Kabar Artis

Ending Drakor Perfect Crown Tuai Kontroversi, Kru Minta Maaf soal Distorsi Sejarah

Banyak yang kemudian mengatakan bahwa tameng genre "sejarah alternatif" tidak dapat memaafkan setiap kesalahan sejarah.

Tayang:
TRIBUN PONTIANAK/ISTIMEWA
DRAMA- Menanggapi polemik yang berkembang, tim produksi Perfect Crown akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara resmi. Mereka mengakui kurang mendalami perubahan etiket kerajaan Joseon sepanjang sejarah. 

Ringkasan Berita:
  • Dalam drama tersebut, Byeon Woo Seok memerankan tokoh Pangeran Ian, sementara IU berperan sebagai Seong Hui Ju. 
  • Popularitas drama ini sebelumnya cukup tinggi karena mengusung tema monarki konstitusional Korea Selatan versi modern abad ke-21.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Drama Korea Perfect Crown yang dibintangi IU dan Byeon Woo Seok tengah menjadi sorotan publik usai episode terakhirnya menuai kontroversi besar di Korea Selatan.

Serial yang tayang pada Sabtu 16 Mei 2026 tersebut mendapat kritik tajam dari penonton dan pemerhati sejarah karena dianggap menampilkan adegan yang tidak sesuai dengan fakta sejarah Korea dalam momen penobatan karakter Pangeran Ian.

Dalam drama tersebut, Byeon Woo Seok memerankan tokoh Pangeran Ian, sementara IU berperan sebagai Seong Hui Ju. 

Popularitas drama ini sebelumnya cukup tinggi karena mengusung tema monarki konstitusional Korea Selatan versi modern abad ke-21.

Kontroversi muncul ketika adegan penobatan memperlihatkan sang raja mengenakan “Guryu Myeollyugwan”, yakni mahkota upacara yang secara historis digunakan oleh negara bawahan pada era Joseon.

Tak hanya itu, para pengikut kerajaan dalam adegan tersebut juga terdengar meneriakkan kata “Cheonse” alih-alih “Manse”. 

Jennifer Coppen Ungkap Alasan Mantap Nikahi Justin Hubner, Sebut Jadi Figur Ayah untuk Kamari

Penggunaan istilah tersebut kemudian memicu kritik karena dinilai tidak sesuai dengan konteks sejarah kerajaan Korea modern.

Secara historis, “Cheonse” diketahui merupakan ungkapan penghormatan yang digunakan negara bawahan kepada seorang kaisar. 

Karena itulah, penggunaan istilah tersebut dalam latar kerajaan konstitusional abad ke-21 dianggap tidak tepat oleh sebagian penonton dan sejarawan.

Kritik semakin meluas karena drama ini didistribusikan secara global melalui platform OTT internasional. 

Banyak pihak khawatir penonton luar negeri bisa memperoleh pemahaman sejarah Korea yang keliru akibat adegan tersebut.

Menanggapi polemik yang berkembang, tim produksi Perfect Crown akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara resmi. Mereka mengakui kurang mendalami perubahan etiket kerajaan Joseon sepanjang sejarah.

Pihak produksi juga berjanji akan melakukan revisi pada audio dan subtitle untuk penayangan ulang, layanan video on demand (VOD), hingga platform OTT di masa mendatang.

Selain soal istilah kerajaan, penonton juga menyoroti desain mahkota kerajaan yang hanya memiliki sembilan untaian manik-manik. Padahal, mahkota penguasa berdaulat umumnya digambarkan menggunakan desain 12 untaian.

Adegan lain yang turut menuai perdebatan ialah ketika sang ratu berlutut di hadapan pangeran agung sambil meminta maaf. Interaksi tersebut dianggap bertentangan dengan hierarki kerajaan Korea pada masa lampau.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved