Cinta Terakhir Bung Karno
Soekarno Dekati Heldy Saat Usia Baru 18 Tahun (4)
Karuan saja, hati Heldy berkecamuk, antara takut, senang dan gemetar. Ia takut melakukan kesalahan saat lenso dengan presiden.
Saat barisan Bhineka Tunggal Ika sudah
berdandan, para pagar ayu diminta berbaris dan menempati posisinya
masing-masing untuk siap-siap menerima tamu.
Saat itu Heldy memilih berdiri di pojok, takut dilihat Bung karno. Apalagi ketika itu, kebayanya kelihatan kedodoran dan sanggulnya terasa ogleg.
Nah, ketika Presiden Soekarno memasuki ruangan untuk melihat barisan Bhineka Tunggal Ika, matanya mendadak menatap Heldy. Melalui ajudannya, Heldy lalu dipanggil Soekarno. Kakinya bergetar, hatinya berdebar.
Soekarno kemudian menegurnya. "Sanggulmu salah, bukan begini. Juga kebaya dan kainmu. Siapa yang mendadanimu?" "Ibu Maryati Pak."
Setelah
itu, pertemuan antara Soekarno dengan Heldy terjadi kembali, saat
anggota barisan Bhineka Tunggal Ika diwajibkan menyanyi di depan
presiden, satu persatu. Dari sekian anggota, Heldy mendapat urutan nomor
satu untuk menyanyi.
Ia pun tarik olah vokal, menyanyikan lagu
asal Kalimantan. Usai menyanyikan lagu berjudul 'Bajiku Batang (padi),
Bung Karno meminta Heldy untuk menyanyikannya sekali lagi.
Pertemuan selanjutnya terjadi saat Yus kakak kandung Heldy meminta ke Istana untuk menjadi pagar ayu kembali.
Saat
Bung Karno masuk ruangan, kedua matanya menyapu semua sudut ruangan.
Lalu, Bung Karno memperhatikan Heldy yang ketika itu mengenakan kebaya
warna hijau. Lalu dipanggilah Heldy.
Lagi-lagi gadis itu dengkulnya gemetaran. Ia berjalan perlahan menghampiri Bung Karno. Setelah mendekat, Bung Karno dengan suaranya yang khas bertanya. "Kemana saja kau? Sudah lama tidak kelihatan?" "Sakit Pak," jawab Heldy.