SOSOK Idham Chalid, Ketua DPR Termiskin yang Hidup Sederhana Tolak Fasilitas Negara untuk Keluarga

Ia adalah KH. Idham Chalid, tokoh Nahdlatul Ulama, ulama kharismatik, sekaligus negarawan yang hidupnya bisa menjadi cermin

Editor: Dhita Mutiasari
Kolase / Wikipedie
KETUA DPR - Sosok KH Idham Chalid yang diabadikan dalam uang kertas pecahan Rp 5 Ribu Rupiah. KH. Idham Chalid, tokoh Nahdlatul Ulama, ulama kharismatik, sekaligus negarawan yang hidupnya bisa menjadi cermin untuk generasi sekarang. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID -  Di tengah sorotan masyarakat terhadap gaya hidup mewah sebagian anggota DPR RI saat ini, Idham Chalid muncul sebagai teladan kepemimpinan sejatiyang mengangkat integritas, pelayanan, dan kesederhanaan sebagai pilar utama.

Sosoknya mengingatkan bahwa jabatan publik adalah amanah, bukan jalan untuk memperkaya keluarga atau meraih kemewahan.

Apalagi mendengar kata Ketua DPR saat ini, bayangan yang muncul sering kali tidak jauh dari kursi empuk kekuasaan, mobil dinas mewah, serta sederet fasilitas negara yang mengiringinya. 

Adanya polemik ini yang mendorong gelombang massa ribuan buruh dan mahasiswa menggelar demonstrasi di depan Gedung DPR / MPR di Jakarta dan sejumlah wilayah di Indonesia untuk menolak gaji dan tunjangan anggota DPR yang disebut "fantastis" dalam kondisi ekonomi yang sulit. 

Ojol Tewas Dilindas Rantis Brimob di Jakarta, Pasha Ungu hingga Fiersa Besari Suarakan Duka

Aksi ini memicu kericuhan dan memancing perdebatan publik luas.

Namun, sejarah Indonesia ternyata pernah mencatat sosok pemimpin yang berbeda. 

Seorang Ketua DPR yang justru memilih hidup sederhana, menolak fasilitas untuk keluarganya, bahkan rela keluarganya naik metromini ke mana-mana.

Ia adalah KH. Idham Chalid, tokoh Nahdlatul Ulama, ulama kharismatik, sekaligus negarawan yang hidupnya bisa menjadi cermin untuk generasi sekarang.

Idham Chalid bukanlah sekadar tokoh biasa. Karier politiknya cemerlang dan panjang.

Idham Chalid  pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri RI, Menteri Kesejahteraan Rakyat, Ketua DPR RI (1971-1977), hingga Ketua MPR RI.

Bahkan di dalam dunia organisasi, namanya bahkan tercatat sebagai Ketua Tanfidziyah NU terlama dalam sejarah, yakni selama 28 tahun (1956-1984).

Bukan hal aneh bila ia hidup dengan segala kemewahan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, Idham Chalid dikenal sebagai pejabat yang menolak fasilitas negara untuk keluarganya. 

Berikut adalah Fakta Sejarah Mencatat Sosok KH Idham Chalid yang layak menjadi panutan dan renungan:

1. Tokoh Politik dan Keagamaan Terpandang

Idham Chalid (27 Agustus 1921 – 11 Juli 2010) adalah seorang negarawan dan ulama.

Ia pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri, Menteri Kesejahteraan Rakyat, Menteri Sosial Ad Interim, serta Koordinator Menteri Kesejahteraan Rakyat selama era Orde Lama dan awal Orde Baru.

Ia juga memegang posisi strategis sebagai Ketua DPR dan Ketua MPR RI selama periode 1971–1977, serta kemudian menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) sejak 1978 hingga 1983.

Di ranah ormas, beliau adalah Ketua Umum Tanfidziyah Nahdlatul Ulama (NU) yang menjabat paling lama, yakni dari 1956 hingga 1984.

2. Teladan Kesederhanaan dan Integritas

Idham Chalid dikenal luas sebagai "Ketua DPR Termiskin" bukan karena kekurangan materi, melainkan karena penolakannya terhadap fasilitas negara bagi keluarganya.

Ia melarang keluarganya menggunakan mobil dinas atau fasilitas lain dan menekankan agar anak-anak hidup mandiri.

Bahkan, disebut bahwa keluarganya tetap naik metromini dan ada anak-anaknya yang berjualan nasi di pinggir jalan.

Setelah pensiun, beliau memilih kembali ke dunia pendidikan dan pengabdian: memimpin pondok pesantren di Cipete Selatan, mengelola rumah yatim di Cisarua, dan mengajar murid-murid di rumahnya dengan tekun.

3. Diabadikan sebagai Pahlawan Nasional

Atas jasa dan dedikasinya kepada bangsa, Idham Chalid dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Tahun 2011

Wajahnya pun diabadikan pada pecahan uang kertas Rp 5.000, simbol penghormatan atas warisan integritas dan pengabdiannya.

Begitu kuat pengaruhnya dalam dunia politik dan keulamaan di Indonesia membuat pemerintah Indonesia menobatkannya sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2011 lalu, berdasarkan SK Keppres Nomor 113/TK/Tahun 2011 tanggal 7 November 2011.

Sosok kelahiran Satui, Kalimantan Selatan, pada 27 Agustus 1921 ini jadi putera Banjar yang mendapatkan gelar Pahlawan Nasional setelah Hasan Basry dan Pangeran Antasari.

Perjalanan hidup Idham Chalid 

Jejak Masa Kecil 

Dikutip dari buku Idham Chalid: Guru Politik orang NU (2017) yang ditulis Ahmad Muhadjir, sosok Idham muda memang sudah lekat dengan dunia para ulama. Ia juga dikenal sebagai orang yang cerdas  dan berbakat dari kecil.

Sedari kecil, kemampuan berpikir dan berorasi Idham Chalid begitu kuat. Kelak, di kemudian hari, gaya retorika di panggung bisa sangat membius sejak menempuh pendidikan di sekolah rakyat (SR) hingga menjadi santri di Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo, Jatim pada 1922.

“Kelak, kemampuan pidatonya diakui secara luas di kancah nasional, baik sebagai penceramah, jurkam ataupun pengajar. Kemampuan ini dikombinasikan dengan kecerdasan dan kerendahan hati jadi modal bagi perjalanannya di dunia politik,” tulisnya di Hal 21

Perjuangan Politik di NU

Saat masa revolusi, lewat kemampuan berbahasa yang ia miliki, Jepang, Inggris, dan Arab, ia jadi penyambung lidah para ulama dengan Jepang, mulai dari penerjemahan surat hingga urusan diplomasi.

Ketika merdeka, ia lantas tergabung di sejumlah organisasi dan ikut juga tergabung dengan Masyumi.

Lantas, ketika NU keluar dari Masyumi karena perbedaan politik, ia pun bergabung dengan Partai NU yang dibawanya menjadi besar hingga menjadi salah satu kekuatan terbesar di zaman itu.

NU jadi partai besar, bahkan pada Pemilu 1955 yang dianggap para sejarawan jadi pemilu paling demokratis dalam sejarah, NU dibawanya memperoleh suara nomor 3 setelah PNI dan Masyumi.

Waktu itu, dalam metode berpikir KH Idham Chalid, harus ada unsur agama yang berada di kekuasaan. Biar unsur umara, konsep untuk kepemimpinan, harus ada penyeimbang, yakni unsur ulama agar segala keputusan nantinya tetap berada di tengah.  

Untuk itulah, ia cukup dekat dengan Bung Karno dan bahkan dianggap terlalu dekat hingga kadang membuat umat kebingungan dengan zigzag politik yang ia bangun.

Saking besarnya pengaruh KH Idham Chalid, ia jadi terpilih jadi Ketum PBNU termuda dalam sejarah yakni pada usia 34 tahun. Ia terpilih dalam Muktamar ke-21 NU di Medan.

Selain itu, sejarah mencatat, ia juga menjadi Ketum PBNU terlama yang menjabat, yakni dari 1956-1984 atau selama 28 tahun. Pengganti setelahnya adalah KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang kelak akan jadi Presiden ke-4 RI.

Filosofi Air dalam Berpolitik

Salah satu filosofi yang dipegang oleh KH Idham Chalid dalam berpolitik adalah soal air. Baginya, politik adalah urusan pengaruh. Terkait hal tersebut, maka harus bergerak dan tidak saklek hingga menjadikan air itu rusak karena tidak luwes.

Untuk itulah, ketika dalam masa revolusi, saat Bung Karno menelurkan konsep Nasionalis, Agama dan Komunis (Nasakom) yang kontroversial dalam sejarah, ia justru mendukungnya. Padahal, banyak unsur Islam yang menolak karena menganggap menyamaratakan antara komunisme dan agama.

Bagi Idham Chalid sebaliknya, justru Islam -khususnya NU- harus masuk dalam sistem sebagai pembanding. Faktanya, memang demikian yang terjadi.

Selama masa periode Bung Karno memimpin, ia pernah menjabat posisi penting di pemerintahan, mulai dari Wakil Perdana Menteri pada 1956 hingga jabatan Menteri.

Setelah peristiwa 30 September yang menggulingkan Bung Karno, berubah dengan Orde Baru pimpinan Soeharto, Idham Chalid tetap bercokol di tepian kekuasaan, seperti menjadi anggota DPR-MPR hingga jadi penyeimbang pemerintah Orde Baru yang mulai berkuasa penuh atas Republik. 

Ia masih menjabat ketum PBNU dan secara politik tetap kuat, Soeharto tentu tidak mau ambil risiko menghadapi kekuatan politik yang besar itu. Ketika Soeharto membuat unifikasi partai pada 1971, ia adalah deklarator Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebagai penyeimbang PDI dan Golkar—bikinan Orde Baru.

Filosofi air membuat Idham Chalid terus bergerak dan itulah alasan, ia disebut guru politik -bahkan mahaguru politik orang-orang NU. Berpolitik dengan gagasan dan visi mempertahankan Republik, bukan sekadar kekuasaan pendek semata ataupun perkara finansial.

Kelak, orang-orang menyebutnya sebagai politik keumatan. Inspirasinya dari sosok KH Idham Chaid.

Selain di politik nasional, laiknya seorang ulama, ia juga berkiprah dalam masyarakat, khususnya lewat pendidikan dengan sejumlah pesantren dan sekolah.

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.TV berjudul "Kiai dan Mahaguru Politik Orang NU Itu Bernama KH Idham Chalid"

- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp
!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!

 

 

 

 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved