Sunarko 11 Tahun Hidup Bersama Lidah Buaya

Mulai dari penyiapan media, nanam, memelihara hingga panen. Ini jadi pengalaman tersendiri,

Penulis: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano | Editor: Jamadin
Net
Tanaman Lidah Buaya 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Ridhoino Kristo Sebastianus Melano

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK -  Sebelas tahun hidup bersama tanaman lidah buaya (aloevera) dijalani Sunarko (41) yang bekerja sebagai staf di UPTD Agribisnis Kota Pontianak, Jalan Budi Utomo.

Ayah dua orang anak ini awal mula pada 2006 silam sama sekali tak mengenal tanaman khas kebangaan Kota Pontianak.

Berbagai hambatan dan tantangan harus dihadapi dalam setiap proses pekerjaannya. Sudah 11 tahun ia akrab dengan tanaman lidah buaya. Bahkan ia mampu menghidupi keluarga dan dua anaknya dari hidup bersama lidah buaya di tanah gambut.

"Pengalaman sebelum kerja belum tahu, setalah di sini dapat tugas pelajari langsung jadi tahu. Mulai dari penyiapan media, nanam, memelihara hingga panen. Ini jadi pengalaman tersendiri," katanya.

Menggunakan caping (topi petani) yang melindungi kepalanya dari sinar matahari, lelaki asal Blora Jawa Tengah ini mengatakan perlu waktu selama satu tahun sebelum tanaman lidah buaya memasuki masa produktifnya.

Bila telah mencapai umur satu tahun, tanaman bisa dipanen setiap dua minggu sekali. Apalagi lidah buaya tidak memiliki batasan produktivitas. Masa hidupnya pun panjang bisa mencapai 20 hingga 30 tahun.

Istilahnya investasi sekali, bisa untuk jangka yang panjang. Namun tanaman ini dapat membusuk dan tak produktif bila batangnya rusak dan harus diganti tanaman baru.

Ada sekitar 500 lebih tanaman yang dirawat Sunarko di UPTD Agribisnis Pontianak dengan dua jenis tanaman lidah buaya yakni Aloe chinensis dan Aloe barbadensis.

Dua jenis tanaman lidah buaya ini memiliki perbedaan. Aloe chinensis umumnya ditanami oleh para petani. Tanaman ini diperuntukkan sebagai olahan makanan dan minuman.

Bentuknya melebar dengan warna hijaunya yang tidak pekat dan berbunga orange.

Sementara jenis Aloe barbadensis diperuntukkan sebagai bahan kosmetik dan obat-obatan. Tanaman jenis ini jarang ditanam oleh para petani lokal.

Aloe barbadensis pelepahnya agak tegak, bulat dengan warna yang pekat. Bunganya berwarna kuning. "Tanaman ini harus benar-benar dalam mencuci karena bau dan lendir yang lebih banyak," tuturnya.

Dahulu lahan gambut identik dengan lahan bermasalah. Namun lahan gambut saat ini telah dijadikan lahan yang produktif.

Perlu perlakukan khusus bila menggunakan tanah gambut untuk menanam. Bila tidak maka tidak akan mempunyai hasil yang memadai.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved