Ragam Contoh

Rangkaian Wukuf di Arafah dan Amalan yang Dianjurkan Saat Ibadah Haji 2026

Pelaksanaan wukuf dilakukan di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, dimulai sejak tergelincirnya matahari hingga terbit fajar keesokan harinya

Tayang:
TRIBUNPONTIANAK/Endro
HAJI- Wukuf di Arafah merupakan puncak ibadah haji 1444 Hijriah. Bagi Umat Islam yang tidak berangkat Haji sangat dianjurkan untuk menunaikan puasa tarwiyah dan puasa arafah. Puasat Tarwiyah pada 8 Zulhijjah dan Arafah pada 9 Zulhijjah. 

Ringkasan Berita:
  • Bagi jemaah yang mengikuti skema murur, mereka hanya akan melintasi Muzdalifah tanpa turun dari kendaraan dan langsung diarahkan menuju Mina. 
  • Skema ini diperuntukkan bagi jemaah dengan kondisi tertentu, seperti lansia, penyandang disabilitas, pendamping, serta petugas kloter yang memiliki risiko tinggi. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Memasuki fase paling krusial dalam rangkaian ibadah haji, jemaah haji Indonesia mulai bergerak menuju Padang Arafah secara bertahap sejak Rabu, 4 Juni 2025. 

Pergerakan ini menandai dimulainya puncak pelaksanaan haji, di mana seluruh jemaah akan menjalani salah satu rukun utama yang menentukan sah atau tidaknya ibadah haji, yaitu wukuf.

Wukuf di Arafah dilaksanakan pada Kamis, 5 Juni 2025, yang bertepatan dengan 9 Zulhijah 1446 Hijriah. 

Momen ini menjadi inti dari ibadah haji, karena tanpa menjalankan wukuf, maka haji seseorang dinyatakan tidak sah.

Kepala Bidang Bimbingan Ibadah, Zaenal Muttaqin, menjelaskan bahwa seluruh jemaah melaksanakan wukuf di tenda masing-masing. Prosesi dimulai setelah masuk waktu Zuhur, sekitar pukul 12.20 waktu Arab Saudi. 

Dalam pelaksanaannya, khutbah wukuf disampaikan di tenda misi haji oleh KH Ahmad Said Asrori dengan tema tentang penguatan persaudaraan dan semangat kebangsaan. 

Sementara itu, salat Zuhur dan Asar dilaksanakan secara jama’ qashar dengan imam Tg Dr. Lalu Ahmad Zaenuri.

Setelah rangkaian wukuf selesai, jemaah dijadwalkan diberangkatkan menuju Muzdalifah pada malam hari, tepatnya setelah waktu Magrib atau sekitar pukul 19.00 waktu setempat. Dalam proses ini, terdapat dua skema yang diterapkan, yaitu murur dan non-murur.

Pemerintah Pusat Akan Bangun Kantor Kementerian Haji dan Umrah di Kapuas Hulu

Bagi jemaah yang mengikuti skema murur, mereka hanya akan melintasi Muzdalifah tanpa turun dari kendaraan dan langsung diarahkan menuju Mina. 

Skema ini diperuntukkan bagi jemaah dengan kondisi tertentu, seperti lansia, penyandang disabilitas, pendamping, serta petugas kloter yang memiliki risiko tinggi. 

Sementara itu, jemaah non-murur akan turun di Muzdalifah untuk menjalani mabit (bermalam), kemudian melanjutkan perjalanan ke Mina setelah tengah malam secara bertahap.

Menteri Agama, Nasaruddin Umar, mengingatkan seluruh jemaah agar memperhatikan dengan baik amalan yang dianjurkan maupun larangan selama pelaksanaan wukuf. 

Ia menekankan pentingnya menjaga ketentuan ihram agar tidak terkena dam atau denda akibat pelanggaran.

Beberapa larangan yang harus dihindari antara lain menutup kepala bagi laki-laki saat ihram, menyisir rambut hingga rontok bagi perempuan, serta melakukan tindakan yang dapat merusak lingkungan seperti mencabut rumput atau mematahkan ranting. 

Selain itu, jemaah juga diingatkan untuk menjaga ucapan dan perilaku, termasuk menghindari perkataan buruk, ghibah, dan hal-hal negatif lainnya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved