520 Petani Indonesia Menuju Sertifikasi RSPO Bersama Program Sawit Terampil
Petani swadaya mengelola 41 persen area perkebunan kelapa sawit di Indonesia, menjadikan mereka kontributor utama dalam....
Nassat Idris, Chairman of Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (IDH), juga mengatakan pemberdayaan petani merupakan tujuan yang hendak dicapai melalui program Sawit Terampil.
"Dukungan IDH untuk program Sawit Terampil sejalan dengan tujuan kami untuk memfasilitasi kemitraan dan menyatukan pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih baik, pendapatan yang lebih baik, dan lingkungan yang lebih baik,” ungkapnya. Ia pun berharap dapat terus bekerja sama dengan berbagai pihak untuk hasil yang semakin baik.
Sesi pelatihan telah memberikan hasil materi yang dapat membantu mendukung mata pencaharian petani dengan meningkatkan hasil panen mereka, mengurangi biaya input, dan meningkatkan efisiensi pertanian.
Data Sawit Terampil menunjukkan bahwa petani yang telah mengikuti pelatihan mengalami peningkatan produktivitas perkebunan rata-rata sebesar 14 persen, dari 18,5 ton/ha/tahun menjadi 21,02 ton/ha/tahun, dengan jumlah pohon per hektar yang tetap.
Kabupaten Langkat mengalami peningkatan produktivitas tertinggi sebesar 19 persen. Rata-rata produktivitas perkebunan rakyat secara nasional adalah 9,6 ton/ha/tahun.
Salah satu peserta program Sawit Terampil dari Kabupaten Langkat, Ardiyanto, merasakan manfaat positif dari keikutsertaannya.
"Sejak saya bergabung dengan Program Sawit Terampil, saya belajar tentang di mana saya bisa dan tidak bisa menanam kelapa sawit karena legalitas lahan, atau area dengan karbon tinggi.
Sebelumnya, kami pikir kami dapat menanam kelapa sawit di mana saja karena berada di lahan kami," ucapnya.
Petani lain dari daerah yang sama, Sutiyem, mengatakan praktik budi daya dan hasil usahanya semakin baik setelah mengikuti program Sawit Terampil.
"Saya telah mengatakan kepada teman-teman saya yang tidak bergabung dengan Sawit Terampil bahwa saya telah melihat banyak kemajuan dalam pendapatan saya dari perkebunan kelapa sawit. Sebelum saya mengikuti program ini, hasilnya sangat jauh berbeda dengan yang saya lihat sekarang. Dulu hasilnya hanya 700-800 kilogram per bulan, tapi alhamdulillah sekarang sudah mencapai lebih dari 2 ton,” tutupnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/520-petani-indonesia-menuju-sertifikasi-rspo-bersama-program-sawit-terampil-2.jpg)