Solar Subsidi Langka
Jeritan Pilu Nelayan Paloh Sambas, Nekat Melaut Berujung Hanyut ke Malaysia
Pria paruh baya yang akrab disapa Pak Itam ini merupakan nelayan aktif sekaligus Ketua Kelompok Nelayan Kuda Laut dari Desa Sebubus
Penulis: Imam Maksum | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
Untuk kapal berkapasitas 20 PK, 24 PK, hingga 34 PK yang mereka gunakan, kebutuhan mutlak agar bisa pulang dengan selamat minimal adalah 20 hingga 25 liter solar.
Demi mengikis rasa takut mati konyol terombang-ambing hingga ditangkap otoritas Malaysia, para nelayan kecil ini terpaksa memutar otak.
Mereka terpaksa membeli solar tambahan nonsubsidi di tingkat eceran dengan harga yang mencekik leher.
Jika di SPBU harga solar bersubsidi berada di angka Rp 7.000 per liter, maka di tingkat pengecer luar, para nelayan harus merogoh kocek mendalam hingga Rp 15.000 sampai Rp 18.000 per liter.
Jenis Bahan Bakar Harga di SPBU Resmi Harga Eceran Terpaksa Kebutuhan Riil Kapal
Solar/BBM Nelayan Rp 7.000/ Liter Rp 15.000 - Rp 18.000/ Liter Minimal 20 - 25 Liter / Trip
Sebuah angka yang sangat berat bagi sekadar menyambung napas dapur di rumah. Pak Itam menegaskan, keputusan membeli solar mahal itu bukan karena mereka memiliki uang lebih.
"Nelayan tidak ada kayanya bang. Tapi demi untuk tetap bisa melaut, demi mencari ikan untuk anak istri, kita terpaksa beli. Kami membeli bukan karena kami berduit," ungkapnya dengan tatapan mata kosong.
Menanti Uluran Tangan Pemerintah: Selain Solar, Es Batu Juga Langka
Selain jerat solar yang mencekik, para nelayan di ekor pulau Kalimantan ini juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan pasokan balok es batu di pesisir Paloh.
Tanpa es batu yang cukup, ikan hasil tangkapan mereka akan membusuk sebelum sampai ke daratan, membuat harga jual jatuh berantakan.
Seusai duduk bersama para pemangku kebijakan, secercah harapan kini digantungkan para nelayan di pundak pemerintah Kabupaten Sambas.
Mereka sangat berharap ada kebijakan diskresi khusus yang melihat kapasitas mesin kapal (PK) secara riil di lapangan, sehingga kuota solar bersubsidi bisa ditambah menjadi minimal 20 hingga 30 liter per surat rekomendasi.
"Semoga ada upaya nyata dari pemerintah untuk memperhatikan nasib kami di perbatasan. Tadi syukurnya sudah ada lampu hijau dan obrolan yang baik dari pihak SPBU maupun dinas. Kami hanya ingin melaut dengan tenang, tanpa rasa takut kehabisan minyak di tengah laut," tutup Pak Itam penuh harap.
Kini, puluhan nelayan Paloh pulang kembali ke pesisir, menanti janji manis birokrasi berubah menjadi realisasi, agar perahu mereka bisa kembali melaju membelah ombak tanpa bayang-bayang hanyut ke negeri tetangga. (*)
- Ikuti Instagram Tribun Pontianak IG TRIBUN
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp
- Baca Berita Terbaru di GOOGLE NEWS
solar subsidi langka
nelayansambas
Nelayan Sambas
BBM subsidi nelayan
kelompok nelayan
Kampung Nelayan
Nelayan
Berita Terbaru Tribun Pontianak
Kalbar
Paloh
Malaysia
Sambas
| Penyeberangan Teluk Batang–Rasau Jaya Kembali Normal, Tarif Tiket Kapal Dipastikan Tidak Naik |
|
|---|
| Kapal Klotok Lumpuh Total, Gubernur Ria Norsan Ultimatum Pertamina Segera Atasi Kelangkaan Solar! |
|
|---|
| Mogok Klotok Akibat Solar Mahal Mulai Berakhir, Aktivitas Pelabuhan Kembali Normal |
|
|---|
| Pemkab Kubu Raya Turun Tangan usai Kapal Klotok Mogok, Guru hingga Nelayan Terdampak Solar Langka |
|
|---|
| Bupati Sujiwo Keluarkan Dispensasi Pengambilan Solar Bagi Pengusaha Kapal Kelotok |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/solar-bersubsidi-435tredfg.jpg)