Pengamat Soroti Dampak Kenaikan Solar Nonsubsidi, Harga Bahan Pokok Terancam Naik

Menurutnya Kenaikan harga solar non-subsidi di Kalimantan Barat memicu peningkatan biaya operasional logistik dan transportasi, kondisi

Tayang:
Penulis: Peggy Dania | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Peggy Dania
DAMPAK SOLAR SUBSIDI - Pengamat ekonomi Kalimantan Barat sekaligus Dosen Senior Universitas Tanjungpura serta Wakil Ketua Umum Koordinator Pulau Kalimantan Pengurus Pusat Ikatan Cendekia Tionghoa Indonesia, Andy Kurniawan Bong, menyoroti dampak kenaikan solar non-subsidi terhadap sektor logistik dan harga kebutuhan pokok, Rabu 6 Mei 2026. 
Ringkasan Berita:
  • Andy menjelaskan, dampak kenaikan harga solar non-subsidi turut menyebabkan lonjakan harga kebutuhan pokok di pasaran akibat peningkatan tarif angkutan barang. 
  • Ia mengungkapkan, risiko ekonomi berupa potensi peningkatan angka kemiskinan dan PHK dapat terjadi akibat penurunan daya beli serta meningkatnya biaya produksi perusahaan.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pengamat ekonomi Kalimantan Barat sekaligus Dosen Senior Universitas Tanjungpura serta Wakil Ketua Umum Koordinator Pulau Kalimantan Pengurus Pusat Ikatan Cendekia Tionghoa Indonesia, Andy Kurniawan Bong, menilai kenaikan harga solar non-subsidi berdampak luas terhadap sektor logistik hingga daya beli masyarakat.

Menurutnya Kenaikan harga solar non-subsidi di Kalimantan Barat memicu peningkatan biaya operasional logistik dan transportasi, kondisi  ini berdampak langsung pada kenaikan harga bahan pokok di pasaran.

“Situasi ini menekan daya beli masyarakat menengah ke bawah, meningkatkan risiko inflasi, serta memperbesar potensi PHK akibat beban biaya produksi yang tinggi bagi industri,” kata Andy kepada tribunpontianak.co.id, Rabu 6 Mei 2026.

Andy menjelaskan, dampak kenaikan harga solar non-subsidi turut menyebabkan lonjakan harga kebutuhan pokok di pasaran akibat peningkatan tarif angkutan barang. 

Kondisi ini membuat harga produk sayur mayur dan sembako menjadi semakin tinggi.

Stok BBM Solar Minim Nelayan Selakau Terpaksa Tunda Melaut

Selain itu, biaya transportasi di berbagai sektor juga ikut meningkat signifikan.

“Tingginya biaya transportasi membuat beban sektor transportasi darat, alat berat dan air meningkat signifikan, yang pada akhirnya memicu kenaikan ongkos angkut,” tambahnya.

Ia mengungkapkan, risiko ekonomi berupa potensi peningkatan angka kemiskinan dan PHK dapat terjadi akibat penurunan daya beli serta meningkatnya biaya produksi perusahaan.

Ia juga menyoroti potensi kelangkaan solar di tingkat eceran akibat peralihan penggunaan.

“Kelangkaan solar eceran bisa terjadi karena peralihan ke solar subsidi, sehingga memicu antrean panjang dan dapat mempengaruhi kelancaran aktivitas masyarakat di Kota Pontianak khususnya dan Kalimantan Barat pada umumnya,” ungkapnya.

Andy menambahkan, kenaikan harga solar non-subsidi di Kalimantan Barat turut membebani anggaran operasional baik pribadi maupun pemerintah daerah sehingga menjadi semakin berat. (*)

- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp

!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved