Ingin Sintang Jadi Kota Literasi, Yustinus Minta Ini pada Guru
"Katanya baru ada 200 peserta, tentu ini sangat kurang. Jumlah guru hampir 5 ribu orang, honor dan negeri. Tentu masih segelintir yang mau punya keing
Penulis: Agus Pujianto | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang, Yustinus meyakini Sintang bisa jadi kota literasi apabila para guru menanamkan sejak dini budaya membaca dan menulis pada peserta didiknya.
Keinginan itu disampaikan Yustinus saat menghadiri launching buku peserta Indonesia Cakap Litrerasi Program Organisasi Penggerak (ICL POP) Forum Indonesia Menulis (FIM) dan Sintang Menulis di Pendopo komplek rumah dinas Bupati Sintang, Senin 11 Desember 2023.
Buku yang dilaunching merupakan karya para guru dan kepala sekolah yang ada di Kabupaten Sintang. Mulai dari buku antologi hingga buku sejarah.
Menurut Yustinus, jumlah guru yang ikut kelas menulis masih kurang banyak. Oleh sebab itu, dia mendorong supaya para guru baik honorer maupun PNS juga ikut kelas menulis.
• Harysinto Linoh Dorong Guru di Sintang Tanamkan Gerakan Menulis ke Peserta Didik
"Katanya baru ada 200 peserta, tentu ini sangat kurang. Jumlah guru hampir 5 ribu orang, honor dan negeri. Tentu masih segelintir yang mau punya keinginan untuk membaca dan menulis," ungkap Yustinus.
Guru sebagai penggerak kata Yustinus harus menanamkan gerakan membaca dan menulis pada peserta didiknya di sekolah. Kalau untuk masyarakat umum kata Yustinus, agak berat karena sudah terkontaminasi teknologi.
"Membaca dan menulis itu berat tapi di sinilah kita sebagai penggerak membawa generasi muda untuk mulai membaca, menulis. Saya mengajak pada semua guru kita bawa dari dasar kalau sudah dilakukan dilakukan dini saya yakin 5 tahun kedepan Sintang akan dikenal sebagai kota literasi," beber Yustinus.
Yustinus juga berharap, para guru juga menulis soal penelitian tindakan kelas. Sehingga, ada banyak literasi soal pendidikan di Kabupaten Sintang.
"Guru bisa membuat kegiatan menulis analisis belajar. Penelitian tindakan kelas. Itu penting. Kita mempelajari karakter. Tidak hanya antologi. Tentu kedepan makin banyak guru terpanggil berkarya terutama dalam berliterasi mulai dari sekolah. Sehingga kita bisa menjadi contoh bagi bagi yang lain," harap Yustinus. (*)
Ikuti Terus Berita Lainnya di Sini
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/Yustinus-menghadiri-launching-buk23ewf.jpg)