Idul Fitri 2026

VIDEO: Dentuman Meriam Karbit, Warisan Budaya Pontianak yang Tak Pernah Padam

Bagi masyarakat Pontianak, suara meriam karbit bukan hanya hiburan, melainkan penanda datangnya Idul Fitri. 

|
Penulis: Ayu Nadila | Editor: Marlen Sitinjak

Ringkasan Berita:
  • Tradisi yang telah berakar puluhan tahun ini bukan sekadar permainan, melainkan simbol kegembiraan masyarakat Pontianak menyambut hari kemenangan.
  • Namun, perjalanan tradisi ini tidak selalu mulus. Kasful masih ingat masa ketika meriam karbit sempat menjadi sasaran razia pada era 1990-an. 
  • Bagi masyarakat Pontianak, suara meriam karbit bukan hanya hiburan, melainkan penanda datangnya Idul Fitri

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Menjelang Hari Raya Idul Fitri, tepian Sungai Kapuas, di Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), selalu dipenuhi riuh dentuman meriam karbit. 

Tradisi yang telah berakar puluhan tahun ini bukan sekadar permainan, melainkan simbol kegembiraan masyarakat Pontianak menyambut hari kemenangan.

Kasful Anwar (57), yang kini dikenal sebagai Penasehat Meriam Karbit, menjadi sosok yang konsisten menjaga keberlangsungan tradisi ini. 

Sejak awal 1990-an, ia telah mengenal seluk-beluk pembuatan meriam karbit. 

“Kalau dulu satu balok kayu dibelah menggunakan baji. Prosesnya masih manual dan membutuhkan tenaga lebih,” kenangnya saat ditemui di kawasan Gang Kuantan, Jalan Imam Bonjol, Pontianak Selatan, beberapa waktu lalu.

Seiring perkembangan zaman, teknik pembuatan meriam karbit pun ikut berubah. 

Dari yang semula serba tradisional, kini pengerjaan dilakukan dengan peralatan lebih modern sehingga hasilnya lebih rapi dan presisi. 

Namun, perjalanan tradisi ini tidak selalu mulus. Kasful masih ingat masa ketika meriam karbit sempat menjadi sasaran razia pada era 1990-an. 

Baca juga: Wali Kota Singkawang Buka Festival Meriam Karbit Laggum Kampong Season 2

“Kalau ada razia, meriam yang sudah dipasang biasanya kami turunkan dan dijatuhkan ke air supaya tidak terlihat,” ujarnya.

Kini, situasi berbeda. Meriam karbit telah diakui sebagai bagian dari warisan budaya Pontianak. 

Pemerintah daerah bahkan menetapkan aturan khusus terkait waktu permainan, yakni tiga hari sebelum Lebaran hingga dua hari setelah Lebaran. 

Dengan begitu, dentuman meriam karbit tetap bisa dinikmati secara aman dan tertib.

Bagi masyarakat Pontianak, suara meriam karbit bukan hanya hiburan, melainkan penanda datangnya Idul Fitri

Festival meriam karbit yang digelar setiap tahun semakin memperkuat identitas budaya kota ini, sekaligus menarik wisatawan untuk menyaksikan kemeriahan di tepian Sungai Kapuas.

Kasful berharap generasi muda terus melestarikan tradisi ini. 

“Saya berharap generasi muda semakin semangat menjaga tradisi ini supaya tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya,” pungkasnya. (*)

Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp
!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved