Hanta Virus

Hantavirus Ditemukan di Ketapang, Dinkes Kalbar Minta Warga Terapkan PHBS

Ia menjelaskan, pola penularan tersebut menjadi karakteristik mayoritas kasus hantavirus yang ditemukan di sejumlah wilayah lain di Indonesia.

Tayang:
Penulis: Anggita Putri | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/KOLASE/SID
HANTA VIRUS - Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, dr. Erna Yulianti, membenarkan adanya temuan kasus tersebut. Ia menjelaskan, kasus hantavirus di Kalbar diketahui berdasarkan hasil pemeriksaan spesimen yang dikirim Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK). 

Ringkasan Berita:
  • Ia menjelaskan, pola penularan tersebut menjadi karakteristik mayoritas kasus hantavirus yang ditemukan di sejumlah wilayah lain di Indonesia.
  • Kasus di kapal tersebut lebih mengarah pada tipe HPS (Hantavirus Pulmonary Syndrome), yang memungkinkan penularan dari manusia ke manusia.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat sebanyak 23 kasus hantavirus terkonfirmasi di sejumlah wilayah Indonesia. Dari jumlah tersebut, satu kasus ditemukan di Provinsi Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Ketapang.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, dr. Erna Yulianti, membenarkan adanya temuan kasus tersebut. 

Ia menjelaskan, kasus hantavirus di Kalbar diketahui berdasarkan hasil pemeriksaan spesimen yang dikirim Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK).

Menurut dr. Erna, kasus yang ditemukan di Kalbar termasuk kategori HFRS (Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome), yakni jenis hantavirus yang ditularkan dari hewan ke manusia.

“Penularannya berasal dari hewan ke manusia,” ujar dr. Erna.

Ia menjelaskan, pola penularan tersebut menjadi karakteristik mayoritas kasus hantavirus yang ditemukan di sejumlah wilayah lain di Indonesia.

Warga Ketapang Meninggal Akibat Virus Hanta, Penularan Disebut Berasal dari Tikus

Dr. Erna juga menegaskan bahwa jenis hantavirus yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan kasus yang sempat ramai diberitakan di kapal pesiar MV Hondius. 

Kasus di kapal tersebut lebih mengarah pada tipe HPS (Hantavirus Pulmonary Syndrome), yang memungkinkan penularan dari manusia ke manusia.

Menurutnya, perbedaan antara HFRS dan HPS dipengaruhi oleh kondisi geografis serta jenis virus penyebabnya.

Pada kasus HFRS, penularan dapat terjadi melalui makanan atau benda yang terkontaminasi kotoran tikus. 

Karena itu, kebersihan lingkungan dan perilaku hidup bersih menjadi faktor penting dalam pencegahan penularan.

Sementara pada kasus HPS, penularan umumnya terjadi ketika seseorang menghirup partikel dari sisa kotoran tikus di suatu tempat sehingga menyebabkan infeksi hantavirus.

“Jadi juga perlu ditekankan bahwa hantavirus ini berbeda dengan Covid-19,” katanya.

Meski demikian, masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi mereka yang sering beraktivitas di lingkungan lembap atau lokasi yang berpotensi menjadi sarang tikus, seperti gudang, saluran air, area pertanian, dan tempat sejenisnya.

“Karena memang berdasarkan kasus yang ada, rata-rata pasien memiliki riwayat aktivitas di lingkungan yang berpotensi menjadi habitat tikus,” jelasnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved