Era Digital Ubah Pola Belanja, Toko Buku Offline Semakin Sepi
Penjualan buku di sejumlah toko buku offline di Pontianak mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir
Penulis: Ayu Nadila | Editor: Try Juliansyah
Ringkasan Berita:
- Pemilik toko, panggil saja Koko, mengungkapkan penurunan paling terasa pada penjualan buku pelajaran dan buku umum.
- Menurut Koko, perubahan pola belajar anak-anak menjadi salah satu penyebab turunnya minat beli buku.
- Saat ini, banyak siswa yang lebih memilih menggunakan perangkat digital dibandingkan buku tulis maupun buku cetak.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Penjualan buku di sejumlah toko buku offline di Pontianak mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, salah satunya dirasakan Toko Buku Lestari.
Pemilik toko, panggil saja Koko, mengungkapkan penurunan paling terasa pada penjualan buku pelajaran dan buku umum.
"Kalau untuk buku pelajaran berkurang, jadi hanya ada satu penerbitan yang saya jual. Kalau untuk penerbitan lain berkurang pasarkannya," ujarnya saat diwawancarai tribunpontianak.co.id , di Jl Juanda, Selasa 24 Februari 2026.
Menurut Koko, perubahan pola belajar anak-anak menjadi salah satu penyebab turunnya minat beli buku. Saat ini, banyak siswa yang lebih memilih menggunakan perangkat digital dibandingkan buku tulis maupun buku cetak.
"Anak-anak sekarang kalau belanja kebanyakan menggunakan aplikasi online, mengerjakan sesuatu juga di iPad, ngetik di HP terus dikirim menjadi PDF," katanya.
Ia menambahkan, penggunaan buku tulis pun kini semakin jarang.
Baca juga: Sejak Kecil Dibiasakan Membaca, Jessy Jadikan Koleksi Buku Fisik sebagai Lifestyle
"Jadi untuk penggunaan buku tulis itu jarang, untuk buku tulis sendiri peminatnya sudah sedikit, kebanyakan hampir tidak ada yang menggunakan buku tulis," ungkapnya.
Penurunan juga terlihat saat momentum tahun ajaran baru. Jika sebelumnya masa ramai bisa berlangsung lebih dari sebulan, kini hanya sekitar dua minggu, bahkan pernah hanya satu minggu.
"Biasanya kalau ada tahun ajaran baru ramai bisa sampai sebulanan lebih, sekarang hanya dua mingguan saja. Tahun kemarin saja ramainya hanya seminggu lebih paling lama," jelasnya.
Koko menyebut, sejumlah sekolah kini mencetak atau memproduksi buku sendiri. Sekolah negeri memiliki koperasi, sementara beberapa sekolah swasta menyediakan buku langsung dari sekolah.
"Terkadang sekolah elite juga produksi sendiri, kalau yang sekolah negeri ada koperasinya sendiri, buku peminatan dropnya dari sekolah. Jadi kita sebagai penjual di toko tidak kebagian, ini menjadi kendala juga sebagai penjual buku di toko dan ini berlangsung sejak masa pandemi sampai sekarang," katanya.
Selain itu, kemudahan belanja online juga turut memengaruhi penjualan toko offline. Masyarakat dinilai lebih memilih membeli secara daring karena praktis dan cepat.
"Mungkin masyarakat merasa termudah jika beli sesuatu di online, dan mengerjakan sesuatu hal menggunakan iPad atau HP, sumber ilmu tinggal cari di Google," ubgkapnya.
Ia mengatakan, buku umum dan buku ilmu pengetahuan yang dulu masih diminati kini semakin jarang terjual.
"Kalau dulu buku umum, buku-buku ilmu pengetahuan masih bisa dijual, kalau sekarang berkurang, sekarang beralih ke HP," katanya.
| Universitas PGRI Pontianak Belum Terima Resmi SE PJJ, Soroti Kesiapan Infrastruktur |
|
|---|
| Untan Akan Mempedomani SE Mendiktisaintek, Perkuliahan Disesuaikan Prodi |
|
|---|
| Poltesa Masih Terapkan Kuliah Luring, Hari Jumat Secara Daring untuk Pembejaran Teori |
|
|---|
| Buka Sosialisasi Penyaluran Dana Hibah, Bupati Ingatkan Agar Gunakan Dana Hibah Sesuai Aturan |
|
|---|
| Akademisi UPGRI Pontianak Ingatkan Risiko dan Peluang Kebijakan Kuliah Jarak Jauh Mahasiswa |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/Penjualan-buku-di-sejum.jpg)