Sejak SMK Gemar Membaca, Rama Konsisten Koleksi Buku Fisik

Di tengah maraknya e-book dan derasnya konten digital sebagian generasi Z ternyata masih setia berburu buku fisik.

Penulis: Peggy Dania | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Istimewa
KOLEKSI BUKU - Anugrah Ramadhan (23) saat membaca buku di kediamannya di Pontianak, Senin 23 Februari 2026. Sejak SMK ia konsisten mengoleksi buku fisik karena dinilai minim distraksi dan memiliki sensasi berbeda dibanding e-book. 

Ringkasan Berita:
  • Salah satunya Anugrah Ramadhan (23) biasa dipanggil Rama, mengaku sudah menyukai buku cetak sejak duduk di bangku SMK.
  • Menurut Rama, ada sensasi berbeda saat membaca buku cetak dibandingkan lewat layar gawai.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Di tengah maraknya e-book dan derasnya konten digital sebagian generasi Z ternyata masih setia berburu buku fisik.

Salah satunya Anugrah Ramadhan (23) biasa dipanggil Rama, mengaku sudah menyukai buku cetak sejak duduk di bangku SMK.

“Sejak SMK memang sudah terbiasa baca buku fisik,” ujarnya, Senin 23 Februari 2026.

Menurut Rama, ada sensasi berbeda saat membaca buku cetak dibandingkan lewat layar gawai.

Aroma kertas, tekstur halaman, hingga perasaan saat menggenggam buku menjadi pengalaman yang tidak tergantikan.

“Bau, tekstur, dan feeling digenggam tangan itu beda. Selain itu minim distraksi seperti notifikasi atau iklan,” ucapnya.

Meski hidup di era BookTok dan Bookstagram Rama mengaku tren media sosial tidak terlalu memengaruhi kebiasaan membacanya.

“Kebiasaan membaca sudah ada sebelum Bookstagram atau BookTok hadir, jadi itu tidak memengaruhi,” jelasnya.

Baca juga: Di Tengah Gempuran Digital, Penjualan Buku Fisik di Pontianak Tetap Naik

Untuk mendapatkan buku baru, ia biasanya membeli langsung di toko buku seperti Gramedia.

Sementara untuk buku bekas, ia kerap berburu secara daring melalui marketplace.

Soal frekuensi belanja, ia mengaku tidak terlalu sering membeli buku.

“Jarang banget sih, cuma normalnya dua sampai tiga bulan sekali atau kalau ada buku yang benar-benar diminati,” ungkapnya.

Baginya, buku fisik juga lebih menarik untuk dikoleksi dan dapat disimpan dalam jangka panjang.

“Koleksi buku menjadi upaya pengembangan literasi dari gerakan yang aku bangun sebagai penyedia lapak baca jalanan,” tambahnya.

Meski demikian, ia mengakui harga buku yang relatif mahal menjadi tantangan tersendiri terutama bagi kalangan ekonomi menengah ke bawah.

“Harga buku mahal. Kalau bicara kalangan ekonomi menengah ke bawah, tentu cukup berat,” katanya. (*)

- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp

!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved