Melemahnya Rupiah Jadi Ancaman Inflasi, Tapi Buka Peluang bagi Eksportir Indonesia
Menurut Andy, dampak paling nyata yang dirasakan masyarakat ialah naiknya harga barang impor .
Penulis: Peggy Dania | Editor: Syahroni
Ringkasan Berita:
- Andy Kurniawan Bong menilai kenaikan nilai tukar dolar terhadap rupiah menyebabkan lonjakan biaya produksi, inflasi barang impor, serta meningkatnya beban utang luar negeri karena harga bahan baku dan barang impor menjadi lebih mahal.
- Meski berdampak negatif, pelemahan rupiah juga memberi keuntungan bagi sektor ekspor dan pariwisata karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar global serta biaya wisata ke Indonesia lebih murah bagi turis asing.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi sorotan.
Pengamat ekonomi Kalimantan Barat, Andy Kurniawan Bong menilai kondisi tersebut membawa dampak besar terhadap perekonomian nasional, baik dari sisi negatif maupun positif.
Dosen Senior Universitas Tanjungpura sekaligus Wakil Ketua Umum Koordinator Pulau Kalimantan Pengurus Pusat Ikatan Cendekia Tionghoa Indonesia itu mengatakan, kenaikan nilai tukar dolar terhadap rupiah menyebabkan tekanan serius terhadap biaya produksi dan inflasi di Indonesia.
Baca juga: AVC Men’s Volleyball Champions League 2026 Jadi Berkah bagi UMKM Pontianak dan Perhotelan
Menurut Andy, dampak paling nyata yang dirasakan masyarakat ialah naiknya harga barang impor yang kemudian memicu imported inflation atau inflasi barang impor.
“Secara umum kenaikan nilai tukar dolar terhadap rupiah telah menyebabkan lonjakan biaya produksi dan inflasi akibat mahalnya harga barang impor,” ujarnya kepada tribunpontianak.co.id, Jumat 15 Mei 2026.
Ia menjelaskan, berbagai kebutuhan impor seperti bahan baku industri, barang modal, hingga komoditas pangan seperti gandum dan kedelai kini membutuhkan biaya lebih besar untuk didatangkan ke Indonesia.
Kondisi tersebut secara otomatis membuat biaya produksi di berbagai sektor meningkat. Pada akhirnya, beban kenaikan biaya itu ikut dialihkan kepada konsumen melalui kenaikan harga barang dan jasa di pasar domestik.
“Ketika biaya produksi naik, harga jual produk juga ikut meningkat. Dampaknya daya beli masyarakat bisa ikut tertekan,” katanya.
Baca juga: Semifinal AVC 2026 di Pontianak, Bhayangkara Presisi Bidik Tiket Final
Selain memicu inflasi, Andy juga menyoroti meningkatnya beban pembayaran utang luar negeri bagi perusahaan maupun pemerintah yang memiliki pinjaman dalam mata uang dolar Amerika Serikat.
Menurutnya, pelemahan rupiah membuat kebutuhan rupiah untuk membayar cicilan maupun bunga utang menjadi jauh lebih besar dibanding sebelumnya.
“Perusahaan atau negara yang memiliki utang luar negeri dalam bentuk dolar harus mengeluarkan lebih banyak rupiah untuk melakukan pembayaran,” jelasnya.
Meski demikian, Andy menilai kondisi tersebut tidak sepenuhnya buruk. Di sisi lain, pelemahan rupiah justru memberikan keuntungan kompetitif bagi pelaku usaha yang bergerak di sektor ekspor.
Pendapatan eksportir yang diterima dalam bentuk dolar akan memiliki nilai tukar lebih tinggi ketika dikonversikan ke rupiah.
Selain itu, harga produk ekspor Indonesia juga menjadi relatif lebih murah di pasar internasional sehingga berpotensi meningkatkan daya saing global.
Tak hanya sektor ekspor, bidang pariwisata juga diprediksi ikut merasakan dampak positif. Dengan nilai tukar dolar yang lebih kuat, wisatawan asing akan menganggap biaya liburan ke Indonesia menjadi lebih murah dan terjangkau.
“Hal ini bisa meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan asing dan berdampak pada bertambahnya devisa negara,” pungkasnya.
- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp
!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!
Andy Kurniawan Bong
siapakah Andy Kurniawan Bong
profil Andy Kurniawan Bong
biodata Andy Kurniawan Bong
Pengamat
ekonomi
Kalbar
dollar
rupiah
| Gregorius Herkulanus Bala: Sintang Harus Bersatu, Asri dan Maju dalam Pembangunan |
|
|---|
| Patroli Satpamobvit Polres Singkawang Perkuat Rasa Aman di Objek Vital dan Lingkungan Masyarakat |
|
|---|
| AI dan Industri Kreatif Disebut Jadi Peluang Besar Ekonomi Pontianak di Masa Depan |
|
|---|
| SPMB 2026 di Kalbar Mulai Dipersiapkan, Akun Pendaftaran Dibuka 15 Juni |
|
|---|
| Satu Jemaah Haji Kalbar Dirawat di RS King Abdullah, Tiga Calon Haji Gagal Berangkat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/Andy-Kurniawan-Bong2354EW.jpg)