Sosok Korban Pembacokan di Pemangkat Sambas Ternyata Suami Kepala Dusun

Ia mengalami luka serius di bagian lengan akibat sabetan parang dari terduga pelaku berinisial A, hingga harus mendapat 17 jahitan.

Tayang:
TRIBUN PONTIANAK/ISTIMEWA
PEMBACOKAN DI PEMANGKAT - Ilustrasi pembacokan. Terungkap sosok korban pembacokan di Dusun Tanjung Batu, Desa Pemangkat Kota, Kecamatan Pemangkat, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat, Minggu 17 Mei 2026. 

Ringkasan Berita:
  • Peristiwa berdarah ini terjadi di Dusun Tanjung Batu, Desa Pemangkat Kota, Kecamatan Pemangkat, Minggu 17 Mei 2026 dan langsung menghebohkan warga.
  • Korban bernama Ilham, warga lokal yang juga suami dari Kepala Dusun setempat.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS - Sosok korban pembacokan di Kecamatan Pemangkat, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat ternyata bukan warga lokal biasa.

Peristiwa berdarah ini terjadi di Dusun Tanjung Batu, Desa Pemangkat Kota, Kecamatan Pemangkat, Minggu 17 Mei 2026 dan langsung menghebohkan warga.

Korban bernama Ilham, warga lokal yang juga suami dari Kepala Dusun setempat.

Ia mengalami luka serius di bagian lengan akibat sabetan parang dari terduga pelaku berinisial A, hingga harus mendapat 17 jahitan.

Kronologi

Kronologi kejadian itu bermula ketika sejumlah warga Dusun Tanjung Batu mengadakan kerja bakti membersihkan lingkungan dan merusak speed bump atau polisi tidur pada Minggu 17 Mei 2026 pagi. 

Kepala Desa Pemangkat Kota Kasful Anwar ketika dikonfirmasi membenarkan terjadinya dugaan penganiayaan di Desa Pemangkat Kota yang mengakibatkan seorang warga terluka.

"Kemarin kejadiannya sekitar pagi ya, pagi hari. Itu awalnya warga masyarakat setempat itu kerja bakti. Kerja bakti di lingkungan, di Dusun Tanjung Batu, Desa Pemangkat Kota," katanya.

 Polisi Tidur Dibongkar, Warga Serang Suami Kepala Dusun di Sambas dengan Sajam dan Luka 17 Jahitan

Kasful Anwar menjelaskan, penganiayaan itu terjadi dipicu akibat masyarakat merusak bangunan speed bump polisi tidur.

Namun seorang warga yang diduga pembuat speed bump tidak terima karena aksi perusakan tersebut.

"Karena permasalahan yang di lapangan ada bandul atau polisi tidur lah di lingkungan setempat yang dibangun oleh masyarakat, salah satu masyarakat, dengan jarak yang pendek dan tinggi sehingga meresahkan lingkungan masyarakat setempat," ungkapnya. 

"Maka masyarakat yang pada saat kerja bakti, menghancurkan bandulan itu atau polisi tidur, dipecahkan dan diratakan kembali dan dikerjakan lah oleh masyarakat setempat untuk penghancuran bandulan tersebut," ujarnya.

Menurut Kasful Anwar, pembangunan tiga buah speed bump itu sebelumnya tidak berkoordinasi dengan pemerintah desa dan warga lainnya.

"Pembangunan itu, dari pemdes kita tidak tahu. Karena dari salah satu masyarakat itu membangun, artinya untuk supaya masyarakat yang lewat tidak laju. Itu alasan dia membangun polisi tidur itu," tegasnya.

Namun menurut dia, sejumlah warga proses karena banguna tiga speed bump terlalu tinggi dan kerap membahayakan warga saat melintas.

"Cuman masalahnya bandulan tersebut itu terlalu tinggi dan jaraknya terlalu dekat sehingga banyak korban dari masyarakat yang jatuh melalui jalan tersebut," ungkapnya.

 Profil Sapi Simental Asal Tebas Sambas Pilihan Presiden Prabowo, Berapa Bobot dan Harganya?

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved