Hormati Leluhur, PSMTI Kalbar Sebut Cengbeng Kini Bisa Dilakukan di Rumah
"Sehingga saya bisa cetak kapan saja dan bisa saya pakai dan itu sudah saya share ke keluarga saya yang lain sehingga mereka yang tidak bisa hadir tet
Laporan Wartawati Tribun Pontianak, Ayu Nadila
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Mengalami perubahan sejak pandemi COVID-19, Tradisi Cengbeng tidak hanya dilakukan di pemakaman tetapi juga dapat dilakukan dirumah, Jumat 21 Maret 2025.
Wakil Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Provinsi Kalimantan Barat Andy Kurniawan Bong mengatakan pola hidup manusia mengalami perubahan, termasuk dalam perayaan Cengbeng.
"Waktu itu himbauan dari pemerintah bahwa kita cengbeng dari rumah dan ini berlanjut bahwa kita bisa mengadakan tidak di makam, tapi ada di rumah maupun di tempat tinggal kita masing masing baik yang ada di Pontianak maupun diluar pontianak," ujar Andy Kurniawan di rumahnya di Jl Purnama, Komplek Purnama Agung 2, Pontianak Selatan.
Untuk mendukung tradisi ini, berbagai elemen Cengbeng telah didigitalisasi, termasuk tulisan-tulisan yang diperlukan.
"Sehingga saya bisa cetak kapan saja dan bisa saya pakai dan itu sudah saya share ke keluarga saya yang lain sehingga mereka yang tidak bisa hadir tetap bisa print dan mereka bisa melakukan seperti kita di sini," tambah Andy.
Andy mengungkapkan adanya perbedaan utama antara Cengbeng di rumah dan di makam terletak pada lokasi, suasana, serta kepraktisan.
• Rumah Milik Alfiansyah Warga Pontianak Tiba-tiba Ambruk ke Sungai Kapuas
"Kalau kita di lokasi kan ada kemungkinan kemacetan lalu lintas karna banyak juga yang mau sembayang, kalau kita dirumah ya lebih leluasa , cuma masih ada orang yang inginnya ke makam nah itu hak masing-masing," jelas Wakil Ketua PSMTI Kalbar ini.
Tahun ini, Andy mengungkapkan perayaan Cengbeng berlangsung dari 21 Maret hingga 5 April 2025.
Andy menjelaskan cuaca juga menjadi faktor yang mempengaruhi jalannya sembahyang di pemakaman.
"Di lokasi pemakaman kalo hujan itu jadi tantangan buat kita karena di sana tidak ada tempat berteduh, bahkan ada yang bawa payung sendiri ataupun bikin tenda sendiri," kata Andy yang juga sebagai dosen di Universitas Tanjungpura.
Dalam prosesi sembahyang, terdapat nasi putih dalam mangkuk dengan sumpit yang ditancapkan tegak lurus sebagai sesajian bagi leluhur atau yang telah tiada.
Andy menjelaskan tata krama penggunaan sumpit ini menjadi simbol penting, karena bagi orang yang masih hidup, sumpit tidak boleh ditancapkan tegak lurus agar tidak menyinggung atau melanggar pantangan.
Ia menambah kan dupa juga menjadi bagian penting dalam sembahyang. Setiap individu menyalakan dupa sebagai bentuk penghormatan, termasuk kepada Dewa Tanah.
Jika ada delapan leluhur yang dikenang, maka dupa yang disiapkan berjumlah 27 batang, termasuk tambahan untuk Dewa Tanah.
| Inovasi Tak Boleh Berhenti, Kanwil Kemenkum Kalbar Bedah Regulasi Paten Terbaru Melalui IP Talks |
|
|---|
| Polresta Pontianak Gelar Rapat Koordinasi Pengamanan Kegiatan Naik Dango ke-III |
|
|---|
| Bupati Ketapang Terbitkan Surat Edaran, Perusahaan Diminta Prioritaskan Tenaga Kerja Lokal |
|
|---|
| Super Puma Dikerahkan Guna Evakuasi Korban Helikopter di Sekadau Kalbar |
|
|---|
| Unit Opsnal Reskrim Polsek Pontianak Selatan Amankan Terduga Pelaku Penggelapan Motor |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/Kurniawan-saat-berpose-bersama-keluarga2342.jpg)