Waspada❗ Puluhan Ekor Sapi di Pontianak Positif PMK, Warga Diimbau Tak Datangkan Sapi dari Luar

Editor: Jamadin
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Pontianak, Bintoro.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK  - Kepala Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan (Dinas P3) Kota Pontianak, Bintoro, menyampaikan di Kota Pontianak sudah ada temuan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan. Ia menyebutkan, sampai saat ini yang terdata sebanyak 30 ekor sapi yang telah ditemukan positif PMK.

Ia menerangkan, temuan kasus PMK ini bermula saat hendak melakukan pemotongan dan muncul pada hewan yang sakit.

"Di Kota Pontianak juga sudah ada yang positif PMK terdata sampai hari ini ada 30 ekor sapi, terutama hewan yang sakit yang hendak dipotong dan ada juga laporan dari masyarakat, bahwa ada hewan yang telah positif," ujarnya kepada Tribun Pontianak, Senin 16 Mei 2022.

Terhadap hewan yang dinyatakan positif PMK tersebut, kata Bintoro, dilakukan penolakan untuk dilakukan pemotongan di Rumah Pemotongan Hewan (PMK). Penolakan tersebut dilakukan, karena hewan yang dinyatakan positif PMK masih akan dilakukan pengobatan terlebih dahulu. Ketika dinyatakan sembuh barulah bisa dilakukan pemotongan.

Atas temuan kasus PMK yang merupakan penyakit menular bagi hewan ini, maka pihaknya telah melakukan langkah-langkah serius bersama pihak kepolisian untuk mencegah agar virus ini tidak menyebar kepada hewan yang lainnya.

Khawatir Virus PMK, Peternak Pilih Tak Datangkan Sapi dari Luar Kota Sintang

"Pemerintah Kota Pontianak melalui Dinas Pertanian telah melakukan pengawasan terutama untuk ternak yang akan dipotong di RPH dan juga pengwasan di lingkungan masyarakat peternak dengan lansung melakukan desinfektan di lingkungan kandang dan melakukan pengobatan dengan pemberian vitamin B Complex, Analgesik dan antibiotik injeck yang telah dilakukan," jelasnya.

Di samping itu, kata Bintoro, peternak juga dianjurkan melakukan pengobatan herbal pada hewan ternaknya.

Misalnya untuk bagian yang luka agar ditetes dengan air tembakau dan diminumkan buah kondor dan obat herbal lainnya.

Bintoro mengatakan, saat pengawasan dilakukan sangat ketat bersama pihak kepolisian. Hal tersebut dilakukan, karena khawatir jika tidak dilakukan pengawasan secara ketat masyarakat tetap memotong hewan ternaknya walaupun dalam kondisi sakit. Padahal, PMK merupakan penyakit yang juga berbahaya dan sangat mudah menular.

Bahkan tidak hanya itu, pihaknya saat ini pun telah mengambil kebijakan yaitu dengan menghentikan sementara waktu pengiriman hewan dari luar kota, baik dari pulau Jawa dan Madura serta lainnya. "Sebaliknya kita juga tidak melakukan pengiriman antarkabupaten/Kota," katanya.

Penghentian pengiriman dan penerimaan hewan ini dilakukan sampai kondisi normal kembali. "Mudah-mudahan dengan adanya langkah yang serius ini bisa menormalkan kembali pengiriman hewan, baik dari luar kota maupun antar kabupaten/Kota terkhusus menjelang Iduladha yang notabenenya adalah momentum pemotongan hewan qurban," tukasnya.

Kasus PMK Masuk Kalbar, Begini Penjelasan Dokter Hewan

Sementara itu Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalimantan Barat M Munsif menyampaikan jumlah ternak yang bergejala (suspect) relatif kecil dibandingkan populasi ternak sapi yang berjumlah 155 ribu ekor dan kambing 500 ribuan ekor se-Kalbar.

Ia mengatakan penanganan PMK haruslah ditangani secara bersama-sama dengan prioritas pengobatan, pemberian vaksin, dan vitamin terhadap ternak

Terpisah Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sintang mewaspadai masuknya virus PMK pada hewan ternak yang sudah terkonfirmasi masuk ke Kalbar sejak 13 Mei 2022. Dalam waktu dekat, pedagang dan peternak akan dikumpulkan untuk membahas persoalan virus yang mulai merebak di Kalimantan Barat.

“Saat ini belum ditemukan kasus PMK di Sintang. Tapi kita perlu jaga-jaga, siapa tahu nanti masuk Sintang. Apalagi di beberapa kabupaten di Kalbar sudah ada tanda-tanda positif,” kata Widodo, Medik Veteriner pada Bidang Peternakan di Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sintang.

Ia mengatakan, “Kita perlu penelusuran di Sintang, siapa tahu ada ternak yang dibawa ke Sintang. Kemarin menjelang lebaran kita juga banyak ternak yang masuk dari Kalteng, maupun kabupaten lain. Untuk lebaran Idulfitri sebanyak 293 ekor dipotong, siapa tahu ada yang dari luar makanya kita akan lakukan penelusuran.”

Kapolsek Capkala Ipda Hasan Abdullah, SH. MH dan personel cek peternakan sapi warga, Minggu 15 Mei 2022.

Ia mengatakan pihaknya akan mendatangi para pemotong, sekiranya ada ambil ternak dari Pontianak, Mempawah, agar tahu kejelasnnya. Termasuk melihat apakah ada tanda-tanda penyakit PMK

Peternak Ketar-ketir

Merebaknya PMK yang menyerang hewan ternak membuat peternak sapi di Sintang ketar-ketir. Meski belum ditemukan kasus di Sintang, peternak memilih hati-hati dan sementara waktu tidak mengambil sapi dari luar Sintang.

"Tentu kita khawatir dengar kabar marak penyakit mulut dan kuku pada hewan ternak. Untuk antisipasi, saat ini belum berani datangkan ternak dari luar," kata Ferry Fadli, peternak sapi di Mensiku, Kecamatan Binjai, Kabupaten Sintang, Senin 16 Mei 2022.

Ferry masih menunggu kondisi penyakit PMK benar-benar dapat dikendalikan baru berani mengambil sapi dari luar Sintang. Untuk saat ini Ferry mengambil sapi dari peternak lain di Sintang untuk diperjualbelikan.

"Tapi kalau untuk sekarang penyakit hewan saat ini belum ada di Sintang, tapi untuk antisipasi. Kalau memang kondisi sudah terkendali, kalau ada barang yang masuk kita jual belikan. Saat ini belum berani datangkan ternak dari luar Sintang," ujarnya.

Ferry memilih berhati-hati demi mengantisipasi kerugian yang akan timbul jika mendatangkan sapi dari luar Sintang. Meski sebentar lagi Iduladha, Ferry belum berani menyetok sapi untuk kurban.

Sementara itu dokter hewan di Kabupaten Melawi, drh Iwan Kusuma, mengatakan kasus PMK yang telah terjadi di Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya merupakan hewan ternak yang dibawa dari luar Provinsi yang kemungkinan sudah tertular dari awal.

Ia mengatakan hewan yang rawan terpapar PMK yaitu hewan sapi, sedangkan hewan seperti kambing dan babi hanya sebagai perantara saja.

"Virus dapat bertahan di luar selama 1 bulan. Ciri-ciri hewan yang terpapar di antaranya demam, pincang dan mulut berliur, sampai saat ini di wilayah Kalbar belum memiliki vaksin untuk hewan terpapar PMK,” jelasnya pada Rapat Koordinasi (Rakor) Pencegahan dan Penanganan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Kantor Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Melawi, kemarin.

Mencegah hal itu, Iwan mengatakan langkah awal yang harus dilakukam yakni mencegah masuknya hewan potong dari luar. Kemudian, melakukan pengadaan pengobatan berupa pemberian vitamin.

Pengawasan Polisi

Di kesempatan terpisah Kapolres Ketapang AKBP Yani Permana memberikan instruksi kepada jajarannya untuk aktif memonitoring perkembangan situasi mengenai Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) terhadap hewan ternak di Ketapang.

Polres Ketapang melaksanakan mitigasi dan langkah pencegahan melalui pengawasan dan pengecekan langsung di sentra peternakan sapi yang ada di wilayah kabupaten ketapang.

Hal ini langsung direspon Kasat Reskrim Polres Ketapang AKP M. Yasin, Kasat Intelkam AKP Agustana, serta Kapolsek Benua Kayong Iptu Sumiadinata melalui pengecekan langsung di beberapa lokasi peternakan yang ada di Kecamatan Benua Kayong.

“Bersama rekan-rekan dokter hewan dari Kementrian Pertanian, Balai Veteriner dan dari Dinas Peternakan Ketapang, kita lakukan pengecekan di beberapa peternakan sapi milik warga di Desa Kinjil Pesisir, Kecamatan Benua Kayong," kata Kasat Reskrim Polres Ketapang AKP M Yasin.

Dari hasil pengecekan, kata Yasin, ditemukan tiga ekor sapi yang mengalami gejala sakit, namun belum dapat dipastikan apakah terpapar PMK atau tidak.

"Karena harus menunggu hasil tes sampel yang telah diambil untuk diteliti lebih lanjut secara klinis," jelasnya.

Selain sentra peternakan, Polres Ketapang bersama Dinas Peternakan akan melakukan pengecekan kesehatan hewan ternak di Rumah Potong Hewan (RPH) di beberapa pasar di Kota Ketapang.

Pihaknya juga akan melakukan pemantauan arus pengiriman hewan ternak di wilayah Ketapang serta memberdayakan Bhabinkamtibmas di seluruh wilayah Polres Ketapang untuk memberikan sosialisasi dan melakukan tracking di seluruh desa binaan nya. "Itu dilakukan dalam mendata apabila ada hewan ternak yang terpapar gejala PMK,” pungkasnya

Berita Terkini