Harga Plastik Naik, Link-AR Borneo Soroti Kantong Ramah Lingkungan

Kenaikan harga plastik merupakan kerugian yang harus ditanggung masyarakat akibat negara yang bergantung pada energi fosil

Penulis: Peggy Dania | Editor: Safruddin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Peggy Dania
PLASTIK MAHAL - Ketua Link-AR Borneo, Ahmad Syukri saat diwawancarai di salah satu kafe di Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Jumat 3 April 2026. Ahmad berharap pemerintah tidak hanya bergantung pada energi fosil 
Ringkasan Berita:
  • Link-AR Borneo soroti kebijakan pemerintah yang terlalu bergantung pada energi fosil
  • Kenaikan harga plastik bukan semata-mata karena perang di timur tengah
  • Mendorong agar perilaku masyarakat dalam mengurangi penggunaan plastik sekali pakai

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Ketua Link-AR Borneo, Ahmad Syukri menilai kenaikan harga plastik merupakan dampak dari ketergantungan negara terhadap energi fosil.

Menurutnya, kenaikan harga plastik tidak bisa dilihat semata-mata karena faktor konflik di kawasan timur tengah melainkan akibat penggunaan bahan baku dari minyak bumi.

“Kenaikan harga plastik merupakan kerugian yang harus ditanggung masyarakat akibat negara yang bergantung pada energi fosil.

Sebagaimana diketahui plastik diproduksi dari minyak bumi,” kata Ahmad Syukri saat diwawancarai di salah satu kafe di Pontianak, Jumat 3 April 2026 

Ia menilai pemerintah perlu memastikan harga plastik tetap terjangkau bagi masyarakat sembari menyiapkan alternatif yang lebih berkelanjutan.

“Pemerintah harus memastikan harga plastik yang digunakan masyarakat harus tetap murah sebagaimana menangani ancaman kenaikan BBM,

 dan memastikan transformasi penggunaan plastik dari minyak bumi ke bahan lain yang lebih berkelanjutan dengan harga yang lebih murah,” katanya.

Baca juga: Harga Plastik Naik Penjual Es di Pontianak Hanya Ambil Untung Tipis

Menurutnya, masyarakat tidak seharusnya dibebani dengan kenaikan harga plastik tanpa adanya solusi konkret dari pemerintah.

Di sisi lain, ia juga mendorong adanya perubahan perilaku masyarakat dalam mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

“Sembari terus menyadarkan masyarakat kita untuk berbelanja membawa media bungkus sendiri untuk meminimalisir sampah plastik,” ungkapnya.

Ia turut menyoroti kebijakan pemerintah yang dinilai belum konsisten dalam upaya pengurangan penggunaan plastik.

“Hal aneh ketika pemerintah menggaungkan pengurangan penggunaan plastik, tetapi membiarkan perusahaan-perusahaan produksi plastik masih beroperasi dan pemerintah belum memproduksi pengganti plastik yang lebih murah,” ujar Ahmad Syukri.(peg)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved