Kisah Si Toponk Perusak Alam, Cikal Bakal Gawai Dayak

Angel, sapaan akrabnya mengisahkan, pada suatu hari Toponk bersama anaknya mencari ikan di sungai untuk dimakan bersama nasi.

Penulis: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano | Editor: Marlen Sitinjak
TRIBUN PONTIANAK/RIDHOINO KRISTO SEBASTIANUS MELANO
ANGELA Khansa Nabila (12), satu di antara peserta Lomba Bercerita, tampil memukau, di Ballroom Hotel Golden Tulip, Kamis (21/7/2016). 

Laporan Reporter Tribun Pontianak: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Suara peserta lomba bercerita menggetarkan Ballroom Hotel Golden Tulip Pontianak, yang menjadi tempat para pelajar se-Kalimantan Barat mengejar impian menuju Istana Presiden.

Angela Khansa Nabila (12), satu di antara peserta menyuguhkan cerita rakyat Si Toponk Perusak Alam. Kisah asal muasal dihelatnya Gawai Dayak di Bumi Kalimantan Barat.

Beberapa properti yang digunakan seperti takin (keranjang yang digunakan etnis Dayak), akar pohon toba, sesajen, ikan yang terbuat dari gabus, pentongan dan benda lainnya menjadi teman Angel bercerita untuk merangsang imajinasi semua pasang mata yang menyaksikan.

BACA JUGA: 23 Pelajar SD Ikuti Lomba Bercerita Tingkat Provinsi

"Cerita rakyat ini dari daerah Kabupaten Bengkayang, tentang asal mula gawai dayak," kata Nabila, Kamis (21/7/2016).

Angel, sapaan akrabnya mengisahkan, pada suatu hari Toponk bersama anaknya mencari ikan di sungai untuk dimakan bersama nasi. Toponk lantas berusaha menangkap ikan, namun bukan dengan cara memancing.

Celakanya Toponk mencari ikan menggunakan racun tuba. Zat berbahaya yang bahkan membunuh ikan-ikan kecil. Toponk tak mempedulikan kehidupan lain yang ada di sungai tersebut.

Melihat kelakuan Toponk, raja ikan murka. Raja mengutuk Toponk akan tewas terpenggal oleh Jubata (Tuhan). Benar saja tak lama setelah kutukan itu terucap, Toponk tewas dengan kepala terpenggal.

BACA JUGA: Perpusda Gelar Lomba Bercerita Murid SD Se-Kalbar

Toponk tewas karena ulahnya sendiri yang tidak menjaga kelestarian alam. Tidak mempedulikan kehidupan lain yang juga menggantungkan nyawanya dari sumber air kehidupan ciptaan Jubata.

"Dia itu nangkap ikan pakai bahan berbahaya sampai dia tidak mikir kehidupan sungai. Jadi dia dapat hukuman atau kutukan karena tidak menjaga kelestarian alam," kata Angel.

(Baca Kisah Toponk Selengkapnya di Koran Tribun Pontianak Edisi, Jumat 22 Juli 2016)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved