Khazanah Islam
Arti Hadist, Sunnah, Khabar dan Asar dalam Hukum Islam
Bagi muslim yang beriman dua pusaka tersebut merupakan sumber dari hukum islam.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Jelang rasul mewasiatkan pada umatnya untuk berpegang teguh pada Alquran dan Hadist.
Rasulullah saat itu berkata bahwa jika manusia memegang teguh dua pusaka itu takkan tersesat selamanya.
Bagi muslim yang beriman dua pusaka tersebut merupakan sumber dari hukum islam.
Hadist juga dijadikan sumber hukum Islam kedua setelah Alquran.
Di dalam hukum Islam terdapat istilah yang hampir mirip yakni Hadist, Sunnah, Khabar dan Asar.
• Arti dan Penjelasan Zuhud yang Dianjurkan Rasulullah Materi PAI dan Budi Pekerti Kelas 11 SMA
Apakah pengertian dari istilah tersebut.
Berikut penjelasan lengkapnya.
Sunnah
Sunnah merupakan semua yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW baik perkataan, perbuatan, taqrir, tabiat, budi pekerti atau perjalanan hidupnya.
Hadist
Hadist merupakan perkataan, perbuatan, dan taqrir yang bersumber Nabi Muhammad SAW Ada pula ulama yang menyamakan sunah dengan Hadist.
Khabar
Sesuatu yang berasal atau disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW dan selainnya.
Asar
Asar dimaknai sebagai sesuatu yang disandarkan pada sahabat dan tabiin.
Secara garis besar terdapat empat fungsi Hadis terhadap Alquran, sebagai berikut:
1) Bayan al-Taqrir disebut juga dengan Bayan al-Ta’kid dan Bayan al-I bat.
Bayan al-Taqrīr adalah menetapkan dan memperkuat apa yang telah diterangkan di dalam Alquran.
Fungsi Hadis itu memperkokoh isi kandungan Alquran.
• Bagaimana Cara Suami Rujuk dengan Istri? Arti dan Penjelasan Rujuk dalam Islam
2) Bayan al-Tafsir adalah penjelasan terhadap ayat-ayat yang memerlukan perincian atau penjelasan lebih lanjut, seperti pada ayat-ayat mujmal (umum/ global),
mutlaq (tidak mempunyai batasan), dan ‘am (umum), sehingga fungsi Hadist ini adalah memberikan perincian (tafsir)
dan penafsiran terhadap ayat-ayat yang masih mutlak dan memberikan takhsiis (pengkhususan) terhadap ayat-ayat yang masih umum.
3) Bayan al-Tasyri’ adalah memberikan kepastian hukum Islam yang tidak ada di Al-Qur’an. Biasanya Al-Qur’an hanya menerangkan pokok-pokoknya saja, contohnya zakat fitrah.
4) Bayan al-Nasakh secara bahasa berarti ibtal (membatalkan), izalah (menghilangkan), tahwiil (memindahkan) dan tagyiir (mengubah).
Bayan al-Nasakh adalah membatalkan ketentuan terdahulu, sebab ketentuan yang baru dianggap lebih maslahat. (*)
Disclamair : Isi redaksi dan pembahasan materi diatas dilansir dari buku siswa mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas 7 SMP Terbitan Kemendikbudristek tahun 2017.
Simak Berita terkait Khazanah Islam Tribun Pontianak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/Hadist-juga-dijadikan-sumber-hukum-Islam-kedua-setelah-Alquran.jpg)