Lomba Cerdas Cermat

Polemik LCC 4 Pilar MPR RI Kalbar, Publik Diminta Tak Hakimi Peserta Didik

Ia menegaskan dunia pendidikan tidak boleh membiarkan peserta didik menjadi korban konflik persepsi antar pihak.

Tayang:
Penulis: Peggy Dania | Editor: Syahroni
YouTube.com
LCC 4 PILAR - Para siswa SMAN 1 Pontianak (kanan) saat Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI. 
Ringkasan Berita:
  1. Pengamat pendidikan sekaligus Wakil Rektor II Universitas PGRI Pontianak, Suherdiyanto, menilai polemik penjurian LCC 4 Pilar MPR RI di Kalbar harus disikapi secara bijak, objektif, dan edukatif dengan mengedepankan transparansi serta ruang klarifikasi.
  2. Suherdiyanto meminta masyarakat tak menghakimi para siswa di media sosial, karena kompetisi pendidikan bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi juga menjaga sportivitas, psikologi peserta didik, dan kepercayaan terhadap dunia pendidikan.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID – Polemik penjurian dalam Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat yang melibatkan SMAN 1 Pontianak dan SMAN 1 Sambas masih menjadi perhatian publik.

Pengamat pendidikan sekaligus Wakil Rektor II Universitas PGRI Pontianak, Suherdiyanto, menilai polemik tersebut seharusnya disikapi secara bijak, objektif, dan edukatif.

Baca juga: Polemik LCC 4 Pilar Kalbar Berujung Undangan Wapres, 10 Peserta SMAN 1 Pontianak ke Jakarta

“Karena bagaimanapun kompetisi di dunia pendidikan sejatinya bukan hanya soal menang atau kalah. Tetapi juga tentang proses pembelajaran yang menanamkan nilai sportivitas, kejujuran, dan penghormatan terhadap proses,” ujarnya kepada tribunpontianak.co.id, Rabu 13 Mei 2026.

Menurut Suherdiyanto, ketika muncul perdebatan terkait mekanisme maupun hasil penilaian, hal terpenting yang harus dilakukan adalah transparansi dari panitia serta keterbukaan ruang klarifikasi agar tidak menimbulkan prasangka liar di tengah masyarakat maupun media sosial.

Ia menegaskan dunia pendidikan tidak boleh membiarkan peserta didik menjadi korban konflik persepsi antar pihak.

Baca juga: Berani Lawan Ketidakadilan! Josepha Ocha Siswi SMAN 1 Pontianak Digandeng Kuliah Gratis di China

Selain itu, ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan para siswa sebagai sasaran penghakiman publik di media sosial akibat polemik yang terjadi.

“Namun di sisi lain memang masyarakat juga perlu menahan diri untuk tidak menyerang atau menghakimi siswa yang mungkin sedang memperjuangkan prinsip-prinsip yang diyakininya benar. Peserta didik ini sedang belajar dan patut diapresiasi ketika mereka berani mengungkapkan apa yang menurut pemikiran mereka adalah sebuah kebenaran,” lanjutnya.

Suherdiyanto menekankan pentingnya menjaga semangat Empat Pilar Kebangsaan yang mengajarkan persatuan, demokrasi, dan etika agar tidak tercederai oleh polemik berkepanjangan.

Menurutnya, kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa setiap ajang kompetisi pendidikan harus memiliki standar penilaian yang akurat, akuntabel, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka.

Sebab, yang dipertaruhkan bukan hanya hasil perlombaan, tetapi juga kondisi psikologis siswa, nama baik sekolah, serta kepercayaan masyarakat terhadap proses pendidikan.

Ia berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui evaluasi terbuka dan komunikasi yang sehat antar pihak, sehingga menjadi pembelajaran bagi penyelenggara kompetisi pendidikan di Kalimantan Barat ke depan.

“Dan mari kita mencoba menahan diri untuk memberikan tanggapan yang dapat menggerus rasa silaturahmi dan solidaritas kita dalam dunia pendidikan,” pungkasnya.

- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp
!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved