Gemawan Gelar Diskusi Menanam Narasi, Menuai Perubahan, Bahas Cerita Perempuan

Dalam diskusi tersebut, pegiat Gemawan Arniyanti menyoroti persoalan administrasi negara yang dinilai masih membatasi pengakuan terhadap

Penulis: Peggy Dania | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Peggy Dania
FOTO BERSAMA - Gemawan menggelar diskusi bertajuk Menanam Narasi, Menuai Perubahan: Menguatkan Cerita Perempuan dan Pengelolaan Sumber Daya Alam di Rumah Gesit Borneo, Kota Pontianak, Provinsi Kalbar, Kamis 5 Maret 2026. 

Ringkasan Berita:
  • Direktur Gemawan, Laily Khainur mengatakan G-Talks menjadi ruang untuk menyuarakan yang selama ini dibungkam oleh sistem. 
  • Menurutnya, bicara gender dalam pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) berarti juga bicara tentang keadilan yang mendasar.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Gemawan menggelar diskusi bertajuk Menanam Narasi, Menuai Perubahan: Menguatkan Cerita Perempuan dan Pengelolaan Sumber Daya Alam melalui agenda G-Talks (Gemawan Team Agenda Learning and Knowledge Sharing) di Rumah Gesit Borneo, Kota Pontianak, Provinsi Kalbar, Kamis 6 Maret 2026. 

Kegiatan ini dihadiri berbagai elemen masyarakat sipil mulai dari Civil Society Organization (CSO), Non Governmental Organization (NGO), komunitas akar rumput hingga jurnalis.

Direktur Gemawan, Laily Khainur mengatakan G-Talks menjadi ruang untuk menyuarakan yang selama ini dibungkam oleh sistem. 

Menurutnya, bicara gender dalam pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) berarti juga bicara tentang keadilan yang mendasar.

“G-Talks kali ini adalah cara kita secara bersama-sama menyuarakan apa yang selama ini belum bersuara. bicara gender, artinya kita bicara isu keadilan. Gender bukan hanya tentang perempuan, tetapi juga tentang laki-laki dan seluruh tatanan sosial di dalamnya,” ungkapnya.

Ia menegaskan, banyak cerita perjuangan masyarakat di tingkat akar rumput yang jarang mendapat perhatian.

“Kita ingin mengangkat cerita-cerita itu. cerita tentang ketangguhan yang seringkali dianggap biasa saja, padahal itu adalah bentuk perlawanan,” tegasnya.

Cuaca Kalbar Besok 7 Maret 2026 di 14 Daerah! Sebagian Wilayah Panas Imbas Karhutla, Pontianak Hujan

Dalam diskusi tersebut, pegiat Gemawan Arniyanti menyoroti persoalan administrasi negara yang dinilai masih membatasi pengakuan terhadap peran perempuan.

“Dalam catatan administrasi, banyak perempuan yang hanya ditulis sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT) dalam Kartu Tanda Penduduknya (KTP), padahal dalam realitanya mereka adalah petani yang menggarap tanah setiap hari. Ada masalah struktural yang serius ketika kita bicara tentang SDA namun abai terhadap pengakuan identitas ini,” ujarnya. 

Ia mengatakan kondisi tersebut dapat berdampak pada terbatasnya akses perempuan terhadap berbagai program pengelolaan tanah maupun bantuan pertanian hanya karena profesinya yang dianggap tidak ada dalam kolom Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Sementara itu, Putri Lestari dari Keep Earth Borneo (KEB) mengatakan hambatan administrasi juga dapat memengaruhi keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan.

“Karena akses pelatihan seringkali mensyaratkan status pekerjaan tertentu, perempuan pada akhirnya terpinggirkan. Lelaki kemudian menjadi lebih dominan dalam keputusan-keputusan strategis terkait Sumber Daya Alam, sementara perempuan yang turut bersentuhan langsung dengan tanah justru tidak dilibatkan,” jelas Putri. 

Dari sisi komunikasi, Siti Salbiyah dari Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK) menilai narasi memiliki peran penting dalam advokasi isu lingkungan dan perempuan.

“Isu Sumber Daya Alam dan perempuan seringkali hanya mengangkat sisi kesedihannya saja, padahal dibalik bencana alam, hingga konflik lahan. Ada banyak cerita yang menarik dan menginspirasi. narasi yang menggerakan bisa coba kita tuliskan,” katanya.

Ia menambahkan narasi yang kuat juga dapat menjadi alat advokasi dalam mendorong perubahan kebijakan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved