‎Barcode BBM Diblokir, Sopir Truk Terpaksa Pakai Dexlite untuk Tetap Bekerja

Isu terkait pemblokiran barcode BBM subsidi oleh pihak Pertamina yang dialami para sopir truk, ternyata benar terjadi di lapangan

Tayang:
Penulis: Faisal Ilham Muzaqi | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Istimewa
BERIKAN KETERANGAN - Mulyono supir truk, berpose di sebelah truk miliknya. Ia mengaku barcode yang dimilikinya saat ini sedang di perbaiki setelah di blokir beberapa waktu lalu. 
Ringkasan Berita:
  • ‎Sejumlah sopir mengaku mengalami kondisi berbeda, mulai dari barcode yang masih aktif hingga yang telah diblokir.
  • ‎Salah seorang sopir truk, Sukir mengungkapkan, barcode miliknya saat ini masih bisa digunakan. 
  • ‎Namun, ia menyebut beberapa rekannya sudah mengalami pemblokiran.

‎TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Isu terkait pemblokiran barcode BBM subsidi oleh pihak Pertamina yang dialami para sopir truk, ternyata benar terjadi di lapangan, satu diantaranya di Kabupaten ketapang, Kalimantan Barat.  

‎Sejumlah sopir mengaku mengalami kondisi berbeda, mulai dari barcode yang masih aktif hingga yang telah diblokir.

‎Salah seorang sopir truk, Sukir mengungkapkan, barcode miliknya saat ini masih bisa digunakan. 

‎Namun, ia menyebut beberapa rekannya sudah mengalami pemblokiran.

‎"Barcode punya saya sementara ini masih aman, tapi tidak tahu ke depan nantinya. Kalau untuk yang diblokir, ada kawan saya," ujarnya saat dikonfirmasi Tribunpontianak.co.id, Selasa 28 April 2026. 

‎Ia pun berharap barcode miliknya tidak ikut diblokir, karena akan berdampak langsung pada pekerjaannya.

Baca juga: Barcode BBM Subsidi Terblokir, Sopir Angkutan di Pontianak Akui Alami Hal Serupa

‎"Mudah-mudahan barcode punya saya tidak diblokir, karena kalau diblokir kerja jadi susah," tambahnya.

‎Sementara itu, sopir lainnya, Mulyono, mengaku barcode miliknya justru telah diblokir. 

‎Saat ini, ia tengah mengurus agar barcode tersebut bisa kembali digunakan.

‎"Iya betul, barcode saya diblokir. Sekarang lagi diurus, tapi belum selesai," jelasnya.

‎Menurut Mulyono, pemblokiran tersebut diduga karena barcode miliknya sering digunakan oleh orang lain.

‎"Karena barcode sering dipakai orang, saya belum isi kuota, sudah habis duluan," katanya.

‎Ia tidak menjelaskan apakah barcode tersebut dipinjamkan atau digunakan tanpa sepengetahuannya.

‎Selama proses pengurusan, Mulyono tetap bekerja dengan menggunakan BBM nonsubsidi jenis Dexlite.

‎"Saya tetap kerja, tapi pakainya Dexlite," ungkapnya.

‎Ia juga mengeluhkan lamanya proses perbaikan barcode, bahkan harus menggunakan jasa pihak ketiga.

‎"Ngurus sendiri ribet dan lama. Ini saja pakai jasa, masih belum kelar-kelar," Pungkasnya. 

‎Mulyono berharap proses perbaikan barcode dapat dipercepat, agar memudahkan aktivitas kerja serta mengurangi beban biaya operasional BBM. (*)

- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp

!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved