Menanti Sinyal 5G di Bumi Khatulistiwa, Mengangkat Wastra Lokal ke Panggung Internasional

Bicara digitalisasi, peran internet sangat penting bahkan untuk di daerah. Jaringan harus bagus dan cepat termasuk di pelosok

Penulis: Nina Soraya | Editor: Nina Soraya
DOK/TRIBUN PONTIANAK
DIGITALISASI UMKM - Pendiri Galeri Kain Pantang Sintang Hetty Kus Endang (tengah) bersama pengunjung yang tertarik belajar menenun di Galeri Kain Pantang, Sintang Kalimantan Barat,beberapa waktu lalu. Bagi Hetty Kus Endang pelaku UMKM perlu pula dukungan jaringan internet 5G untuk mendukung digitalsasi UMKM tersebut. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Menjelang perhelatan Eco Fashion Nusantara pada 1 Agustus 2025 di Ibu Kota Nusantara (IKN) Kalimantan Timur, Hetty Kus Endang tampak fokus mendadani para model dengan busana berbahan dasar wastra lokal Kain Pantang. 

Sejak pertengahan Juli 2025 lalu, Hetty Kus Endang pendiri Galeri Kain Pantang Sintang dan Yayasan Rumah Belajar Kain Pantang di Kalimantan Barat sekaligus desainer mendapat kehormatan untuk berpartisipasi dalam Eco Fashion Nusantara 2025 pada rangkaian Congress of Indonesian Diaspora (CID-8) yang diselenggarakan di wilayah Ibu Kota Nusantara. 

“Saya siapkan 10 busana yang akan ditampilkan para model termasuk model dari Australia. Mereka akan pakai wastra teknik lilit, lalu nanti ada tampilan blouse yang simple,” ungkap Hetty kepada TribunPontianak.co.id, Kamis 31 Juli 2025.

Di tengah segala kesibukan dan tekanan waktu, semangat Hetty  tetap menyala. Ia tahu, di setiap helai kain yang akan berjalan di panggung IKN nanti, terselip doa, kerja keras, dan identitas kampung halamannya yang ia bawa dengan sepenuh hati.

Kain Pantang Sintang adalah kain tenun tradisional khas suku Dayak yang berasal dari Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Kain ini dibuat dengan teknik tenun ikat secara manual oleh pengrajin perempuan di pedalaman Sintang, Kalimantan Barat.

SIMPATI HOKI: Undian Telkomsel Berhadiah Mobil dan Liburan

Hetty Kus Endang mengaku sudah tidak  asing dengan kain Pantang. Sejak kecil, dirinya sudah ikut membantu orang tuanya dalam proses membuat kain Pantang, terutama saat mewarnai benang untuk ditenun, yang dalam bahasa daerah setempat dikenal dengan sebutan pantang.

Keterikatannya, bermula dari rasa prihatin terhadap masa depan kain Pantang, karena anak-anak muda kurang tertarik untuk menenun. Makanya pada 2023, ia mulai serius untuk mengembangkan dan melestarikan kain tersebut. 

Upaya yang dilakukan dengan mendirikan rumah belajar kain pantang Sintang yang terletak di kawasan suka maju, Sungai Durian, Sintan, Kalbar.

Rumah Belajar Kain Pantang Sintang sendiri merupakan sebuah tempat yang dibuat oleh Galeri Kain Pantang Sintang untuk memberikan edukasi proses membuat kain tenun ikat sintang (kain pantang) kepada siapa saja yang memiliki ketertarikan kepada budaya menenun (memantang).

Di rumah belajar kain pantang sintang, pengunjung bisa melihat bagaimana proses memantang (menenun) mulai dari awal masih berupa benang hingga menjadi selembar kain.

Tempat tersebut bisa menjadi rumah belajar bagi pelajar, mahasiswa dan masyarakat yang memiliki minat pada proses pembuatan kain pantang sintang.

Karya dari Galeri Kain Pantang Sintang ini pun pernah dipakai langsung oleh Presiden Joko Widodo saat menghadiri World Water Forum ke-10 di Bali pada Mei 2024 lalu.

Telkomsel RoaMAX Temani Pesepeda Lintas Borneo Enduride Tempuh 1.500 Km

Beragam ajang nasional dan internasional telah dihadiri oleh Hetty untuk mengenalkan Kain Pantang Sintang.

Dia mengaku merasakan manfaat digitalisasi bagi usahanya. Penerapan secara digital yang ia lakukan adalah membuat konten semenarik mungkin sesuai dengan produk yang ada.

Lalu proses pemesanan juga dilakukan secara digital sehingga memudahkan pelanggan bahkan pelanggan lebih nyaman dalam proses transaksi. 

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved