Kadisbunnak Kalbar: Di 2023 Ternak Babi yang Dilaporkan Mati Capai 93.691

Penyakit ASF yang disebabkan virus yang sangat menular dan menyebabkan kematian yang tinggi pada ternak babi dan belum ditemukan vaksin ataupun obatny

TRIBUNPONTIANAK/Marpina Sindika Wulandari
Kandang babi milik peternak babi di Kabupaten Sekadau, Kalbar, Jumat 18 Februari 2022. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Provinsi Kalbar, Heronimus Hero mengatakan pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Balai Karantina Pertanian Kelas I Pontianak dan berkolaborasi untuk bersama-sama melakukan pengawasan lalu lintas hewan, produk hewan dan media pembawa penyakit hewan lainnya sesuai dengan kewenangan masing-masing.

Hal ini dalam rangka pencegahan dan pengendalian penyakit hewan menular strategis di Provinsi Kalbar. Seperti diketahui terjadi penurunan drastis stok ternak babi di Kalbar lantaran penyakit African Swine Fever (ASF).

Penyakit ASF yang disebabkan virus yang sangat menular dan menyebabkan kematian yang tinggi pada ternak babi dan belum ditemukan vaksin ataupun obatnya masuk di Kalbar pada 21 September 2021 sesuai hasil uji Laboratorium Balai Veteriner Banjarbaru Nomor 21001/PK.310/F.5.E/09/2021.

Wali Kota Edi Kamtono Ungkap Jumlah Wanita di Pontianak Lebih Banyak dari Laki-laki

"Sampai saat ini (2023) total ada 11 Kabupaten/Kota sudah dinyatakan tertular oleh penyakit ASF kecuali Kabupaten Sambas, Kayong Utara dan Kota Pontianak. Jumlah ternak babi yang dilaporkan mati mencapai 93.691 ekor, meskipun kondisi dilapangan melebihi itu karena sebagian masyarakat tidak melaporkan kematian ternaknya," ujarnya Kamis 25 Mei 2023.

Akibat dari penyakit ASF, terjadi penurunan populasi ternak babi secara drastis di Kalbar.

Data tahun 2021 (sebelum wabah) populasi babi di Kalbar mencapai 470.186 ekor dan data akhir tahun 2022 populasi babi hanya tinggal sekitar 67.809 ekor.

Hero mengatakan kejadian pertama kali terjadi di Kabupaten Kapuas Hulu pada babi hutan dan penyakit tersebut menyebar secara cepat ke Kabupaten kota sekitar.

Pada Agustus sampai Oktober 2022 terjadi kasus penyakit ASF yang menginfeksi Perusahaan Pembibitan Babi (PT Fajar Semesta Indar) di Kota Singkawang dan kematian di peternakan tersebut mencapai kurang lebih 21.000 ekor.

"Nah, kesulitan pencegahan dan pengendalian ASF adalah karena penyakit ini sangat menular dan mematikan dan sampai saat ini belum ditemukan vaksin maupun obatnya. Penyuntikan serum konvalesen yang telah dilakukan di wilayah yang terkena wabah juga tidak efektif mencegah kematian babi," ujarnya. (*)

Ikuti Terus Berita Lainnya di Sini

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved