Berita Viral
Ironi Desa di Peru Tanpa Listrik Meski Dekat PLTS Raksasa 2025
Ironi desa di Peru tanpa listrik meski dekat PLTS raksasa. Simak kisah haru warga Pampa Clemesi dan pentingnya akses energi berkeadilan.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Ironi desa di Peru tanpa listrik mencuat dari kisah Pampa Clemesi, sebuah desa kecil di Moquegua.
Hanya berjarak ratusan meter dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Rubí, salah satu kompleks panel surya terbesar di Amerika Latin penduduk di sana tetap hidup dalam kegelapan.
Panel-panel surya canggih yang membentang di lahan luas mampu menghasilkan 440 GWh listrik per tahun, cukup untuk menyalakan lebih dari 350 ribu rumah.
Namun, rumah-rumah di sekitar pembangkit justru tidak mendapat aliran listrik sedikit pun.
Sebuah paradoks yang menohok, ketika cahaya yang berlimpah hanya bersinar untuk orang lain.
Rosa Chamami, seorang ibu rumah tangga di desa itu, menjadi wajah nyata dari ironi ini.
Setiap pagi ia menyalakan api dari kardus bekas panel surya untuk memasak sarapan.
Di depan matanya, ribuan panel surya berkilauan diterangi sinar matahari dan lampu sorot.
Namun rumah mungilnya tetap gelap gulita begitu malam tiba.
“Satu-satunya penerangan kami adalah obor kecil. Setidaknya itu bisa menunjukkan tempat tidur,” katanya lirih.
[Cek Berita dan informasi berita viral KLIK DISINI]
PLTS Rubí: Cahaya untuk Kota, Gelap untuk Tetangga
Energi Surya Melimpah di Moquegua
Moquegua, lokasi PLTS Rubí dan Clemesi, sebenarnya adalah surga energi surya.
Wilayah ini menerima lebih dari 3.200 jam cahaya matahari setiap tahun, jauh lebih banyak dibandingkan banyak negara lain.
Tak heran pemerintah Peru gencar membangun pembangkit energi terbarukan di daerah tersebut.
Data tahun 2024 menunjukkan pertumbuhan energi terbarukan di Peru melonjak hingga 96 persen.
Namun, fakta bahwa 150 penduduk desa sekitar PLTS tetap hidup tanpa jaringan listrik nasional menimbulkan tanda tanya besar.
Beberapa keluarga memang mendapat panel surya sumbangan, tetapi tidak mampu membeli baterai dan konverter agar listrik bisa disimpan dan digunakan.
Perspektif Pakar Energi
Menurut Carlos Gordillo, pakar energi dari Universitas Santa Maria, akar masalah ini ada pada sistem kelistrikan Peru yang berorientasi pada keuntungan.
“Tidak ada upaya serius untuk menghubungkan daerah yang jarang penduduknya. Sistem dibuat berdasarkan profitabilitas, bukan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Pernyataan itu kontras dengan klaim perusahaan Orygen, operator PLTS Rubí.
“Kami sudah menyelesaikan tahap pertama proyek elektrifikasi dengan 53 menara listrik dan hampir 4.000 meter kabel bawah tanah. Investasi senilai US$800.000 ini sudah rampung,” kata Marco Fragale, Direktur Eksekutif Orygen di Peru.
Ia menegaskan bahwa langkah terakhir menyambungkan jaringan ke rumah warga sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah.
Menunggu Janji yang Tak Kunjung Tiba
Proyek Elektrifikasi Tertunda
Rencana awal menyebutkan Kementerian Pertambangan dan Energi Peru akan mulai memasang kabel sepanjang dua kilometer pada Maret 2025.
Namun hingga kini, belum ada satu pun kabel yang terpasang.
BBC News Mundo mencoba menghubungi kementerian terkait, tetapi tidak mendapat tanggapan.
Sementara itu, penduduk desa hanya bisa menunggu di bawah cahaya obor.
Hidup dalam Gelap
Ketiadaan listrik membuat kehidupan sehari-hari warga sangat terbatas.
Rosa misalnya, sering harus berjalan berkeliling mencari tetangga yang memiliki listrik untuk mengisi daya ponselnya.
Bagi dia, ponsel adalah satu-satunya cara untuk tetap berhubungan dengan keluarga di perbatasan Bolivia.
Ruben Pongo, salah satu penduduk yang bekerja di kompleks PLTS, menjadi sedikit lebih beruntung.
Dengan modal sendiri, ia membeli baterai dan konverter sehingga bisa menyalakan kulkas.
Namun, kulkas itu hanya hidup maksimal 10 jam sehari, bahkan bisa mati total saat cuaca mendung.
“Perusahaan memang memberi panel, tapi sisanya kami harus bayar sendiri,” ujarnya.
Tantangan Hidup Tanpa Listrik
Kesehatan dan Pangan
Ketiadaan listrik tidak hanya membuat malam gelap, tetapi juga memengaruhi kesehatan dan ketahanan pangan.
Tanpa lemari es, makanan kaya protein sulit disimpan.
Akibatnya, warga hanya makan makanan sederhana yang bisa bertahan pada suhu ruang.
Untuk membeli produk segar, mereka harus menempuh perjalanan bus 40 menit ke Moquegua, dan itu pun kalau ada uang.
Lebih buruk lagi, tanpa listrik banyak keluarga memasak dengan kayu bakar atau minyak tanah.
Praktik ini berisiko menyebabkan penyakit pernapasan, terutama pada anak-anak dan perempuan yang lebih sering berada di dapur.
Infrastruktur Minim
Selain listrik, desa ini juga tidak memiliki jaringan air bersih, sistem pembuangan limbah, maupun layanan pengangkutan sampah.
Tak heran, sebagian besar penduduk yang awalnya berjumlah 500 orang akhirnya memilih pergi, terutama setelah pandemi Covid-19.
Kini, hanya sekitar 150 orang yang bertahan.
Pedro Chara, salah seorang tetua desa, mengaku keputusasaan sering menyergapnya.
“Setelah menunggu begitu lama untuk air dan listrik, rasanya seperti ingin mati. Kami sekarat,” katanya dengan nada getir.
Harapan dari Cahaya
Cahaya sebagai Masa Depan
Meski hidup dalam keterbatasan, warga Pampa Clemesi masih menyimpan secercah harapan.
Mereka percaya, jika listrik benar-benar sampai ke desa, akan ada penduduk yang kembali.
“Dengan cahaya, kami bisa membangun masa depan,” kata Pedro penuh keyakinan.
Rosa pun tak pernah benar-benar meninggalkan optimisme.
Saat ditanya kenapa tetap tinggal di desa yang gelap, ia menjawab singkat, “Karena matahari. Di sini, kami selalu punya matahari.”
Mengapa Akses Energi Adil Itu Penting?
Kisah Pampa Clemesi menjadi pengingat bahwa transisi energi tidak hanya soal teknologi, tetapi juga soal keadilan distribusi.
Energi terbarukan seharusnya tidak hanya menguntungkan kota-kota besar atau perusahaan, melainkan juga masyarakat kecil di sekitar sumber energi.
Tanpa akses listrik, kesenjangan sosial dan ekonomi semakin melebar.
Anak-anak sulit belajar di malam hari, kesehatan terganggu, dan ekonomi desa tidak bisa berkembang.
Ironi desa di Peru tanpa listrik ini menunjukkan bahwa energi bersih hanya berarti jika mampu memberi kehidupan yang lebih baik untuk semua orang.
(*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Ironi Desa di Peru, Tak Tersentuh Listrik meski Dekat Kompleks Panel Surya Raksasa
* Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
* Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp
!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!
ironi desa di Peru tanpa listrik
desa tanpa listrik dekat PLTS
Pampa Clemesi Peru
energi terbarukan Amerika Latin
akses listrik pedesaan
panel surya Peru
krisis energi dan keadilan sosial
| Viral Larangan Guru Non-ASN Mengajar Tahun 2027, Kemendikdasmen Buka Suara |
|
|---|
| Aksi Nekat Baby Sitter Culik Balita 17 Bulan Digagalkan Polisi di Pelabuhan Merak |
|
|---|
| Viral Anak Panti Asuhan Disuruh Pindah Sekolah Gara-gara Tunggakan Seragam |
|
|---|
| Detik-detik Akhir Pelarian Kiai Tersangka Pencabulan Santriwati, Diciduk Polisi di Persembunyian |
|
|---|
| Viral Aksi Freestyle Berujung Maut, Bocah 8 Tahun Tewas Patah Leher |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/Ironi-Desa-di-Peru-Tanpa-Listrik-Meski-Dekat-PLTS-Raksasa-2025.jpg)