Hampir 40 Tahun Bertahan, Dodol Seng Hong Jadi Warisan Usaha Keluarga di Pontianak
Dibalik ramainya permintaan kue keranjang menjelang perayaan Imlek, terdapat kisah usaha keluarga Dodol Seng Hong.
Penulis: Peggy Dania | Editor: Try Juliansyah
Ringkasan Berita:
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Dibalik ramainya permintaan kue keranjang menjelang perayaan Imlek, terdapat kisah usaha keluarga Dodol Seng Hong yang telah bertahan hampir 40 tahun di Pontianak.
Riin Sandrayanti, anak dari Owner Dodol Seng Hong Pontianak, mengungkapkan bahwa usaha tersebut dirintis oleh orang tuanya.
“Ini kan warisan dari bapak, dari almarhum bapak jadi kita terusin gitu,” ujar Riin saat diwawancarai di Gang Tria IV, Sungai Bangkong, Kecamatan Pontianak Kota, Kota Pontianak, Provinsi Kalbar, Minggu 8 Februari 2026.
Riin mengungkapkan, usaha kue keranjang yang dijalankan keluarganya telah ada sejak ia masih kecil, bahkan sebelum dirinya lahir.
“Berpuluhan. Dari aku kecil sih, kayaknya aku belum lahir ya. Iya, hampir 40 lah berarti, hampir 40 tahun,” katanya.
Meski banyak produsen lain menjual kue keranjang sepanjang tahun, usaha keluarga tersebut memilih mempertahankan pola produksi musiman untuk menjaga ciri khas tradisi yang melekat pada produk tersebut.
Selain kue keranjang, Dodol Seng Hong juga memproduksi dodol yang telah dijalankan dalam kurun waktu hampir sama lamanya.
“Dodolnya kurang lebih sama sih, 40-an tahun adalah,” ucapnya.
Baca juga: Dari Trotoar untuk Kota, Peta Rasa Perkuat Identitas Pontianak
Riin menjelaskan, usaha yang dirintis ayahnya tersebut dijalankan secara otodidak.
Berbagai jenis usaha pernah dicoba sebelum akhirnya menemukan resep dan proses produksi yang bertahan hingga kini.
“Sebenernya Bapak tuh juga otodidak sih. Bukan yang belajar sama orang ya. Jadi memang karena trial and error sih. Sampai dapet resep terbaik, proses yang terbaik. Baru jadi seperti sekarang,” lanjutnya.
Dalam mempertahankan usaha keluarga agar tetap bertahan hingga puluhan tahun, Riin menekankan pentingnya konsistensi dan kepuasan pelanggan.
“Yang pasti itu adalah kepuasan customer itu tetap jadi prioritas kita. Jadi masukan dari mereka itu adalah salah satu aspek terpenting sih di dalam mempertahankan usaha ini,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pihaknya memilih tetap menjaga kualitas produk meski harga bahan baku mengalami kenaikan.
“Jangan karena misalnya bahan naik kayak sekarang nih. Nah cuman kami pikir-pikir, jangan deh, kepuasan customer nomor satu. Jadi kita tetap jual dengan harga normal dengan ukuran normal, meskipun harga bahan baku naik. Salah satu bentuk yang harus kita pertanggungjawabkan,” tambahnya.
| Update Kasus Irfan Zaki Azizi, Tim Hukum KAHMI Kalbar Kawal Dugaan Kekerasan Anak di Ponpes Labbaik |
|
|---|
| Capaian Nama Rupabumi Sintang Terus Meningkat, Kecamatan Sungai Tebelian Jadi Fokus Pengumpulan Data |
|
|---|
| Perceraian Dinilai Ancam Masa Depan Anak, Wabup Sambas Heroaldi Ambil Sikap |
|
|---|
| Tangis Ibu Wesley Pecah, Tengkorak Kepala Pecah hingga Kaki Tak Bisa Bergerak Akibat Saraf Rusak |
|
|---|
| Terungkap Skenario Sadis Bocah di Singkawang, Usir Teman Lain Sebelum Pukul Kepala Wesley Pakai Palu |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/saat-diwawancarai-di-Gang.jpg)