Banjir Sintang

Banjir di Sintang Rusak Infrastruktur, Jembatan Putus Hingga Rumah Rusak Berat

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Sintang, Benyamin mengatakan kerusakan infrastruktur menjadi tantangan

Tayang:
Penulis: Agus Pujianto | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
JEMBATAN AMBRUK - Jembatan di Desa Nanga Ungai Kecamatan Kayan Hilir rusak akibat banjir. Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Sintang sejak 17 Mei 2026 tak hanya merendam ribuan rumah warga, tetapi juga menyebabkan kerusakan serius pada infrastruktur. Kerusakan paling parah berupa jembatan yang rusak hingga putus di beberapa desa. 

Ringkasan Berita:
  • Fokus perhatian kini mengarah pada kerusakan infrastruktur yang dinilai menghambat distribusi bantuan dan mobilitas warga. 
  • Sebanyak 11 jembatan dilaporkan rusak atau putus, termasuk jembatan gantung dan akses jalan utama di wilayah Desa Nanga Ungai serta Desa Nanga Toran. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Sintang sejak 17 Mei 2026 tak hanya merendam ribuan rumah warga, tetapi juga menyebabkan kerusakan serius pada infrastruktur. 

Kerusakan paling parah berupa jembatan yang rusak hingga putus di beberapa desa. 

Data terbaru dari Pusdalops PB TRC BPBD Kabupaten Sintang per 20 Mei 2026 pukul 11.30 WIB mencatat, sebanyak 47 desa di tiga kecamatan terdampak banjir, yakni Kecamatan Kayan Hulu, Kecamatan Kayan Hilir, dan Kecamatan Kelam Permai. Total warga terdampak mencapai 5.078 kepala keluarga. 

Fokus perhatian kini mengarah pada kerusakan infrastruktur yang dinilai menghambat distribusi bantuan dan mobilitas warga. 

Sebanyak 11 jembatan dilaporkan rusak atau putus, termasuk jembatan gantung dan akses jalan utama di wilayah Desa Nanga Ungai serta Desa Nanga Toran. 

Selain itu, 12 rumah warga juga mengalami kerusakan, dengan lima unit di antaranya rusak berat di wilayah Kayan Hulu. 

Jembatan Penghubung Desa Kubu-Teluk Nangka Ambruk, Akses Warga Terputus!

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Sintang, Benyamin mengatakan kerusakan infrastruktur menjadi tantangan utama dalam penanganan banjir saat ini, terutama untuk menjangkau desa-desa yang masih terisolir. 

“Banjir kali ini tidak hanya berdampak pada permukiman warga, tetapi juga merusak akses transportasi. Ada 11 jembatan yang rusak dan beberapa di antaranya putus total. Ini menjadi perhatian utama karena menghambat penyaluran bantuan dan mobilitas masyarakat,” ujar Benyamin. 

Menurutnya, titik kerusakan paling parah berada di Desa Neran Baya, Kecamatan Kayan Hulu, di mana dua jembatan mengalami rusak berat. Kondisi tersebut membuat akses warga ke pusat desa maupun ke wilayah lain terganggu. 

“Desa Neran Baya menjadi salah satu lokasi terparah karena ada dua jembatan yang rusak berat. Sementara di Nanga Ungai dan Nanga Toran, jembatan yang putus juga menghambat jalur utama masyarakat,” jelasnya. 

Meski di beberapa wilayah seperti Kayan Hulu dan Kelam Permai air mulai berangsur surut, Benyamin menyebut banjir masih merendam sejumlah desa di Kayan Hilir akibat kiriman air dari wilayah hulu. 

BPBD Kabupaten Sintang saat ini telah menyalurkan bantuan logistik untuk mendukung dapur umum sementara di desa terdampak. 

Selain itu, desa tangguh bencana di 47 desa juga telah diaktifkan untuk membantu pemantauan kondisi lapangan dan distribusi bantuan. 

Benyamin menegaskan, perbaikan darurat terhadap jembatan yang putus menjadi prioritas agar akses ke desa terdampak bisa segera dibuka kembali. 

“Langkah darurat yang akan diprioritaskan adalah membuka akses pada jembatan putus, terutama di Nanga Ungai dan Nanga Toran. Tanpa akses yang baik, penanganan bantuan ke masyarakat akan terkendala,” pungkasnya. (*)

- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp
- Ikuti Instagram Tribun Pontianak IG TRIBUN

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved