Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Bella
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pertama kali membuka penerimaan Mahasiswa baru pada Agustus 2016, STB Harapan Bersama sudah mulai menunjukkan prestasinya di berbagai kesempatan.
Terbaru, lima orang mahasiawa STB berhasil meraih juara dua hingga harapan tiga sekaligus dalam lomba Chinese Bridge ke-17.
Baca: Ini 5 Mahasiswi Cantik STB Harapan Bersama Kubu Raya Yang Berhasil Juara Pada Chinese Bridge
Mereka berlima adalah Veni Vianti juara dua, Silvani juara tiga, Vera Diana harapan satu, Vianie Yulistia Liady harapan dua dan Michelle Nathasia harapan tiga.
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh PBM Untan dan STB Harapan Bersama di STB Harapan Bersama di Jalan A. Yani II pada (28/04/2018).
Baca: Chinese Bridge Tingkat Provinsi 2018, Lima Mahasiswi STB Harapan Bersama Kubu Raya Raih Juara
Chinese Bridge merupakan lomba keterampilan bahasa Mandarin tingkat International, dengan berbagai perlombaan seperti lomba pidato bahasa Mandarin, Lomba Menari, Lomba Menyayi, lomba Tounge Twister.
Nantinya peserta yang menang di tingkat Provinsi, akan melanjutkan hingga ke tingkat Nasional untuk mencari kontestan yang layak masuk tingkat International.
Veni Vianti (26) yang berhasil meraih juara dua memiliki bakat Tounge twister, yaitu keahlian dalam melafalkan bahasa Mandarin yang lafalnya hampir sama secara cepat dan tepat.
Selain memiliki bakat dan prestasi, kelima gadis ini juga memiliki cerita menarik ketika belajar bahasa Mandarin di STB Harapan Bersama, tantangan dan hal menyenangkan tidak lepas dari proses mereka selama belajar.
Veni misalnya, ia mengaku awalnya sempat mengalami kesulitan ketika belajar bahasa Mandarin, karena menurutnya lingkungan di sekitar membuatny agak sulit mempelajari bahasa Mandarin.
" Berbicara bahasa Mandarin di lingkungan yang umumnya tidak berbahasa Mandarin agak sulit, jadi untuk latihan oral agak sulit tantangannya, " katanya.
Berbedaan dengan Veni, Michelle justru mengaku sudah familiar dengan bahasa Mandarin sejak kecil karena merupakan bahasa ibu di dalam keluarganya.
" Dari kecil sudah diajari bahasa Mandarin, di rumah bahasa yang digunakan sehari-hari memang bahasa Mandarin. Selain itu, sejak usia 8 tahun mama sudah masukin aku les Mandarin jadi udah terbiasa, " kata Michelle.
Sementara Vera mengaku, berkat belajar bahasa mandarin ia bisa menjadi penerjemah turis asing dari berbagai negara seperti RRT, Singapura dan Malaysia yang terkadang menggunakan bahasa Mandarin ketika berbelanja di restoran milik orangtuanya.
" Dulu sejak SMP udah diikutin les Bahasa Mandarin, sekarang sudah bisa dan jadi penerjemah gratis di restoran orangtua, haha, " kata sambil tertawa.
Sama-sama berpengalaman jadi penerjemah, jika Vera menjadi penerjemah di restoran keluarga, Silvani memiliki pengalaman sebagai penerjemah di sekolah waktu ia masih SMA.
" Dulu waktu SMA, kalau datang pelatih Wushu dari Tiongkok, Kepsek akan meminta saya untuk terjemahkan apa yang dikatakan, " kata gadis yang bercita-cita jadi presenter Bahasa Mandarin itu.
Lain halnya dengan Vianie yang menampilkan bakat pidato di Chinese Bridge.
Meskipun awalnya ia mengaku hanya coba-coba ketika mengambil jurusan Bahasa Mandarin dan sempat merasa kesulitan, ia memiliki trik khusus untuk belajar.
"Banyak komunikasi dengan orang lain menggunakan bahasa Mandarin, nonton film dan buku-buku yang berbahasa Mandarin," kata gadis yang bercita-cita jadi penerjemah itu.