Operasi Pasar Digencarkan, Pemkab Sintang Fokus Stabilkan Harga dan Inflasi

Ia menjelaskan, terdapat lima komponen utama penyumbang inflasi di Sintang. Beberapa di antaranya berada di luar kendali pemerintah daerah.

Tayang:
Penulis: Agus Pujianto | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
OPERASI PASAR - Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kabupaten Sintang Subendi mendampingi Bupati Sintang saat operasi pasar di pasar Inpres, Kamis 26 Februari 2026. 

Ringkasan Berita:
  • Selain operasi pasar, Pemkab Sintang juga terus melakukan pemantauan harga secara berkala. Berdasarkan rilis terakhir Januari, inflasi Kabupaten Sintang tercatat termasuk yang tertinggi di Kalimantan Barat secara year on year, yakni sebesar 4,52 persen. 
  • Ia menjelaskan, terdapat lima komponen utama penyumbang inflasi di Sintang. Beberapa di antaranya berada di luar kendali pemerintah daerah.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kabupaten Sintang Subendi menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok menjelang hari besar keagamaan melalui operasi pasar dan pemantauan harga secara rutin.

Menurut Subendi, operasi pasar menjadi agenda rutin yang dilaksanakan setiap momentum hari besar keagamaan dengan melibatkan berbagai pihak. 

“Operasi pasar ini merupakan kolaborasi, mulai dari CU hingga Pertamina untuk penjualan LPG 3 kilogram. Kami selalu berkolaborasi. Selain di Kota Sintang, operasi pasar juga akan dilaksanakan di Kecamatan Binjai Hulu,” ujarnya.

Selain operasi pasar, Pemkab Sintang juga terus melakukan pemantauan harga secara berkala. Berdasarkan rilis terakhir Januari, inflasi Kabupaten Sintang tercatat termasuk yang tertinggi di Kalimantan Barat secara year on year, yakni sebesar 4,52 persen. 

Bupati Sintang Sapa Warga, Operasi Pasar Sediakan 950 Paket Sembako Bersubsidi

“Fokus kita sekarang bagaimana menstabilkan harga. Stok bahan pokok penting tersedia dan terus kita jaga,” kata Subendi.

Ia menjelaskan, terdapat lima komponen utama penyumbang inflasi di Sintang. Beberapa di antaranya berada di luar kendali pemerintah daerah. 

Salah satu pemicu utama adalah kebijakan subsidi listrik yang pada 2025 masih ada, namun pada 2026 sudah tidak diberlakukan lagi. 

“Ini berdampak langsung pada inflasi,” jelasnya.

Selain itu, emas atau perhiasan juga menjadi penyumbang inflasi karena faktor budaya masyarakat yang cenderung membeli emas menjelang hari raya. 

Komoditas lain yang turut menyumbang inflasi adalah bawang merah, ikan nila, serta beras kategori medium dan premium. 

“Semua ini terus kami pantau untuk menekan kenaikan harga. Namun untuk subsidi listrik dan perhiasan, itu memang di luar kendali pemerintah,” tambahnya.

Terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG), Subendi mengungkapkan dirinya telah mengunjungi seluruh dapur MBG di Kabupaten Sintang

Ia memastikan pasokan kebutuhan dapur MBG tersedia. Namun, untuk sayur-sayuran seperti sawi dan kacang, pasokan lokal masih terbatas. Sementara daging ayam dan sapi sebagian besar dipasok dari pasar atau pemasok.

“Daging ayam yang digunakan sebagian besar ayam beku. Ketika harga ayam beku naik, itu memicu kenaikan harga daging ayam segar,” ungkap Subendi. 

Saat mendampingi tim Satgas Pangan dari pusat, pihaknya mencatat harga ayam berada di kisaran Rp48 ribu per kilogram, sementara harga daging sapi mencapai Rp170 ribu per kilogram.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved