Utamakan Etika Saat Bekerja
Menjalani profesinya sebagai dokter, Lidwina Kasiani Meylina Anggraeni berprinsip, rangking bukanlah tolak ukur keberhasilan seseorang.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Menjalani profesinya sebagai dokter, Lidwina Kasiani Meylina Anggraeni berprinsip, rangking bukanlah tolak ukur keberhasilan seseorang.
"Masih banyak hal lain yang turut membantu perkembangan seseorang untuk sukses, baik dalam karir maupun dalam hubungan masyarakat," kata dokter yang bertugas di Puskesmas Rasau Jaya ini.
Karena itu, saat menemui pasiennya, dr Lidwina lebih mengutamakan etika daripada sekadar kemampuan intelijesia. "Menjadi seorang dokter, kecerdasan sangat penting dan wajib. Namun, etika merupakan hal penting yang perlu diperhatikan," terangnya.
Menurutnya, untuk hidup, perlu ada sikap yang baik agar bisa diterima oleh orang lain, dengan harapan ada penerimaan yang positif dari orang lain. "Untuk berhasil dan sukses dalam berbagai segi kehidupan, modal kepandaian saja tidak menjamin seseorang bisa sukses," ujarnya.
Lidwina pernah bekerja di berbagai rumah sakit. Uniknya, dirinya selalu ditempatkan di Unit Gawat Darurat. Bahkan, setelah dirinya diterima sebagai PNS di Kubu Raya pun, dirinya kembali ditempatkan sebagai penanggungjawab medis Unit Gawat Darurat dan rawat inap di Puskesmas Rasau Jaya.
Menurut dokter manis yang telah memiliki satu anak ini, UGD menyimpan banyak cerita yang menarik. Dalam beberapa kasus kecelakaan yang ditanganinya, korban yang semula harus dirujuk ke RS besar, ternyata tidak perlu dirujuk karena luka yang diderita ternyata bisa ditanganinya.
Namun, kadang ada orang yang lukanya "terlihat" tidak terlalu besar dan dianggapnya dapat ditangani, ternyata harus dirujuk ke RS dengan fasilitas yang lebih lengkap. "Pelajaran di sini, kita tidak bisa meremehkan segala sesuatu, dan itu butuh etika dan keseriusan," tegas istri dari dr Hendy Stio Iwantono ini.
Di sela-sela kesibukannya, dirinya selalu menyempatkan diri untuk berkumpul dengan keluarga. Misalnya dengan menemani anaknya belajar. Dia mengakui, dirinya kerap harus meninggalkan anaknya yang sedang belajar, karena ada pasien.
Namun dirinya bersyukur karena putranya tidak pernah mengeluh. Bahkan Vincentius Maximiliano Prasetyo tahu, bila ibu atau ayahnya pergi, karena harus mengurus pasien. "Hal itu cukup melegakan bagi saya dan suami," ungkapnya.
Obsesi
Lidwina yang lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Bandar Lampung pada 2008 lalu ini, ternyata masih memiliki obsesi untuk melanjutkan pendidikannya. Dirinya bercita-cita ingin menjadi dokter spesialis anak. Dirinya mengakui bila dirinya terpengaruh dengan dokter ahli anak, yang menginspirasinya untuk menjadi seorang dokter, ketika dirinya masih duduk di bangku SMP.
Menjadi dokter anak, menurutnya, tidak mudah. Pasalnya, anak kerap masih kesulitan untuk menyampaikan apa yang ia rasakan. "Kalau sakit, mereka hanya menangis, dan memang hanya itu yang mereka tahu sebagai cara mengungkapkannya," tuturnya.
Ia pun bertekad memiliki satu klinik, yang dapat memberikan pelayanan secara maksimal dan biayanya pun dapat dijangkau oleh semua lapisan masyarakat.
Tak Pernah Menyerah
Dokter Lidwina termasuk perempuan yang pantang menyerah. Ia yang lulus SMA dari jurusan IPS akhirnya berhasil menjadi dokter. Ia sendiri bercita-cita menjadi seorang dokter sejak kelas 2 SMP.
"Saya kenal dengan seorang dokter ahli anak. Beliau sangat baik ke saya. Mungkin itu yang menjadi satu pendorong cita-citaku untuk jadi seorang dokter," ungkapnya.