“Jadi itulah yang membuat kita harus melihat langsung dan terjun langsung ke lapangan.
Untungnya pada saat itu tugas lain yang tidak begitu penting dilaksanakan atau dapat ditunda pelaksanaanya karena ada refocusing karena harus menangani covid-19,” jelasnya.
• Delapan Guru di Melawi Terkonfirmasi Positif Covid-19, Ini Keterangan Kadinkes Kalbar
Dalam penanganan Covid-19 di Kalbar ia mengaku senang karena tidak bekerja sendirian dan dibantu TNI Polri, Dinas Perhubungan dan Satpol PP dan BPBD, serta dukungan dari kelompok masyarakat dan Perusahaan bahkan media di Kalbar (Penta Helik).
“Pada awal kasus kita sempat kekurangan bahan APD ,obat -obatan ,peralatan kesehatan dimana dipasaran semuanya menghilang dan harga melonjak.
Jadi kita punya uang tapi tak bisa beli barang karena menjadi rebutan dunia ,” jelasnya.
Ia merasa beruntung karena banyak Perusahaan ataupun Pengusaha di Kalbar yang memberi sumbangan mulai dari APD, rapid test, reagent dan alat kesehatan lainnya.
Selain itu untuk alat kesehatan yang lainnya karena harga yang mahal jadi harus membeli langsung.
Namun diakuinya saat ini harga alat kesehatan yang sempat melonjak naik kini sudah norma kembali.
“Kita juga harus menyiapkan pusat pelayanan kesehatan, puskesmas dan rumah isolasi.
Seperti di RSUD Soedarso yang awalnya kita hanya punya 4 ruang isolasi dan kini sudah ada 200 ruangan isolasi ,” jelasnya.
Ia mengatakan bahwa dulu Kalbar tidak mempunyai Laboratorium yang didukung dengan RT PCR.
Sehingga harus mengirim sampel swab ke Jakarta .
• Ahli Epidemiologi Sebut Strain Corona Menjadi Pengaruh Pada Keganasan Virus
“Tapi karena semua daerah mengirim sampel ke Jakarta membuat antrian panjang dan kita menjadi lama mendapatkan hasilnya,” ujarnya.
Maka dari itu, Pemprov Kalbar bekerjasama dengan Laboratorium Untan menyediakan Aat RT PCR untuk memeriksa sampel swab agar hasil bisa lebih cepat diketahui.
“Untuk saat ini sudah ada alat RT PCR di Untan yang awal nya hanya bisa memeriksa 30 sampel kini menjadi 250 sampel sehari.