Karhutla Kalbar

Link-Ar Borneo Soroti Karhutla dan Penurunan Kualitas Udara di Kalbar

Ia menyebut, kondisi tersebut terutama dirasakan di wilayah-wilayah yang dekat dengan Kota Pontianak, seperti Sungai Raya Dalam, Punggur

Tayang:
Penulis: Peggy Dania | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Peggy Dania
KARHUTLA KALBAR - Ketua Link-AR Borneo, Ahmad Syukri, mendorong peningkatan mitigasi karhutla seiring menurunnya kualitas udara di Kalimantan Barat, Kamis 26 Maret 2026. 
Ringkasan Berita:
  • Ketua Link-AR Borneo, Ahmad Syukri, mengatakan, kondisi ini berdasarkan analisa singkat dari situasi yang tampak di lapangan.
  • Ia mengungkapkan, berdasarkan data BMKG per 26 Maret 2026 kualitas udara di Kubu Raya sudah berada pada kategori tidak sehat.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Lingkaran Advokasi dan Riset (Link-AR) Borneo menyoroti mulai munculnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah titik di Kalimantan Barat, khususnya di wilayah Kubu Raya yang berdampak pada penurunan kualitas udara.

Ketua Link-AR Borneo, Ahmad Syukri, mengatakan, kondisi ini berdasarkan analisa singkat dari situasi yang tampak di lapangan.

“Pendapat kami ini berdasarkan analisa singkat apa yang tampak dan dirasakan, dan dari pengalaman penanganan karhutla dan bencana kabut asap di Kalbar dari waktu ke waktu,” ujarnya kepada tribunpontianak.co.id, Kamis 26 Maret 2026.

Ia mengungkapkan, berdasarkan data BMKG per 26 Maret 2026 kualitas udara di Kubu Raya sudah berada pada kategori tidak sehat.

“Dari data BMKG, kualitas udara di Kubu Raya per 26 Maret 2026 dikategorikan tidak sehat. Ini beriringan dengan meningkatnya jumlah titik panas di Kubu Raya, bahkan dirasakan hingga Kota Pontianak,” katanya.

Arus Balik Lebaran 2026, Penumpang Mulai Antre di Kantor DAMRI Pontianak

Ia menyebut, kondisi tersebut terutama dirasakan di wilayah-wilayah yang dekat dengan Kota Pontianak, seperti Sungai Raya Dalam, Punggur, Rasau Jaya, Limbung, dan sekitarnya.

Menurutnya, kemunculan karhutla ini juga dipengaruhi oleh datangnya musim kemarau lebih awal.

“Seperti diketahui daerah batas Kota Pontianak dengan Kubu Raya dilingkari kawasan gambut, area yang sejak dulu rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan yang menyebabkan bencana kabut asap,” lanjutnya.

Terkait penanganan, ia menilai langkah Pemerintah Kabupaten Kubu Raya sudah cukup baik dalam merespons kondisi tersebut.

“Apa yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Kubu Raya sangat baik, dipimpin langsung Bupati Sujiwo dalam beberapa kali operasi pemadaman dan bekerja sama dengan semua pihak untuk mengambil tindakan respon darurat,” ungkapnya.

Namun demikian, ia menekankan agar penanganan karhutla dilakukan secara terpadu berbasis lanskap dan tidak dibatasi oleh batas-batas administrasi desa, kecamatan dan kabupaten.

Ia juga mendorong pengaktifan satuan tugas (satgas) karhutla di desa-desa rawan sebagai langkah prioritas.

“Pengaktifan satgas karhutla di tiap desa yang rentan adalah hal paling prioritas saat ini, walaupun terkendala alat dan sumber air yang terbatas, mengingat lokasi karhutla yang jauh dari sumber air,” tambahnya.

Selain itu, Ahmad menyarankan penambahan peralatan pemadam serta pembuatan sumur darurat di wilayah rawan karhutla.

Lebih lanjut, ia mengingatkan pemerintah daerah untuk meningkatkan upaya mitigasi.

“Pemerintah Provinsi Kalbar dan kabupaten mesti memberikan perhatian tinggi dalam memitigasi situasi ini, mengingat ancaman El Nino tahun ini yang akan melanda Kalimantan Barat,” ucap Ahmad.

Ahmad juga menegaskan perlunya tindakan tegas terhadap perusahaan yang terbukti menjadi penyebab karhutla.

“Tindakan tegas harus diberikan kepada perusahaan atau korporasi yang terbukti menjadi dalang karhutla, baik sawit, tambang, perkebunan kayu, maupun pengembang perumahan,” tegasnya.

Di sisi lain, masyarakat juga perlu diberikan edukasi dan pendampingan dalam mengelola lahan tanpa membakar.

“Dan bagi masyarakat harus lebih preventif, dididik dan dibina dan didampingi mengolah tanah gambut dengan baik sembari menjaganya. Dan pemerintah mesti memastikan market komoditi yang ditanam masyarakat / petani yang hidup disekitar kawasan gambut hasil olahan tanpa membakar. Pendekatan ke masyarakat tidak bisa hanya dengan larangan, harus ada solusi ekonomi yang kongkret,” ucapnya.

Ahmad turut mengingatkan kesiapan fasilitas kesehatan dan perlindungan masyarakat harus dilakukan sejak dini.

“Di desa-desa dan kota mesti menyiapkan sedari dini fasilitas. Masker sudah harus disebar lebih awal, sekolah-sekolah dan puskesmas serta rumah sakit disiapkan untuk siaga ISPA dan bencana kekeringan serta kabut asap,” pungkasnya. (*)

- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp

!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved