riau beberapa bulan ke depan.
"Rencananya kami akan mengirimkan tiga wakil kami dalam iven itu. Satu pria dan dua atlet wanita. Saat ini kami masih coba seleksi," ungkap Iwan.
Dia menjelaskan, olahraga Aero modelling termasuk scientific sport yang kompleks. Selain mental, ternyata kekuatan atlet strategi dan teknologi berperan besar dalam mencapai prestasi dalam olahraga ini. "Olahraga ini termasuk kompleks, karena tidak hanya berhubungan dengan kekuatan saja, ada unsur sainsnya juga," terang dia.
Keunikan dari aero sport satu ini terletak pada pesawat yang dimiliki oleh para anggota. Ternyata, masing-masing anggota tidak memiliki desain spesifikasi yang sama. Uniknya, ternyata bentuk presisi pesawat tidak menjamin pesawat itu bisa terbang dengan baik.
Irwan bercerita, setiap pesawat yang dimiliki oleh masing-masing atlet berbeda. Pesawat yang diterbangkan oleh satu atlet sulit untuk diterbangkan oleh atlet yang lain. Karena masing-masing atlet memiliki karakter yang berbeda.
Perbedaan karakter ini kemudian disesuaikan dengan design pesawat yang digunakan. "Misalnya pesawat yang didesain dan digunakan oleh Fitriana, akan sangat sulit diterbangkan oleh Sandy. Hal ini berkaitan dengan kekuatan maupun taste yang berbeda dari masing-masing atlet," ujarnya.
Terkait dengan desain pesawat, Irwan kemudian memperlihatkan beberapa jenis pesawat tipe OHLG yang sekilas bentuknya mirip. Setelah diperhatikan, ternyata masing-masing pesawat memiliki perbedaan yang cukup mencolok. Khususnya pada desain sayap.
Satu di antara pesawat itu bahkan terlihat sedikit ekstrem pada bagian pesawatnya, karena ada patahan yang sengaja dibuat untuk sistem keseimbangannya. Kalau dilihat lagi, ternyata tidak ada unsur simetris dan presisi yang dimiliki pesawat itu.
Fitriana mengatakan, dirinya merasa senang ketika pesawat yang ia desain bisa terbang dengan baik dan dapat melayang sesuai dengan target waktu yang ditetapkan. Namun dirinya akan merasa sedih kalau pesawat yang telah diterbangkannya itu kemudian hilang, karena tidak ada unsur kendali dalam olahraga ini.
Menurutnya, untuk membangun satu pesawat, harganya tidak murah. Setidaknya akan menghabisakan ratusan ribu untuk satu pesawat.
Untuk mendesai pesawat ini cukup menarik. Selain harus mempelajari segi aerodinamika, setiap atlet harus mengerti berbagai aturan dalam perlombaan. Misalnya berkaitan dengan berat pesawat, lama terbang dalam lomba dan masih banyak lagi.
Saat ini, setiap sore anggota KAS berlatih dari pukul 16.00 hingga 18.00 WIB. Sebab, selain untuk persiapan PON di Riau, klub ini ingin mengikuti kejuaraan yang akan dilaksanakan di Yogyakarta, pada akhir Februari mendatang.
Penulis : Prayudi Anugraha
Editor : Marlen Sitinjak
Sumber : Tribun Pontianak
