Ramadhan 2026

Menyikapi Perubahan Pola Belanja Selama Ramadhan dalam Perspektif Akuntansi

Ramadhan bukan hanya bulan penuh berkah bagi umat Muslim, tetapi juga berdampak signifikan pada pola ekonomi masyarakat.

Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Istimewa
CITIZEN REPORTER - Izza Karunia Putri, S.E., M.Ak, Dosen Akuntansi IAIN Pontianak 

CITIZEN REPORTER

Penulis: Izza Karunia Putri, S.E., M.Ak

(Dosen Akuntansi IAIN Pontianak)

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Ramadhan bukan hanya bulan penuh berkah bagi umat Muslim, tetapi juga berdampak signifikan pada pola ekonomi masyarakat, terutama dalam hal konsumsi dan belanja.

Selama bulan suci ini, banyak orang cenderung mengalokasikan anggaran lebih besar untuk kebutuhan konsumsi, seperti makanan dan kebutuhan ibadah.

Namun, perubahan pola belanja ini sering kali tidak diikuti dengan perencanaan keuangan yang matang, sehingga berpotensi menimbulkan ketidakseimbangan dalam pengelolaan keuangan pribadi.

Dari perspektif akuntansi, penting untuk memahami bagaimana perubahan pola belanja selama Ramadhan dapat memengaruhi arus kas dan anggaran rumah tangga.

Dengan pemahaman yang baik tentang pengelolaan anggaran, masyarakat dapat menghindari pemborosan yang tidak perlu serta tetap menjaga kestabilan keuangan keluarga.

Pada bulan suci ini, umat Muslim diwajibkan untuk berpuasa, yang secara logis mengurangi pengeluaran konsumsi pada siang hari.

Namun, pada praktiknya, banyak orang justru mengeluarkan lebih banyak uang pada malam hari untuk berbuka puasa, membeli makanan, atau mengikuti acara buka bersama. Hal ini menuntut adanya perencanaan keuangan yang baik agar belanja selama Ramadhan tetap terkendali.

Baca juga: Pasang Maksimum Capai 1,9 Meter, Warga Pesisir Pontianak Diminta Waspada Genangan

Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 187:

"Dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam (fajar), kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam."

Ayat ini mengingatkan bahwa meskipun Ramadhan adalah waktu untuk menahan diri, keseimbangan dalam konsumsi dan pengeluaran tetap perlu dijaga.

Selain pengeluaran untuk berbuka puasa, pengeluaran lain yang cenderung meningkat adalah kebutuhan ibadah, seperti zakat, infak, dan sedekah.

Banyak orang terdorong untuk memperbanyak amal dengan memberikan sebagian hartanya, sesuai ajaran Islam yang mengedepankan kepedulian sosial. Namun, tanpa pengelolaan yang bijak, hal ini dapat mengganggu stabilitas keuangan pribadi.

Akuntansi sebagai alat pencatatan dan pengelolaan keuangan memiliki peran penting dalam memastikan bahwa pengeluaran untuk amal tetap terencana dalam anggaran rumah tangga. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim bin al-Hajjaj disebutkan:

"Sedekah tidak akan mengurangi harta."

Hadits ini mengajarkan bahwa sedekah yang dilakukan dengan perencanaan dan niat yang baik justru membawa keberkahan.

Di sisi lain, saat berbelanja untuk kebutuhan Ramadhan, tidak sedikit masyarakat yang terjebak dalam perilaku konsumtif berlebihan. Peningkatan konsumsi sering dipicu faktor sosial, seperti tren berbuka puasa di restoran atau membeli berbagai makanan khas Ramadhan yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 27:

"Sesungguhnya pemborosan itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya."

Ayat ini menjadi peringatan agar umat Islam bijak dalam membelanjakan uang dan tidak terjebak pada pemborosan yang tidak bermanfaat.

Akuntansi juga berperan penting dalam memantau arus kas selama Ramadhan. Pada bulan ini, pendapatan bisa mengalami fluktuasi akibat perubahan pola kerja, seperti libur panjang atau pengurangan jam kerja. Dengan teknik pencatatan yang tepat—misalnya mencatat pengeluaran harian dan membandingkannya dengan anggaran yang telah ditetapkan—individu dapat menyesuaikan pengeluaran sesuai kondisi keuangan yang ada.

Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya hidup sederhana dan tidak berlebihan. Dalam hadits riwayat Ahmad ibn Hanbal disebutkan:

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain."

Hal ini mengingatkan bahwa harta hendaknya digunakan secara bijaksana dan memberi manfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Perencanaan keuangan yang baik selama Ramadhan akan membantu mengoptimalkan tujuan keuangan jangka panjang, seperti menabung untuk kebutuhan masa depan. Dengan pengelolaan yang cermat, peningkatan pengeluaran tidak harus mengorbankan keseimbangan antara kebutuhan pribadi dan ibadah.

Sebagaimana firman Allah dalam Surah At-Talaq ayat 2–3:

"Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka."

Dengan menjaga kesederhanaan dan perencanaan yang baik, Ramadhan dapat dijalani dengan tenang dan penuh keberkahan.

Pada akhirnya, bulan Ramadhan bukan hanya menawarkan peluang untuk beramal dan memperbaiki diri, tetapi juga menuntut pengelolaan keuangan yang bijak agar pengeluaran tetap terkontrol. Melalui akuntansi yang baik—dengan pencatatan yang akurat dan perencanaan anggaran yang realistis—kita dapat menyikapi perubahan pola belanja selama Ramadhan secara lebih terstruktur.

Dengan demikian, keseimbangan antara konsumsi, ibadah, dan stabilitas keuangan dapat terjaga. Mari manfaatkan bulan suci ini untuk meningkatkan kualitas spiritual sekaligus memperbaiki tata kelola keuangan, sebagai wujud menjaga amanah harta yang telah Allah SWT titipkan kepada kita. (*)

- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp

!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved