Pasar Beringin Singkawang Yang Semakin Tenggelam Karena Pasar Online
Tak hanya Virus Covid-19 yang menganggu aktivitas pasar rakyat, Beni juga mengeluhkan para pelanggan nya lebih memilih berbelanja di Pasar Online.
Penulis: Zulfikri | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINGKAWANG - Pasar Beringin Singkawang yang semakin tenggelam karena pasar online.
Dibangun pada tahun 1973, Pasar Rakyat Beringin merupakan pasar tertua di Kota Singkawang.
Terletak di Kelurahan Condong Kecamatan Singkawang Tengah dan Kelurahan Pasiran Kecamatan Singkawang Barat.
Tidak hanya memenuhi permintaan pasar di Kota Singkawang saja, Pasar Beringin juga memenuhi permintaan pasar di kabupaten yang berbatasan langsung dengan Kota Singkawang seperti Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Sambas.
Berdasarkan Reportase Tribun Pontianak, Sabtu 8 April 2023. Kondisi hari ke 18 Ramadhan 1444 H terlihat sepi, tak banyak pengunjung mendatangi pasar beringin untuk berbelanja.
Baca juga: Toko Online Menjamur, Omzet Pedagang Tradisional Tergerus
Pemilik toko Pakaian Nina Indah Pasar Beringin Singkawang, Beni Gunawan mengatakan pasar beringin sempat menjadi Primadonanya Kota Singkawang. Bahkan penghasilannya bisa mencapai jutaan rupiah di setiap harinya jika momentum hari raya.
"saya buka toko sudah 48 tahun dari tahun 1975, kalau dulu jika mendekati hari besar islam seperti sekarang ini bisa 5 sampai 6 jutaan," ucapnya saat ditemui Tribun Pontianak di Pasar Beringin Singkawang Kalimantan Barat, Sabtu 8 April 2023.
Namun karena Virus Covid-19 menyerang, kondisi Pasar Beringin berubah derastis.
Beni sempat menutup tokonya selama 5 bulan, bahkan di momentum mendekati Idul Fitri ia tetap menutup toko pakaiannya.
"Waktu saat covid mencekam itu saya tutup toko selama 5 bulan itu tahun 2020 tahun raya idul fitri juga saya tidak buka karena takut kan sama covid istri saya bilang tidak usah buka takut nanti terkena covid," kata Beni.
Kepada Tribun, Beni mengungkapkan dari awal Covid-19 sampai sekarang tidak ada kestabilan penghasilan, hasil Rp. 1.000.000 perhari itupun kalau benar-benar rame.
"Sejak COVID-19 kira-kira 2021 lah hancur total, Paling tinggi kemarin pas hari besar cina 500 sampai 600, satu baju sama celana kan udah 100 lebih," paparnya.
Di hari biasa, penghasilan Toko pakaian Nina indah hanya Rp. 200. 000 - Rp. 300. 000 saja.
"Pernah juga saya sehari cuman dapat 150 saja kadang juga gak laku gak ada yang bel," katanya.
Karena pengeluaran nya lebih banyak dari pada pemasukan, terjadi pengurangan karyawan yang dilakukannya demi menjaga kestabilan toko.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/Beni-080423-zul.jpg)