TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Kepala Dinas Pendidikan dan Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Yustinus menegaskan jika SD Kelas Jauh di Dusun Gemare, Desa Nanga Masau, Kecamatan Kayan Hulu, sudah ditutup sementara sejak 2021.
Alasan penutupan sementara sekolah ini karena jumlah siswanya tinggal 3 orang dan tidak ada guru yang mengajar. Sehingga, sejak saat itu anak yang masih sekolah kembali belajar ke sekolah induk di SDN 06 Desa Nanga Masau.
"Ini kan kelas jauh. Memang sudah lama tidak beroperasi. Oleh SD induk ditutup sementara tahun 2021. Kepsek mengatakan siswanya hanya 3 orang mereka kembali ke sekolah induk," ujar Yustinus, Rabu 4 Desember 2024.
Yustinus menegaskan bahwa tidak ada guru kabur seperti yang dinarasikan di media.
Menurut Yustinus, Kelas Jauh SD Nanga Masau dibuka tahun 2007. Gurunya, diambil dari lulusan SMP. Lalu, sempat ada pergantian guru.
Namun yang bersangkutan keluar kampung untuk mencari penghasilan lebih.
"Guru ketiga lulusan SMP, tahun 2021 yang bersangkutan struk. Akhirnya sekolah jauh ditutup sementara karena muridnya hanya 3 orang. Kebanyakan anak ikut orangtuanya berladang. Yang ingin sekolah, mereka ke SD Induk," beber Yustinus.
• Lima Tahun Tanpa Guru Banyak Anak Putus Sekolah di SDN 06 Nanga Masau Sintang Titip Pesan ke Prabowo
Yustinus memastikan, pihaknya akan mengevaluasi keberadaan SD Kelas Jauh Nanga Masau.
"Kami akan evaluasi lagi nanti," jelasnya.
Diberitakan sebelumnya, Kondisi SD kelas jauh Nanga Masau yang memperhatinkan itu diungkap oleh Noven Honorarius, pemuda Desa Nanga Masau lewat sebuah video pendek.
Video berdurasi 1.59 itu memperlihatkan Noven bersama dengan puluhan anak berdiri membelakangi lokal kelas jauh. Halaman sekolah tampak tumbuh subur rerumputan.
"Di belakang kami ada sekolah yang kurang lebih sudah 5 tahun tidak ada tenaga pengajar. Sehingga anak anak terpaksa putus sekolah," kata Noven, Rabu 4 Desember 2024.
SDN 06 Kelas Jauh di Nanga Masau letaknya cukup jauh dari pusat Kecamatan Kayan Hulu. Medan yang dilewati juga sangat berat. Harus mengarungi sungai dan riam penuh batu.
"Kalau kemarau, bisa tidak sampai ke sana. Kalau normal, 7 jam dari pusat Kecamatan ke Nanga Masau, tergantung air sungai," ujar Noven dikonfirmasi Tribun Pontianak.
Noven menduga guru yang pernah tugas di SDN 06 Kelas Jauh di Nanga Masau tidak betah tinggal dan memilih pergi karena akses sulit dan minim fasilitas.
"Tidak ada akses jalan (darat) dan sinyal yang membuat guru tidak betah tugas di sini. Ini adalah kampung terakhir di jalur sungai kayan yang memang aksesnya sangat sulit itu yang buat guru tidak betah tinggal di sini," ungkap Noven.
Selain itu, anak-anak yang masih sekolah ke SDN 06 Induk di Desa Nanga Masau juga harus melewati riam penuh batu yang sulit selama satu jam.
"Kalau mau sekolah mereka harus ke pusat desa Nanga masau ke SDN 6 yang jaraknya kurang lebih 1 jam lebih melalui riam besar," ujar Noven.
Noven berharap, Presiden Prabowo Subianto bisa memperhatikan pendidikan anak-anak di pedalaman Sintang.
"Harapan besar bagi kami supaya pemerintah mau memperhatikan adik adik kami supaya bisa bersekolah. Kita berharap kepada presiden prabowo dapat memperhatikan anak anak pelosok melalui program apapun. Kami berharap, agar ada guru PNs yang mau ditempatkan di sini. Ini adalah generasi bangsa yang harus diperhatikan. Bisa belajar dan meraih pendidika yang layak," harapnya. (*)
- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp
!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!