Kisah Warga Teluk Karang Sedau Singkawang Hasilkan Terasi

"Saya menjemur bubuk udang (rebon) sejak pagi, ini untuk bahan baku membuat terasi belacan," ujar Anis, yang juga seorang ibu rumah.

Penulis: Imam Maksum | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/IMAM MAKSUM
Warga Teluk Karang Sedau, Kecamatan Singkawang Selatan, Kota Singkawang, menjemur udang rebon. Di bawah terik sinar matahari merupakan proses awal pengolah udang menjadi terasi. Masyarakat Teluk Karang menyebut terasi dengan istilah belacan, Sabtu 3 Agustus 2024. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINGKAWANG - Musim udang rebon yang melimpah menghasilkan rezeki tambahan masyarakat Teluk Karang, Sedau, Kota Singkawang yang berprofesi sebagai nelayan.

Udang rebon yang didapat dari laut pesisir kemudian diolah dengan cara tradisional untuk dijadikan terasi atau belacan.

Jemari Anis (53) tampak cekatan mengurai udang rebon yang dijemur di atas lantai penjemuran Teluk Karang Sedau, Sabtu 3 Agustus 2024. Siang itu terik matahari menyengat.

Warga Teluk Karang Kelurahan Sedau, Singkawang Selatan ini tampak sibuk. Bersama dengan beberapa warga lain, ia menjemur udang rebon yang baru saja didapat nelayan.

"Saya menjemur bubuk udang (rebon) sejak pagi, ini untuk bahan baku membuat terasi belacan," ujar Anis, yang juga seorang ibu rumah.

Peringati Hari Anak Nasional, Srikandi PLN Grup Kalbar Mengajar di SDN 67 Singkawang

Anis bilang, proses menjemur udang rebon ini tahap awal untuk mengolah bahan baku sebelum menjadikannya belacan atau terasi.

"Ini proses pembuatan belacan atau terasi dari bubuk udang rebon. Tunggu dia sudah kering nanti akan diolah, udang kering akan dijadikan terasi," kata Anis.

Anis menjelaskan, untuk menjadikan belacan yang berkualitas paling tidak udang rebon dilakukan dua kali proses jemur. Penjemuran harus dilakukan saat panas terik.

"Udang rebon biasanya dua tahap penjemuran untuk bisa dijadikan belacan. Setelah kering ditumbuk, lalu dijemur lagi, itu prosesnya dua kali pengolahan," tuturnya, sambil sesekali mengelap keringat yang menetes.

Bila cuaca terik panas, imbuh Anis, dalam waktu setengah hari proses jemur pertama sudah selesai. Dilanjutkan proses penggilingan.

"Bisa digiling dengan mesin yang ada tersedia, biasanya juga ditumbuk pakai alat tradisional," katanya.

Dia menuturkan, proses menjemur udang pertama juga sekaligus memilah-milah. Karena bila udang tercampur ikan atau ada benda seperti kerang maka mempengaruhi kualitas terasi yang dihasilkan.

"Dipilih bila ada campuran ikan akan dibuang, terasi akan hitam kalau tercampur dengan ikan. Supaya udang untuk terasi juga berkualitas," ucapnya.

Udang yang sudah kering lalu akan ditumbuk, atau digiling menggunakan mesin. Kemudian dijemur kembali, kata Anis, inilah proses jemur kedua.

"Dijemur ulang, setelah itu baru kemudian digiling lagi atau ditumbuk untuk dijadikan belacan," katanya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved