Implementasi Sistem Integrasi Kelapa Sawit dan Sapi di Kalbar Disebut Dapat Jadi Potensi
Hal ini menunjukkan adanya potensi sinkronisasi antara perkebunan sawit dan peternakan sapi dengan implementasi sistem integrasi kelapa sawit dan sapi
Penulis: Ferlianus Tedi Yahya | Editor: Faiz Iqbal Maulid
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kalimantan Barat merupakan wilayah perkebunan sawit terbesar kedua di Indonesia. Selain itu, populasi sapi di Kalimantan Barat juga sangat banyak.
Hal ini menunjukkan adanya potensi sinkronisasi antara perkebunan sawit dan peternakan sapi dengan implementasi sistem integrasi kelapa sawit dan sapi (SISKA).
Sekaligus pengembangan pemanfaatan limbah sawit sebagai sumber pakan sapi untuk pemenuhan kebutuhan pakan sapi, baik secara kualitas dan kuantitas.
Kepala Dinas Perkebunan dan Pertanian Provinsi Kalimantan Barat Muhammad Munsif, sistem integrasi kelapa sawit dan sapi ini dapat menjadi sebuah potensi di Kalimantan Barat.
"Ini sesuatu yang sangat potensial dan sangat efektif di Kalimantan Barat," katanya saat menghadiri acara Tribun Pontianak Podcast pada Sabtu, 10 Desember 2022.
• Perusahaan Perkebunan Sawit PT Mandala Intan Jaya Disebut Tidak Beraktivitas Sejak Tahun 2019
• Kades Seriang di Badau Kapuas Hulu Tuding Perusahaan Perkebunan Sawit Tak Serius Berinvestasi
Munsif mengatakan untuk wilayah Provinsi Kalimantan Barat ini sendiri menjadi salah satu wilayah terbesar kedua di Indonesia.
"Untuk wilayah perkebunan sawit itu kita menjadi wilayah terbesar nomor dua untuk Nasional, karena angka kita sekarang 2 juta sekian," katanya.
Ia juga memberikan perumpamaan dimana sawit disebut sebagai tuan rumah dan sapi itu adalah tamunya.
"Integrasi itu dalam bahasa sederhana, kita coba kembangkan peternakan sapi itu dengan perkembangan integrasi itu dimana sapi hidup dan berkembang biak di lahan sawit dengan konsep sapi sebagai tamu dan sawit sebagai tuan rumahnya," katanya.
"Sapi disini menjadi tamu merupakan suatu kehormatan memberikan manfaat sedangkan tuan rumah itu tentu tidak dirugikan mereka karena menyediakan pakan mungkin dari limbah industrinya dan ini menjadi sangat menarik jika dikembangkan," tambahnya.
Di sisi lain, dengan adanya hal tersebut untuk persoalan lahan peternakan sapi sendiri menjadi lebih efektif karena tidak memerlukan lahan baru.
"Lahan untuk bidang peternakan juga saat ini bisa diatasi karena tidak perlu lagi lahan baru, tapi bisa memaafkan lahan kebun sawit bahkan menyediakan pakannya," katanya.
Dengan banyaknya kebutuhan daging sapi di Kalimantan Barat, dimana saat ini masih sering melakukan import peternakan sapi sehingga integrasi kelapa sawit menjadi tertarik untuk dikembangkan.
Cek berita dan artikel mudah diakses di Google news