Ragam Contoh

Syarat Melakukan I’tikaf di Masjid dan Waktu Terbaik Memperbanyak Ibadah Ramadhan 1447 H

Fase penutup Ramadhan ini dikenal memiliki keutamaan yang sangat besar, karena di dalamnya terdapat malam istimewa, yakni Lailatul Qadar

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Grafis TribunPontianak.co.id/Enro
SHOLAT LAILATUL QADAR - Ilustrasi Sholat Lailatul Qadar. Sholat Lailatul Qadar dapat dikerjakan setelah sholat Isya atau setelah sholat tarawih. 

Ringkasan Berita:
  • I’tikaf biasanya mulai ramai dilakukan sejak malam ke-21 Ramadhan hingga akhir bulan. Dalam praktiknya, umat Islam menghabiskan waktu di masjid untuk fokus beribadah dan meninggalkan kesibukan duniawi.
  • Oleh sebab itu, kaum Muslimin dianjurkan untuk memaksimalkan waktu dengan berbagai ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah SWT.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Memasuki sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, umat Islam dianjurkan untuk semakin meningkatkan kualitas ibadah dan memperbanyak amal kebaikan. 

Fase penutup Ramadhan ini dikenal memiliki keutamaan yang sangat besar, karena di dalamnya terdapat malam istimewa, yakni Lailatul Qadar, malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.

Oleh sebab itu, kaum Muslimin dianjurkan untuk memaksimalkan waktu dengan berbagai ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada periode tersebut adalah i’tikaf. Ibadah i’tikaf merupakan kegiatan berdiam diri di masjid dengan niat beribadah, berdzikir, membaca Al-Qur’an, serta memperbanyak doa. Aktivitas ini menjadi sarana yang efektif untuk membersihkan hati, memperdalam keimanan, serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

I’tikaf biasanya mulai ramai dilakukan sejak malam ke-21 Ramadhan hingga akhir bulan. Dalam praktiknya, umat Islam menghabiskan waktu di masjid untuk fokus beribadah dan meninggalkan kesibukan duniawi.

Tujuannya adalah agar hati lebih khusyuk dalam mengingat Allah serta mendapatkan keberkahan di penghujung Ramadhan.

Dari sisi hukum, i’tikaf pada dasarnya merupakan ibadah sunnah atau mustahab yang sangat dianjurkan, bukan kewajiban. Hal ini didasarkan pada hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, yang menjelaskan bahwa beliau pernah beritikaf pada sepuluh hari awal Ramadhan untuk mencari Lailatul Qadar, lalu melanjutkannya di sepuluh hari pertengahan.

Contoh Khotbah Jumat 20 Februari Ramadan 2026 Tema Lailatul Qadar dan Ampunan Allah

Setelah mendapat kabar dari Malaikat Jibril bahwa malam kemuliaan berada di sepuluh hari terakhir Ramadhan, Rasulullah pun melaksanakan i’tikaf pada waktu tersebut dan para sahabat ikut serta bersama beliau.

Hadis tersebut menunjukkan bahwa i’tikaf bukanlah ibadah wajib, karena Rasulullah memberikan kebebasan kepada para sahabat untuk melakukannya. Namun, status sunnah ini bisa berubah menjadi wajib apabila seseorang bernadzar untuk melaksanakan i’tikaf.

Hal ini merujuk pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Aisyah yang menyebutkan bahwa siapa pun yang bernadzar untuk melakukan ketaatan kepada Allah wajib menunaikannya.

Pendapat ini juga diperkuat oleh ulama besar Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fath al-Bari yang menyatakan bahwa i’tikaf hukumnya sunnah berdasarkan kesepakatan para ulama, kecuali bagi orang yang bernadzar untuk melaksanakannya.

Dengan demikian, sepuluh hari terakhir Ramadhan menjadi kesempatan emas bagi setiap Muslim untuk meningkatkan ibadah, memperbanyak doa, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui i’tikaf dan amalan lainnya. Momentum ini tidak hanya membawa pahala besar, tetapi juga menjadi sarana memperbaiki diri dan meraih keberkahan hidup dunia maupun akhirat.

Syarat dan Ketentuan Pelaksanaan Itikaf

Secara umum, para ulama telah menyepakati bahwa dalam pelaaksanaan itikaf, terdapat empat rukun yang wajib dipenuhi, yaitu:

Pertama, orang yang beritikaf (mutakif).

Ketetapan dari para ulama bahwa syarat dari sahnya seseorang sebagai mutakif ada empat, yaitu Muslim, akil, mumayyiz, dan, suci dari hadats besar.

Kedua, niat beritikaf.

Fungsi dari niat saat beritikaf adalah untuk menegaskan perbedaan antara ibadah dan selain ibadah saat seseorang berdiam diri di masjid.

Sebab, bisa saja orang yang berdiam diri di masjid bukan dalam rangka ibadah, misalnya sekedar duduk ngobrol dengan rekannya.

Berikut beberapa contoh lafal niat i'tikaf:

  • Niat I'tikaf Mutlak:

نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ لِلّهِ تَعَالَى

Artinya: "Aku berniat i'tikaf di masjid ini karena Allah SWT."

  • Niat I'tikaf Terikat Waktu:

نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَوْمًا/لَيْلًا كَامِلًا/شَهْرًا لِلّهِ تَعَالَى

Artinya: "Aku berniat i'tikaf di masjid ini selama satu hari/satu malam penuh/satu bulan karena Allah SWT."

Ketiga, tempat itikaf (mutakaf fihi). Ulama sepakat tempat untuk beritikaf adalah di masjid. Hal ini berdasarkan firman Allah surah al-Baqarah 187:

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved